Tampilkan postingan dengan label tentang yu sing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tentang yu sing. Tampilkan semua postingan

23.11.15

tentang yu sing

yu Sing-arsitek |  Indonesia.


Yu Sing lahir di bandung, jawa barat, Indonesia pada tahun 1976, dan lulus S1 dari teknik arsitektur ITB pada tahun 1999. Yu Sing memulai karirnya sebagai arsitek sejak 1999, salah satu pendiri studio genesis dan pada tahun 2008 mendirikan akanoma (singkatan dari akar anomali). Akar anomali menegaskan komitmen studio untuk senantiasa berakar kepada konteks budaya, potensi, dan persoalan di Indonesia. Yu Sing percaya bahwa arsitektur harus dapat melayani semua kalangan tanpa batas. Karena itu, akanoma mulai membantu desain rumah murah dengan jasa desain murah, agar kalangan menengah ke bawah juga dapat menikmati rumah yang didesain dengan baik. Yu Sing juga menulis artikel di blog dan majalah, serta memberikan banyak workshop dan seminar di kampus dan komunitas di berbagai kota (Bandung, Yogyakarta, Solo, Jakarta, Pontianak, Semarang, Medan, Surabaya, Makassar, Malang, Bali, Banjarmasin, Balikpapan, Kendari, Lampung, Pekanbaru, Jambi, Batam, Aceh) yang mengajak mahasiswa dan arsitek muda untuk melayani semua kalangan.
Ruang diskusi publik dengan masyarakat dapat dilakukan melalui blog, email, dan media sosial. Yu Sing juga menulis buku berjudul mimpi rumah murah pada tahun 2009. Pada tahun 2012 Yu Sing bersama Prima Rusdi dan Mandy Marahimin dengan crowd funding wujudkan.com menggagas proyek filantropi ‘papan untuk semua’ yang bergerak di bidang perumahan dan ruang publik untuk rakyat untuk menjangkau masyarakat berpenghasilan rendah.
Yu Sing memberikan bengkel kerja/workshop arsitektur sebagai berikut:

1.     bengkel kerja desain rumah murah & kuliah tamu memasyarakatkan arsitektur, Universitas Sebelas Maret Surakarta, 21-22 oktober 2009.
2.     les arsitektur pengembangan ruang publik dalam kampung kota [pamulang barat], Institut Teknologi Indonesia, 3-5 juni 2011.
3.     mAAN mentok tin mining city: ‘exile’ city as a process towards unique & specific ecotourism, mentok, pulau bangka, 20-28 july 2011.
4.     Joint design studio indonesia-japan 2011, design intervention for sensible high density urban kampung of megacities, Department of Architecture Faculty of Engineering University of Indonesia, Research Institute of Humanity and Nature (RIHN) Kyoto, Chiba University, The University of Tokyo, Tokyo University of Science, 08-18 September 2011.





Selain itu, yu sing juga menjadi juri beberapa sayembara desain arsitektur yang berhubungan dengan rumah murah dan perbaikan kampung sebagai berikut:

1.     Juri sayembara rumah rakyat 2009, studio habitat indonesia, 2009.

2.     Juri sayembara penataan kampung pinggir kali brantas malang, mahasiswa arsitektur rayon jawa timur, 2010.

3.     Juri sayembara rumah murah sehat, seri rumah ide & gramedia pustaka utama, 2010.

4.     Juri sayembara desain rumah tinggal di kampung kota ‘housing solution for a better living at pademangan’, universitas trisakti,  2010.

5.     Juri sayembara balai perkumpulan warga kampung layur semarang, universitas katolik soegiyapranata semarang, 2011.
6.     sayembara rumah tropis nusantara di kampung kota, universitas brawijaya malang, 2011.
7.     Juri laras award 2012 (in absentia).
8.     Juri sayembara penataan pedagang kaki lima di monumen perjuangan jawa barat bandung, universitas parahyangan, 2015.
Penghargaan

2016

  • Pemenang penghargaan internasional Green Leadership Award dari BCI Asia untuk karya rumah belajar lingkungan ocean of life indonesia, watu kodok, gunung kidul, yogyakarta.

2015
  • Pemenang 3 Citation Of Excellent Architectural Design Reflecting East Asian Identity untuk karya wikasatrian (wika leadership centre).
  • Pemenang 1 holcim awards indonesia 2015 for sustainable construction untuk karya ocean of life indonesia, watu kodok, gunung kidul, yogyakarta.
  • Pemenang 2 sayembara propan desa wisata nusantara untuk konsep strategi desa wisata sembalun lawang, lombok, NTB.
  • Tempo property award (hunian ramah lingkungan) untuk 3 karya, yaitu: perumahan taman tengah griya mitra insani 2 cibubur, rumah puzzle jakarta barat, rumah panggung kelapa gading jakarta utara.

2012
  • pemenang 1 sayembara terbatas (undangan) wikasatrian (WIKA Leadership Center), pasir angin, gadog, bogor.
2011
  • pemenang ke 4 sayembara stasiun riset orang utan kalimantan di kalimantan barat.
2010
  • pemenang 3 sayembara internasional FuturArc Prize 2010 (a PROTOYPE for ecological living): oasis social housing.
2009
  • pemenang utama holcim award indonesia 2009 for sustainable construction untuk caringin family ‘village’ improvement.
  • pemenang 1 sayembara gedung pusat pelayanan akademik universitas negeri makassar, menara pinisi.
  • pemenang 1 sayembara tanpa hadiah (www.rujak.org) , co-housing : 1 rumah untuk 4 keluarga kalangan menengah.
2008
  • pemenang 5 sayembara rumah sakit akademik ugm yogyakarta.
  • pemenang 3 sayembara desain muka dan interior galeri indogress, tangerang.
2007
  • finalis sayembara terbatas sekolah internasional bpk penabur banda, bandung.
  • pemenang 6 sayembara taman borobudur jakarta bersama oky kusprianto.
  • pemenang 1 sayembara desain muka jakarta design centre.
  • top 10 sayembara fasade rumah ide.
2006
  • pemenang 3 lomba desain taman rakyat cimahi.

2004
  • pemenang 1 sayembara terbatas tk internasional bpk penabur bahureksa, bandung.
  • pemenang 2 sayembara terbatas sekolah internasional bpk penabur singgasana pradana, bandung.
1999

  • pemenang 1 sayembara terbatas gereja kristen indonesia anugerah bandung, bersama yohan tirtawijaya, herjagus kurnia, anton jo.

yu sing | short bio 2015

yu sing.



Graduated from Institut Teknologi Bandung in 1999, he then, together with a college friend, established an architecture design studio. Yu Sing has always been actively joining in various architectural competitions, which many of them he won. And since, he got frequently invited to give public lectures, seminars and workshops by architecture colleges in Indonesia.

In 2008, answering his life long search for meanings, Yu Sing established akanoma, an independent architecture design studio that provides affordable designs for the middle and lower income families. He has also continuously been working with young apprentices and students catering the dream of middle-lower income families to have their own architect-designd houses. 
By the year 2009, Yu Sing published ‘Mimpi Rumah Murah’, a book of affordable houses.

Akanoma itself has four main design philosophy:

  1. Put forth architecture for all
  2. Bring traditional architecture forward
  3. Build nature-culture-economy-architecture interdependency
  4. Promote eco-tourism along the locals

28.6.13

rumah terjangkau untuk semua, kompas 22 mei 2013


Yu Sing
Rumah Terjangkau untuk Semua
KOMPAS/CORNELIUS HELMY HERLAMBANG

Yu Sing

Oleh Cornelius Helmy

Puluhan juta rakyat Indonesia masih hidup dalam kemiskinan. Tak ada waktu dan biaya bagi mereka untuk memikirkan seperti apa hunian yang layak dan nyaman. Lewat proyek filantropis Papan untuk Semua, Prima Rusdi, Mandy Marahimin, dan Yu Sing bersama biro arsitek Akanoma Bandung coba mengubahnya. Rumah berlantai dua dengan konstruksi kayu milik Uay, tukang ojek asal Dago Giri, Bandung, yang baru selesai dibangun membuat perasaan Yu Sing bercampur aduk. Pada satu sisi, ia terharu sekaligus bangga melihat Uay bersama istri dan anaknya bisa hidup lebih layak.

Namun, di sisi lain, ia kembali diingatkan, masih banyak orang Indonesia yang tak punya pilihan. Mereka terpaksa tinggal di rumah reyot karena keterbatasan dana.

Perasaan campur aduk itulah yang memantapkan Yu Sing menekuni proyek filantropis tersebut. Seperti rumah Uay, tujuan mereka adalah membangun rumah yang layak huni dengan dasar arsitektur yang baik. Keterbatasan dana untuk itu berusaha dipenuhi lewat sumbangan masyarakat melalui internet.

”Kami tengah membantu pembangunan rumah milik keluarga Supartono, warga Padalarang, Bandung Barat. Dananya sekitar Rp 30 juta, semoga bisa terlaksana dengan baik,” kata Yu Sing.

Yu Sing bercerita, dia sempat stres serta merasa terjebak rutinitas tugas dan perkuliahan saat menjadi mahasiswa Jurusan Arsitektur, Institut Teknologi Bandung (ITB), beberapa tahun lalu.

Kekhawatirannya memuncak ketika ia menyadari rutinitas itu bisa berujung hanya demi memuaskan masyarakat berkantong tebal. Padahal, sejak awal dia yakin arsitektur ada untuk semua kalangan.

Baru tahun 2008 atau sembilan tahun setelah lulus perguruan tinggi, jawaban pertanyaannya itu mulai tampak. Bermula dari membangun rumahnya di Pharmindo, Cimahi, ia bereksperimen membangun rumah murah dengan perawatan minim.

Lantai rumah seluas sekitar 100 meter persegi hanya disemen dan menggunakan lantai pecahan marmer sisa pabrik. Untuk memudahkan perawatan, kusen jendela menggunakan aluminium. Pintu pun dipasang tanpa kusen. Sementara tangga beton dilapisi kayu pinus bekas peti kemas. Pelat beton itu dibiarkan telanjang tanpa proses akhir. Hanya bagian dinding tertentu yang dicat.

”Untuk luas bangunan 1 meter persegi dibutuhkan biaya Rp 1.500.000. Hasilnya memuaskan walau masih banyak kekurangan ketimbang tinggal di rumah yang sudah disediakan begitu saja oleh pengembang,” katanya.

Pengalaman bahagia itu, menurut Yu Sing, ingin dibagikan dan membawanya pada banyak kerja dengan penerapan pola serupa. Mayoritas desain rumah berbiaya murah, tetapi berkualitas.

Sampai pada 2009 ada penerbit yang tertarik membukukan delapan desain rumah yang pernah dibuatnya. Buku itu berjudul Mimpi Rumah Murah. Biaya pembangunan untuk desain rumah karya Yu Sing itu sebesar Rp 50 juta-Rp 250 juta per unit. Tak lama setelah diterbitkan, setidaknya 40 orang minta dibuatkan desain rumah seperti itu.

Kewalahan dengan permintaan tersebut, Yu Sing lalu meminta bantuan dari rekan arsitek lain yang peduli pada masalah yang sama. Ternyata cukup banyak arsitek yang sejalan dengan pemikirannya. Namun, itu tak berarti semuanya berjalan mulus.

Yu Sing pernah dianggap menyebabkan desain arsitektur tak lagi eksklusif. Biaya murah pembangunan rumah pun berisiko dianggap sebagai desain murahan.

Bahkan, dia sempat berpikir ulang, apakah pilihannya ini bisa digunakan untuk membiayai kehidupan keluarga. Alasannya, ia hanya mendapat penghasilan 3 persen untuk bangunan yang dibuat dengan biaya di bawah Rp 200 juta.

”Namun saya yakin, tujuan baik, jika dijalankan dengan serius akan menghasilkan akhir yang baik juga,” kata pengagum Romo Mangun, pemuka agama sekaligus tokoh arsitek Indonesia itu.

Berciri khas

Karya Romo Mangun, bagi Yu Sing, menjadi semangat setia di jalur ini. Rumah Uay yang menghabiskan dana pembangunan Rp 27 juta, misalnya, dibangun di atas umpak batu dengan konstruksi kayu.

Hal sama diterapkan pada bangunan Gedung Pusat Pelayanan Akademik Universitas Negeri Makassar yang bernilai miliaran rupiah. Ia memasukkan konsep perahu pinisi dan filosofi sulapa eppa dalam bangunan tinggi di Indonesia yang mengadaptasi fasade hiperbolic paraboloid.

”Karakter lokal juga diterapkan di balai ajar berbahan bambu di Desa Tegal Arum, dekat Candi Borobudur. Tempat ini yang dikerjakan dalam gerakan merajut bambu bersama banyak teman arsitek, dosen, dan mahasiswa,” katanya.

Menyebarkan virus

Menemukan satu per satu jawaban dari kegelisahannya tak membuat Yu Sing berpuas diri. Ia berharap bisa menyebarkan virus yang sama kepada rekan sejawat.

Penekanan untuk berpihak pada kebutuhan hunian masyarakat Indonesia menjadi yang utama. Sekitar 96 juta warga menggantungkan hidup pada jaminan kesehatan masyarakat. Artinya, 40 persen warga masih hidup seadanya. Mereka kesulitan mendapatkan akses kebutuhan dasar atas hunian yang sehat dan nyaman.

”Arsitek punya tanggung jawab besar menjawab tantangan ini. Asal mau serius dan berkomitmen, banyak arsitek bisa melakukannya,” katanya.

Yu Sing • Lahir: Bandung, 5 Juli 1976 • Istri: Jane Tanggalung (34) • Anak: Arga Kaleb Prabhaswara (5) • Pendidikan:- SDK 3 BPK Bandung, lulus 1988- SMPK 5 BPK Bandung, 1991- SMAK 1 BPK Bandung, 1994- Jurusan Arsitektur Institut - Teknologi Bandung, 1999

http://cetak.kompas.com/read/2013/05/22/02411262/rumah.terjangkau.untuk.semua


15.6.12

about yu sing


Yu Sing-architect|Indonesia




Yu Sing was born in Bandung, West Java, Indonesia in 1976. He graduated from Institut Teknologi Bandung in 1999, majoring Architecture Engineering. On that same year he began his career as an Architect by, along with a coleague, establishing Studio Genesis. Then, in 2008, he establish his own independent Architecture Studio called Akanoma (abbreviation of akar anomali; translated as “root of anomaly”). Akar anomali emphasize the studio’s commitment to constantly rooted in Indonesian context of cultures, potentials, and issues.  Yu Sing believes that Architecture is not a priviledge of the rich, instead Architecture should be able to immensely serve all social layers. Therefore, Sudio Akanoma commenced design for affordable houses, with a relatively lower design fee, so that the middle and lower income people may benefit a well-designed house.

While being a dinamic architect, Yu Sing actively writes in blogs and prints. And, in 2009, he published the book “Mimpi Rumah Murah”. He has also given many workshops and seminars in many Indonesian cities (s.a. Bandung, Yogyakarta, Pontianak, Banjarmasin, Lampung, Aceh), engaging students and young architects to cater architecture for all. Moreover, Yu Sing is open for public discussion through his blog, email and other social media accounts. In 2012, working with Prima Rusdi and Mandy Marahimin, via wujudkan.com crowdfunding, he initiated a phylantropic project “Papan untuk Semua” which works in people’s housing and public spaces reaching out to low income society.

Presented Architecture Workshops:

1.       Affordable Houses Design Workshop and Guest Lecture on Socializing Architecture, Universitas Sebelas Maret Surakarta, 21-22 October 2009

2.       Architecture Course: Public Space Development in Urban Village (West Pamulang), Institut Teknologi Indonesia, 3-5 June 2011

3.       MAAN Mentok Tin Mining City: ‘Exile’ City as a Process Towards Unique and Specific Ecotourism, Mentok, Bangka Island, 20-28 July 2011

4.       Joint Design Studi Indonesia-Japan 2011, Design Intervetion for Sensible High Density Urban Kampung of Megacities, Department of Architecture Faculty of Engineering University of Indonesia, Research Institute of Humanity and Nature (RIHN) Kyoto, Chiba University, The University of Tokyo, Tokyo University of Science, 08-18 September 2011.

As member of Architecture Competition’s board of jury:

1.       Sayembara Rumah Rakyat 2009, Studio Habitat Indonesia, 2009.

2.   Sayembara Penataan Kampung Pinggir Kali Brantas, Malang, East Java area Architecture Students, 2010.

3.     Sayembara Rumah Murah Sehat, Rumah Ide Series and Gramedia Pustaka Utama, 2010.

4.      Sayembara Desain Rumah Tinggal di Kampung Kota, “Housing Solution for a Better Living at Pademangan”, Universitas Trisakti, 2010.

5.      Sayembara Balai Pekumpulan Warga Kampung Layur, Semarang, Universitas Katolik Soegiyapranata, Semarang, 2011.

6.     Sayembara Rumah Tropis Nusantara di Kampung Kota, Universitas Brawijaya, Malang, 2011.

7.       Laras Award 2011 (in absentia).

8.     Sayembara Penataan Pedagang Kaki Lima di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, Bandung, Universitas Parahyangan, 2015.

Awards:
2016.

  • Green Leadership Award from BCI Asia; work: Environmental Center Ocean Of Life Indonesia, Watu Kodok, Gunung Kidul, Yogyakarta.
2015.
  • 3rd Place, Citation Of Excellent Architectural Design Reflecting East Asian Identity; work: Wikasatrian (Wika Leadership Center)
  • Winner,  Holcim Awards Indonesia 2015 for Sustainable Construction; work: Ocean Of Life Indonesia, Watu Kodok, Gunung Kidul, Yogyakarta.
  • 2nd Place, Propan Desa Wisata Nusantara Competition; work: strategy concept for Desa Wisata Sembalun Lawang, Lombok, NTB.
  • Tempo Property Award (Hunian Ramah Lingkungan) 2015; works: Taman Tengah Griya Mitra Insani 2 Complex, Cibubur; Puzzle House, West Jakarta; Stilts House, Kelapa Gading, North Jakarta.
2012
  • Winner, Closed Competition (invitee) Wikasatrian (Wika Leadership Center), Pasir Angin, Gadog, Bogor.

2011.
  •  4th Place, Orangutan Research Station Design Competition, West Kalimantan


2010. 
  • 3rd Place, FuturArc Prize 2010 International Competition (A Prototype for Ecological Living): Oasis Social Housing.


2009.
  • Winner, Holcim Award Indonesia 2009 for sustainable Construction; work: Caringin Family ‘Village’ Improvement.
  • Winner, Center of Academic Building Design Competition, Universitas Negeri Makassar; work: Menara Phinisi.
  • Winner, no-reward competition (www.rujak.org); work: co-Housing: 1 house for 4 middle class families.

2008.
  • 5th Place, Universitas Gajahmada Academic Hospital Design Competition, Yogyakarta.
  • 3rd Place, Indogress Façade and Interior Design Competition, Tangerang.

2007.
  • Finalist, closed competition of BPK Penabur International School, Banda, Bandung.
  • 6th Place, Borobudur Park Design Competition, Jakarta; team: Oky Kusprianto
  • Winner, Jakarta Design Center Façade Design Competition.
  • Top 10, Rumah Ide façade Competition.

2006.
  • 3rd Place, Taman Rakyat Cimahi Design Competition

2004.
  • Winner, closed competition BPK Penabur International School, Bahureksa, Bandung.
  • 2nd Place, competition BPK Penabur International School, Singgasana Pradana, Bandung.

1999.
  • Winner, closed competition Gereja Kristen Indonesia Anugerah, Bandung; team: Yohan Tirtawijaya, Herjagus Kurnia, Anton Jo.