Tampilkan postingan dengan label perbaikan kampung kota. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perbaikan kampung kota. Tampilkan semua postingan

24.4.16

rumah susun untuk warga kampung (kota)

Rusun untuk warga kampung (kota).
Telah begitu banyak saya ikuti dan dengar. Seminar. Ruang kuliah. Forum diskusi kelompok. Baik di kampus, komunitas, maupun kementerian. "di banyak tempat dibangun wc umum. Agar warga tdk buang kotoran ke sungai, kali, atau sembarangan. Setelah dibangun..wc umum tidak dipakai. Banyak persoalan. Budaya. Perawatan. Dll."
Itu hal sangat sederhana. Buang kotoran dan air kencing. Tapi tidak bisa dianggap remeh. Pemberian ratusan juga buat warga bisa jadi sia2 hanya karena maksud baik tanpa diskusi dengan kelompok pemakai.
Bayangkanlah rumah susun. Warga kampung kota dengan ikatan sosial ekonomi budaya yang begitu kuat pada struktur kampungnya. Tiba2 dipindah gusur masuk unit2 rusun yang begitu saja. Rusun standar. Keterpaksaan tentu bisa membuat mereka bertahan. Tapi bila diajak diskusi..didengarkan..diajak mencari alternatif lain..tentu sangat berbeda.
Telah banyak keilmuan lahir tentang pembangunan partisipatif, perumahan vertikal seperti apa yang mungkin lebih cocok untuk warga kampung dilahirkan oleh banyak profesor. Berbagai akademisi dan praktisi dari berbagai negara pun kagum kalau mendengarnya. Konsultan sangat terkenal dunia pun bahkan mengeluarkan buku kampung vertikal dengan menyoroti kegagalan dan kemonotonan serangan menara2 seragam di berbagai negara asia yang miskin imajinasi keberagaman, fleksibilitas, dan ikatan sosial.
Namun. Sampai saat ini. Regulasi rusun masih sangat kuno. Tidak mampu dan belum ada regulasi yang memungkinkan kampung susun. Begitu pula maksud baik pemerintah sejak dulu. 1000 menara rusun yang kuno. Diseragamkan. Dianggap remeh. Diinstankan. Dibangun di mana2. Di kampus dunia pendidikan pun tidak terkecuali. Dana rusun untuk mahasiswa turun ke daerah. Ini dana pusat. Gambar dari pusat. Seragam. Tak peduli bentuk lahan. Tak peduli budaya lokal. Bangun rusun seragam.
Di kala banyak negara yang sudah terlanjur mengalami keseragaman lalu mulai mau perbaiki cari karakter kotanya masing2. Sudah terlambat. Tapi tetap berupaya. Pemerintah seolah menghianati dirinya sendiri. Menghianati nenek moyangnya sendiri. Yang manusia laut. Manusia kampung.
Hargailah kearifan lokal. Hargailah keberagaman. Hargailah kebinekaan. Bineka tunggal ika dihianati. Diseragamkan jadi rusun yang seolah menyelesaikan semua persoalan dan tidak ada solusi bisa lebih baik dari itu. Menghianati bahwa selama ini kota2 itu bisa berjalan karena jasa orang2 kampung kota dengan berbagai peran profesi informal yang dibutuhkan banyak orang yang bekerja di ruang2 formal.
Terbayang2 bencana massal menyongsong. Bukan belum terjadi. Ada rusun bagus jaman dulu di jakarta sudah ada yang kosong dan gagal. Padahal fisiknya bagus. Terbayang sesederhana kamar mandi saja warga tidak mau pakai bila ada alternatif dan gagal komunikasi. Bagaimana nanti dengan rusun2 itu? Apakah hidup manusia sesederhana ruang kotak? Melihatnya saja bangunan2 besar tinggi seragam begitu sudah bencana bagi keindahan kota. Bagaimana bagi kehidupan di dalamnya?
15 april 2016, yu sing. arsitek.

5.5.14

hotel rumahan

Studio akanoma sedang giat mengembangkan hotel rumahan. Sebetulnya bukan hotel, hanya kamar menginap. Seperti guest house/homestay/bed & breakfast. Agar lebih mudah, sebut saja hotel rumahan. Sebetulnya sudah dimulai sejak 2009, akanoma membantu seorang teman mendesain rumahnya di jalan rambutan, semarang. Lokasinya di tengah kota di dalam permukiman sederhana yang masih bersuasana kampung. Pada tahun 2013 rumah ini saya usulkan untuk dijadikan hotel rumahan. Saat ini sudah mulai beroperasi. Namanya rumah ranting. Silakan menjelajah situsnya di http://www.rumahranting.com/ .
tampak muka rumah ranting. banyak material bekas dipakai untuk membangun rumahnya.
foto2 rumah ranting oleh nico hilmydya

ruang sosial 




Kemudian pada tahun 2011, akanoma juga membantu desain rumah kos seorang teman di jalan semeru juga di kota semarang. Dalam diskusi dengan ibu kesi pemiliknya, pak paulus mintarga yang waktu itu calon kontraktornya, mengusulkan membuat hotel saja daripada rumah kos. Pak paulus punya pengalaman membuat hotel kecil dengan nama rumah turi di solo. Juga pada tahun 2013 djajanti house bed & breakfast sudah mulai beroperasi. Silakan lihat situsnya di http://djajantihouse.blogspot.com/ .


salah satu kamar hotelnya. foto diambil dari djanjantihouse.blogspot.com

salah 1 lampu samping ranjang dibuat dari teko bekas

di belakang setiap kamar ada balkon kecil. kalau di lantai 1 ada kebun. cahaya dan ventilasi alami di dalam kamar jadi cukup. pada saat cuaca baik, pendingin ruangan tidak perlu dinyalakan. beberapa rempah2 di pot juga bisa dipetik untuk membuat teh yang segar.
Pada tahun 2014 ini, akanoma sedang membantu renovasi desain sebuah rumah kecil di dalam gang luna, bandung, di atas lahan 90m2. Kemudian akanoma mengusulkan kepada pemiliknya untuk juga membuat hotel rumahan di atas rumahnya. Jadi rumah tinggal di lantai 1, hotel rumahan di lantai 2. Gang luna lokasinya sangat strategis di tengah kota, dekat dengan jalan cibadak dan kelenteng. Sekarang ada cibadak culinary night (programnya pemkot bandung) secara berkala yang dapat menambah daya tarik lokasinya. Lokasi lahan di dalam gang dengan permukiman padat justru menjadi potensi untuk mendapatkan ruang hidup yang sangat akrab dengan warga sekitar.
hotel rumahan di gang luna, cibadak, bandung yang sedang mulai dibangun. lantai 1 direnovasi kemudian ditambahkan lantai 2 untuk kamar2 tamu. atapnya pakai beton tipis yang rencananya sebagai tempat bercocok tanam, kemungkinan nanti pakai pot2an.



seluruh dindingnya akan dicoba pakai beton tipis dengan tulangan bambu. bentuk2 busur pada bukaan2 rumahnya sebagai solusi penyaluran beban dan kekakuan dindingnya.


Mimpinya, melalui hotel2 rumahan ini, pemilik dapat penghasilan tambahan dari rumah. Tetangga2 juga dapat bagian kalau berjualan makanan sehat yang enak. Atau membantu cucian tamu hotelnya. Interaksi tamu hotel rumahan dengan warga sekitar juga dapat menjadi positif. Bukan tidak mungkin bila ada tamu wisatawan asing, diajak pemilik rumah menyisihkan waktu 1 jam saja untuk mengajar bahasa inggris kepada anak2 tetangga. Atau bercerita tentang negara tempat tinggalnya untuk memberikan wawasan yang lebih luas. Dan bila tamu betah, akan dengan cepat mereka bercerita kepada teman2nya tentang hotel rumahan, yang relatif sederhana, tidak mewah, tetapi nyaman, sehat, dan bernuansa material lokal. Tentu juga lebih murah daripada hotel bisnis. Siapa tahu kemudian ada tetangga lain yang juga tertarik rumahnya dijadikan hotel rumahan. Maka kampung permukimannya dapat berkembang menjadi kampung tamu. Kampung penginapan. Kampung hotel rumahan. Kampung tamu.


Dalam kesempatan pendampingan paguyuban kali jawi bersama arkom (arsitek komunitas) di yogyakarta, bulan lalu saya ikut menjadi relawan mendampingi kampung notoyudan rt 90. Lokasinya dekat sekali dengan pabrik2 bakpia dan malioboro. Kampungnya cukup padat. Warganya berpenghasilan menengah ke bawah. Saya dan teman2 satu kelompok, berdiskusi dengan beberapa orang warga, mengusulkan dalam jangka panjang membuat kampungnya menjadi kampung tamu. Dengan membangun hotel2 rumahan seperti mimpi di atas. Jalan masih panjang. Mudah2an perlahan2 mulai terwujud.

suasana diskusi bersama warga malam-malam di gang kampung notoyudan rt 90

diskusi bersama warga dengan maket sebagai media komunikasi

maket usulan pengembangan kampung menjadi kampung tamu. warna jambon/merah muda itu kamar2 tamunya. beberapa rumah dijadikan panggung agar ada ruang terbuka lebih luas. beberapa rumah dipindah ke atas rumah keluarganya agar dapat ruang hijau baru.
Warga sangat bisa diajak bersama menjadi subyek. Bukan hanya menonton perkembangan kota dan hotel2 bertumbuh tanpa ikut menikmati menjadi lebih sejahtera. Laporan united nations world tourism organization di buku national geographic, sekarang volume bisnis pariwisata dunia sudah setara atau bahkan melampaui volume ekspor minyak, produksi makanan, atau mobil. Eko wisata memang saya percaya dapat menjadi jembatan bagi kesejahteraan masyarakat. Tentu dengan syarat masyarakat mau mengubah hidupnya menjadi lebih ramah lingkungan, lebih bersih, ramah & berteman kepada tamu, dan giat bekerja.

Oh ya, saat ini studio akanoma solo juga sedang menyiapkan renovasi rumah limasan untuk studio dan hotel rumahan. Lokasiya di gawok, sukoharjo. Sangat dekat dengan persawahan & pasar gawok yang sering jadi tempat kunjungan para fotografer dan turis. Jadi nanti teman-teman main ke solo, ada 3 kamar tamu tempat menginap dengan harga murah. Siapa tahu juga beberapa menu makanan sederhana hasil percobaan2 saya di rumah yang sering saya bagikan di instragram @iniyusing, nanti bisa dicicipi di hotel2 rumahan itu. Juga kopi teh enak. Semarang, bandung, solo. Semoga yogya juga terwujud. Dan kota2 lain menyusul =). 

Oh ya, memang blog ini agak kalah cepat daripada instagram. Jadi sekarang instagram saya juga saya jadikan blog, bercerita banyak hal yang ditemui lewat kamera telepon genggam. Sebagian catatan juga tercecer di folder note facebook Yu Sing yang belum dipindahkan ke blogspot ini...maap ya =p. Dari telepon genggam saya sudah banget mau unggah tulisan baru ke sini. Sedangkan tulisan saya buat di mana saja ketika ingin menulis.

Cimahi, 5 mei 2014

yu sing, studio akanoma.

2.5.13

kampung masa depan kota


Lokakarya kampung baru jakarta, hut sketsa universitas tarumanagara, april 2013.

Kampung kota selalu relevan untuk menjadi tempat praksis sosial holistik (galih w.pangarsa, 2012). Sebagai langkah awal, untar mengadakan lokakarya. Lokakarya kali ini mengambil kasus kampung jatipulo, tomang, jakarta. Mahasiswa S1 dari universitas tarumanagara dan universitas bina nusantara, terdiri dari 7 kelompok masing-masing kelompok 4-5 orang, diajak untuk mengamati dan wawancara dengan warga jatipulo. Lokakarya dibimbing oleh pak sri probo sudarmo, yu sing, dan peter antonius.

Kampung jatipulo punya karakter yang menarik. Serupa dengan kampung kota lainnya, banyak warga yang sudah tinggal di sana lebih dari 50 tahun yang lalu. Batas-batas kampungnya sudah jelas dibatasi oleh jalan inspeksi samping banjir kanal barat dan kali kecil di sisi lainnya pada jalan yang lebih rendah. Beberapa rumah sudah dibangun dengan konstruksi beton. Kepadatan sangat tinggi, dari perhitungan 1 rt, ada yang mencapai 50 ribuan orang per km2, padahal rata2 kepadatan kota dki jakarta sekitar 13 ribuan orang per km2.

Peserta lokakarya yang terdiri dari 7 kelompok ini dilombakan untuk dipilih 3 terbaik usulan perbaikan kampungnya. Katanya biar peserta lebih semangat. Apalagi peserta dari binus ikut lokakarya ini sambil ujian di kampusnya. Ini luar biasa. Juga beberapa peserta dari untar baru semester 2 atau 4.

Melalui proses diskusi, pembimbing memberikan masukan agar perubahan kampung tidak terlalu drastis. Perlu dipetakan rumah2 mana yang memang perlu dibongkar atau dipindahkan agar lingkungan kampung menjadi lebih sehat dan bisa dapat ruang terbuka. Rumah2 eksisting yang kebanyakan sudah 2 lantai itu sebagian masih berupa rumah kayu yang cukup fleksibel untuk dibongkar pasang/dipindahkan. Idenya adalah menambah beberapa blok rumah menjadi bertingkat 4 atau maksimal 5 lantai, dengan bangunan ringan pada bagian 2-3 lantai paling atas. Rumah2 di atas itu seperti rumah panggung yang kolom bawahnya setinggi rumah eksisting 2 lantai. Karena rumah ringan, struktur tidak terlalu berat. Kalau memungkinkan hanya pondasi umpak dan sedikit diperkuat dengan menempel pada rumah bawahnya.

Dalam waktu yang singkat, hanya 3 hari pertemuan bersama pembimbing dan 5 hari pengerjaan, hasil karya beberapa kelompok cukup membanggakan. Ini merupakan karya awal yang masih bisa terus dikembangkan lebih detail, tetapi dapat memberikan gambaran kemungkinan kampung kota yang sangat menarik, banyak ruang sosial dan terbuka yang tidak terduga, serta bentukan dan ketinggian bangunan yang bervariatif. Karakter kampung yang inkremental tidak hilang. Tapi lebih sehat dengan pencahayaan dan ventilasi lebih lancar ke rumah2nya. Tidak berlebihan bila pemenang pertama memberikan judul usulan perbaikannya sebagai kampung masa depan kota.

Cimahi, 2 mei 2013
yu sing

pemenang pertama



















 pemenang kedua: