23.4.12

balai ajar tegal arum, panggilan borobudur


Dalam perjalanan ke borobudur sabtu kemarin, setelah memberikan seminar singkat di universitas negeri semarang tentang mengupayakan arsitektur untuk kelestarian alam, budaya, lingkungan, sambil terkantuk-kantuk setengah tertidur setengah bangun tersuguhi pemandangan luar biasa indah persawahan terasering dengan latar belakang perbukitan antara salatiga dan magelang, tiba-tiba saja saya terigat balai ajar tegal arum. Salah satu program untuk ‘merajut bambu seribu candi untuk kemanusiaan’ di desa-desa sekitar borobudur.

Sebelumnya saya tidak pernah ke tegal arum, tidak tahu lokasi seperti apa, hanya membaca laporan2 estafet dari yang bertugas di lokasi tentang proses perlunya balai ajar ini, yang desainnya belum juga diputuskan secara pasti. Dalam waktu sesaat antara sadar dan tidak itu (karena kurang tidur), tergambar di benak tentang instalasi balai ajar yang mengelilingi sebuah pohon.



sketsa potongan instalasi media ruang stupa payung

Bentuknya seperti stupa, tetapi stupa yang telah terbuka, sebagian dindingnya terangkat ke atas menjadi atap. Pohon di tengah sebagai puncak stupa. Juga seperti payung, sebagian payungnya menukik sampai ke tanah. Stupa sebagai payung untuk warga yang akan beraktivitas di bawahnya.

Sesampai di lokasi, berbagai kemungkinan masih belum pasti berhubungan dengan lokasi lahan balai ajar. Tapi sepintas saya sudah melihat ternyata memang di dua alternatif kemungkinan lokasi itu ada pohon besar. Setelah diputuskan oleh warga tegal arum malam sabtu, minggu pagi kami langsung ke lokasi. Sabtu malam teman-teman relawan dipimpin chairil, arsitek lulusan malang, telah membuat maketnya, setelah berkonsultasi lewat telepon dengan pak paulus mintarga tentang desain instalasi balai ajar ini. Minggu pagi itu saya hanya memperbaikinya sedikit saja.



maket stupa payung

Maket dibawa dan ditunjukkan kepada warga yang sedang kerja bakti mempersiapkan lokasi balai ajar ini, saya menyusul kemudian. Sampai di sana, lokasi sudah mulai bersih, lalu terpampanglah di hadapan saya halaman berupa kebun yang cukup luas dengan pepohonan di dalamnya. Satu pohon agak di tepi tempat masuk. Lahannya persis sesuai ukuran stupa payung yang telah dibuat sebelumnya, walaupun lahan ini sebetulnya bukan yang kami ukur sabtu sore kemarin itu.

Saya dan teman2 relawan, arsitek dan kebanyakan mahasiswa, sangat dibantu beberapa orang warga. Mereka melihat maket pertama kalinya dan langsung merespon, tidak menolak, tetapi memberikan usulan lain. Stupa payung tidak bisa atau tidak cukup untuk balai ajar. Pak priyatno (prayitno?) bilang bahwa warga akan bingung, ini apa? Tidak seperti bangunan. Sebaiknya ada satu lagi. Ini difungsikan saja seperti panggung. Di sekelilingnya ada bangunan lain tempat warga beraktivitas, menghadap panggung. Selain untuk belajar, ini juga bisa difungsikan untuk aktivitas seni budaya warga yang telah lama tidak berjalan.

Secara luar biasa, pak priyatno memberikan arahan2 yang memperbaiki inisiatif saya ketika itu, tentang sudut pandang dan posisi stupa payung. Saya terkejut karena arahan-arahannya sangat tepat, sesuai konteks lahan dan hubungannya dengan kondisi lingkungan sekitar, sampai saya berujar: ‘bapak arsitek ya?”. Semua arahannya detail, posisi stupa payung diposisikan agak miring terhadap lahan, sudut lahan sebagai tempat masuk disambut stupa payung yang bagian payungnya akan menjadi gerbang penyambut. Aksisnya dari pohon sebagai pusat stupa payung ke sudut bangunan di samping mushola, agak ke timur di seberang lahan ini yang sebelumnya akan dipakai untuk lokasi balai ajar ini.

Dan kemudian ide bangunan lain, secara spontan akan berupa bangunan atap agak melingkar menghadap ke stupa payung. Sudut barat daya akan terbuka sesuai arahan pak prayitno agar rumah di sana dan jalan di selatan lahan bisa menjadi tempat untuk warga juga menikmati kegiatan di panggung stupa payung ini. Saya, chairil (yang sangat terampil dan banyak membantu untuk memimpin dan memikirkan teknis konstruksinya), teman-teman relawan lain, ada samuel, rojin, robani, rozali, juan, malik, yopie, suryo, dika, dan lain-lain yang tidak semua saya ingat (kemudian yudi , najib, dan kawan-kawan juga menyusul malamnya membantu konstruksi) membuat corat-coret panduan di tanah untuk ukuran stupa payung. Setelah selesai, segera ditentukan posisi balai ajarnya dan sambil makan kelapa yang baru dipetik saya berdikusi dengan malik, mahasiswa dari itenas, tentang penjor usulan atau pertanyaan malik kepada saya sebagai dinding balai ajar. Desain atap balai ajar segera saya ubah, dindingnya menyatu dengan atapnya akan berupa deretan penjor melengkung. Pohon pusat stupa payung sebagai pusat lingkaran ruang balai ajar. Dan secara mengejutkan, di lokasi telah ada sekitar 6 pohon yang posisinya persis sesuai dengan lingkaran yang dibuat di tanah.


sketsa  rencana tapak dan potongan balai ajar


hasil kerja tanpa tukang seharian, malamnya dilanjutkan kembali. pohon nangka di sudut kanan depan sebagai titik pusat stupa payung (2 kolom telah terpasang) dan balai ajar (satu penjor sebagai dinding atap telah terpasang, dengan balok-balok bambu ganda yang terikat pada pohon-pohon di bagian bawahnya

Pohon-pohon itu seperti telah sengaja ditanam di sana bertahun-tahun dan puluhan tahun sebelumnya untuk menjadi kolom kolom  balai ajar dengan stupa payungnya yang akan dibuat spontan hari ini. Mungkin, ketika setengah sadar di perjalanan itu, borobudur telah memanggil, mengirimkan inspirasi, mempersiapkan agar instalasi media ruang balai ajar tegal arum dapat segera dibangun esok harinya.

borobudur, 23 april 2012
yu sing


setelah 29 april…
masih tetap berjalan proses pembangunan baleajar di dusun tegalwangi, tegalarum. desain partisipatif yang dilakukan bersama-sama disempurnakan seiring berjalan waktu dan setelah 29 april, pelaksanaan didampingi mas hairil. berikut foto-foto proses baleajar. berikut apa yang disampaikan mas hairil:
"Balai Ajar Tegal Arum per kamis 10 Mei 2012
ada sedikit perubahan pada detail, misalnya seperti yang terlihat pada foto nomor 8, itu kan awalnya langsung diikatkan pada pohon, saya ubah seperti itu dengan alasan teknis saja, meratakan bambu agar nantinya mempermudah pemasangan reng atau bilah…
penjor pada payung bagian depan saya tambahkan lagi agar kesan pembentukan bidang atap lebih terasa…
lalu rencananya payung bagian belakang dijadikan ruang tertutup untuk menggantikan dome yang sebelumnya dibongkar…
lincak yang pada awalnya agak melengkung di bagian belakang diratakan, ini atas saran dari warga, agar duduknya lebih nyaman saja…"

dalam proses konstruksi, memang ada banyak perbaikan desain atas partisipasi dari pak eko prawoto, pak paulus mintarga, pak josef prijotomo, warga desa tegal arum, dan terutama peran luar biasa m.hairil juna putra yang terus mendampingi dan melakukan proses konstruksi serta memperbaiki dan melengkapi desain di lapangan bersama 1 orang tukang dan beberapa orang warga. foto-foto berikutnya dikirimkan ke email saya 30 mei 2012 oleh m. hairil juna putra. penjelasan foto oleh pak galih w pangarsa.



Siapa yang paling berhak atas nama? Pencantuman nama adalah untuk tanggungan-jawab arsitek, bukan popularitas

Pernaungan telah diberikan alam, manusia hanya perlu menambah sesuai kebutuhannya. Berlebihankah kita?

Yang canggih atau yang sahaja, intinya bagai rajutan. Ber-arsitektur, mesti merajut potensi, bergotong-royong

Arsitektur tidak akan bermanfaat, bila tak diiringi pengelolaan/pembinaan yg ketat 

Indahnya arsitektur juga ada pada energi-otot pelaku konstruksi, bukan hanya pada jejak energi-kreatif arsitek 

Pohon, bukan hanya unsur lansekap pada bahan bangunan. Tapi juga bisa berfungsi sebagai “living” kolom

Dalam keputusan desain, terkadang pertimbangan estetik mesti berdamai dengan keterbatasan waktu & biaya

Manusia tinggal “menindak-lanjuti” keindahan alam dengan bijak. Jika sudah ada kanopi pohon; tinggal memperkuat saja

Di hadapan sifat bahan konstruksi yg ringkih. Patutkah mns menyombongkan teknologi logikanya? 

Dengan arsitekturnya, manusia seperti menulis 1 rangkaian huruf pada “buku” yg sudah ada, yaitu alam. Bisa serasikah?

Garis2 bambu: bisakah serasi dg pepohonan yg tumbuh alami? Serasi bukan serupa, tapi juga bisa kontras

Ritme yg manusia susun hanya dapat mirip alam. Arsitek bukan “Pencipta”, tapi perajut unsur alam 

Bambu yg disusun terbalik. Secara visual OK. Sebaiknya, tata-energi meta-fisikanya diteliti lanjut 

Semoga anak Indonesia makin berpeluang untuk belajar (yang benar-baik-indah), pengajar muda mempelopori

Arsitek dituntut memikirkan kemudahan perawatan, bukan hanya kejar estetika 

Arsitek akhirnya merajut ruang dengan menetapkan batas2 yang disusun oleh berbagai unsur fisik  

Arsitek mesti kenali semua unsur fisik yg ditatanya. Misal, seberapa banyak pohon gerak bila kena angin? 

Arsitek juga mesti jeli antisipasi pepohonan. Misal, bagaimana resiko buah dan daun kelapa menimpa atap? 

Arsitek juga mesti “berdamai” dg pepohonan. Misal, bagaimana resiko sampah rontokan daun? 

Di Nusantara 2 musim, cukuplah buat pernaungan, bukan perlindungan seperti di daerah 4 musim 
Arsitektur Nusantara = ruang luar. Tak perlu “AC-tektur”. AC hanya solusi darurat 


Kepentingan perawatan adalah bagian dari mendedikasikan arsitektur untuk kemanusiaan, untuk warga 

Komposisi arsitektur yang baik adalah yang bisa merespon dinamika pandangan & gerakan dari berbagai skala 

Arsitek berkarya untuk diri sndiri atau untuk masyarakat? Tergantung arah hidup: manfaatkah ia untuk manusia & alam? 




4 komentar:

  1. Anonim24.4.12

    great idea !

    BalasHapus
  2. Halo kang, keren memang semesta ini. Saya juga pernah punya pengalaman mirip tentang "bahasa" pohon ini. Membangun rumah dan membiarkan tersebut untuk tak dipangkas. Setelah bangunan jadi (dengan perubahan desain sana-sini), baru saya tersadar, pohon dan bangunan membentuk garis maya yang kalo diteruskan menjadi garis pembagi dua bangunan, simetris. Hal ini sama sekali tidak diperhitungkan sebelumnya. Di saat itulah saya percaya, semesta bisa "berkomentar" pada desain kita, yang notabene juga bagian dari semesta.

    BalasHapus
  3. Anonim5.10.12

    Saya sangat tersentuh membaca pengalaman ini, kalimat yang menyertai setiap gambarnya, mememberikan ilmu arsitektur disatu sisi dan membangkitkan kecintaan akan lingkungan dan masyarakat di sisi lainnya. :)
    Ingin sekali bisa bergabung dengan kelompok2 seperti ini. :)

    BalasHapus
  4. @zorg, alam selalu lebih bagus kok =)
    @novita, ayo kapan2 bergabung. itu kalimat2nya pak galih w pangarsa =)

    BalasHapus