16.7.13

rusun penjaringan, jakarta vertical kampung


ini merupakan usulan perbaikan rusun penjaringan.
telah ada 13 blok rusun 4-5 lantai yang formal.
penghuni rusun sebagian besar memang tinggal di kampung penjaringan ini, yang terbakar pada tahun 1984 lalu dibangun rusun dan selesai sekitar tahun 1986.

bangunan rusun yang formal telah digunakan dan disesuaikan dengan pola hidup kampung dari warganya, dan sangat mengejutkan di beberapa tempat di kompleks rusun ini telah betul-betul berubah menjadi seperti kampung kembali.

setelah 25 tahun digunakan, ternyata bangunan formal dapat digunakan dengan cara hidup kampung yang informal. masih ada banyak kelebihan lainnya, juga beberapa kekurangan.

desain ini menyikapi kondisi tersebut sekaligus meningkatkan kemungkinan penambahan kepadatan warganya dengan unit2 hunian baru selain unit2 untuk usaha.












































28.6.13

rumah terjangkau untuk semua, kompas 22 mei 2013


Yu Sing
Rumah Terjangkau untuk Semua
KOMPAS/CORNELIUS HELMY HERLAMBANG

Yu Sing

Oleh Cornelius Helmy

Puluhan juta rakyat Indonesia masih hidup dalam kemiskinan. Tak ada waktu dan biaya bagi mereka untuk memikirkan seperti apa hunian yang layak dan nyaman. Lewat proyek filantropis Papan untuk Semua, Prima Rusdi, Mandy Marahimin, dan Yu Sing bersama biro arsitek Akanoma Bandung coba mengubahnya. Rumah berlantai dua dengan konstruksi kayu milik Uay, tukang ojek asal Dago Giri, Bandung, yang baru selesai dibangun membuat perasaan Yu Sing bercampur aduk. Pada satu sisi, ia terharu sekaligus bangga melihat Uay bersama istri dan anaknya bisa hidup lebih layak.

Namun, di sisi lain, ia kembali diingatkan, masih banyak orang Indonesia yang tak punya pilihan. Mereka terpaksa tinggal di rumah reyot karena keterbatasan dana.

Perasaan campur aduk itulah yang memantapkan Yu Sing menekuni proyek filantropis tersebut. Seperti rumah Uay, tujuan mereka adalah membangun rumah yang layak huni dengan dasar arsitektur yang baik. Keterbatasan dana untuk itu berusaha dipenuhi lewat sumbangan masyarakat melalui internet.

”Kami tengah membantu pembangunan rumah milik keluarga Supartono, warga Padalarang, Bandung Barat. Dananya sekitar Rp 30 juta, semoga bisa terlaksana dengan baik,” kata Yu Sing.

Yu Sing bercerita, dia sempat stres serta merasa terjebak rutinitas tugas dan perkuliahan saat menjadi mahasiswa Jurusan Arsitektur, Institut Teknologi Bandung (ITB), beberapa tahun lalu.

Kekhawatirannya memuncak ketika ia menyadari rutinitas itu bisa berujung hanya demi memuaskan masyarakat berkantong tebal. Padahal, sejak awal dia yakin arsitektur ada untuk semua kalangan.

Baru tahun 2008 atau sembilan tahun setelah lulus perguruan tinggi, jawaban pertanyaannya itu mulai tampak. Bermula dari membangun rumahnya di Pharmindo, Cimahi, ia bereksperimen membangun rumah murah dengan perawatan minim.

Lantai rumah seluas sekitar 100 meter persegi hanya disemen dan menggunakan lantai pecahan marmer sisa pabrik. Untuk memudahkan perawatan, kusen jendela menggunakan aluminium. Pintu pun dipasang tanpa kusen. Sementara tangga beton dilapisi kayu pinus bekas peti kemas. Pelat beton itu dibiarkan telanjang tanpa proses akhir. Hanya bagian dinding tertentu yang dicat.

”Untuk luas bangunan 1 meter persegi dibutuhkan biaya Rp 1.500.000. Hasilnya memuaskan walau masih banyak kekurangan ketimbang tinggal di rumah yang sudah disediakan begitu saja oleh pengembang,” katanya.

Pengalaman bahagia itu, menurut Yu Sing, ingin dibagikan dan membawanya pada banyak kerja dengan penerapan pola serupa. Mayoritas desain rumah berbiaya murah, tetapi berkualitas.

Sampai pada 2009 ada penerbit yang tertarik membukukan delapan desain rumah yang pernah dibuatnya. Buku itu berjudul Mimpi Rumah Murah. Biaya pembangunan untuk desain rumah karya Yu Sing itu sebesar Rp 50 juta-Rp 250 juta per unit. Tak lama setelah diterbitkan, setidaknya 40 orang minta dibuatkan desain rumah seperti itu.

Kewalahan dengan permintaan tersebut, Yu Sing lalu meminta bantuan dari rekan arsitek lain yang peduli pada masalah yang sama. Ternyata cukup banyak arsitek yang sejalan dengan pemikirannya. Namun, itu tak berarti semuanya berjalan mulus.

Yu Sing pernah dianggap menyebabkan desain arsitektur tak lagi eksklusif. Biaya murah pembangunan rumah pun berisiko dianggap sebagai desain murahan.

Bahkan, dia sempat berpikir ulang, apakah pilihannya ini bisa digunakan untuk membiayai kehidupan keluarga. Alasannya, ia hanya mendapat penghasilan 3 persen untuk bangunan yang dibuat dengan biaya di bawah Rp 200 juta.

”Namun saya yakin, tujuan baik, jika dijalankan dengan serius akan menghasilkan akhir yang baik juga,” kata pengagum Romo Mangun, pemuka agama sekaligus tokoh arsitek Indonesia itu.

Berciri khas

Karya Romo Mangun, bagi Yu Sing, menjadi semangat setia di jalur ini. Rumah Uay yang menghabiskan dana pembangunan Rp 27 juta, misalnya, dibangun di atas umpak batu dengan konstruksi kayu.

Hal sama diterapkan pada bangunan Gedung Pusat Pelayanan Akademik Universitas Negeri Makassar yang bernilai miliaran rupiah. Ia memasukkan konsep perahu pinisi dan filosofi sulapa eppa dalam bangunan tinggi di Indonesia yang mengadaptasi fasade hiperbolic paraboloid.

”Karakter lokal juga diterapkan di balai ajar berbahan bambu di Desa Tegal Arum, dekat Candi Borobudur. Tempat ini yang dikerjakan dalam gerakan merajut bambu bersama banyak teman arsitek, dosen, dan mahasiswa,” katanya.

Menyebarkan virus

Menemukan satu per satu jawaban dari kegelisahannya tak membuat Yu Sing berpuas diri. Ia berharap bisa menyebarkan virus yang sama kepada rekan sejawat.

Penekanan untuk berpihak pada kebutuhan hunian masyarakat Indonesia menjadi yang utama. Sekitar 96 juta warga menggantungkan hidup pada jaminan kesehatan masyarakat. Artinya, 40 persen warga masih hidup seadanya. Mereka kesulitan mendapatkan akses kebutuhan dasar atas hunian yang sehat dan nyaman.

”Arsitek punya tanggung jawab besar menjawab tantangan ini. Asal mau serius dan berkomitmen, banyak arsitek bisa melakukannya,” katanya.

Yu Sing • Lahir: Bandung, 5 Juli 1976 • Istri: Jane Tanggalung (34) • Anak: Arga Kaleb Prabhaswara (5) • Pendidikan:- SDK 3 BPK Bandung, lulus 1988- SMPK 5 BPK Bandung, 1991- SMAK 1 BPK Bandung, 1994- Jurusan Arsitektur Institut - Teknologi Bandung, 1999

http://cetak.kompas.com/read/2013/05/22/02411262/rumah.terjangkau.untuk.semua


2.5.13

kampung masa depan kota


Lokakarya kampung baru jakarta, hut sketsa universitas tarumanagara, april 2013.

Kampung kota selalu relevan untuk menjadi tempat praksis sosial holistik (galih w.pangarsa, 2012). Sebagai langkah awal, untar mengadakan lokakarya. Lokakarya kali ini mengambil kasus kampung jatipulo, tomang, jakarta. Mahasiswa S1 dari universitas tarumanagara dan universitas bina nusantara, terdiri dari 7 kelompok masing-masing kelompok 4-5 orang, diajak untuk mengamati dan wawancara dengan warga jatipulo. Lokakarya dibimbing oleh pak sri probo sudarmo, yu sing, dan peter antonius.

Kampung jatipulo punya karakter yang menarik. Serupa dengan kampung kota lainnya, banyak warga yang sudah tinggal di sana lebih dari 50 tahun yang lalu. Batas-batas kampungnya sudah jelas dibatasi oleh jalan inspeksi samping banjir kanal barat dan kali kecil di sisi lainnya pada jalan yang lebih rendah. Beberapa rumah sudah dibangun dengan konstruksi beton. Kepadatan sangat tinggi, dari perhitungan 1 rt, ada yang mencapai 50 ribuan orang per km2, padahal rata2 kepadatan kota dki jakarta sekitar 13 ribuan orang per km2.

Peserta lokakarya yang terdiri dari 7 kelompok ini dilombakan untuk dipilih 3 terbaik usulan perbaikan kampungnya. Katanya biar peserta lebih semangat. Apalagi peserta dari binus ikut lokakarya ini sambil ujian di kampusnya. Ini luar biasa. Juga beberapa peserta dari untar baru semester 2 atau 4.

Melalui proses diskusi, pembimbing memberikan masukan agar perubahan kampung tidak terlalu drastis. Perlu dipetakan rumah2 mana yang memang perlu dibongkar atau dipindahkan agar lingkungan kampung menjadi lebih sehat dan bisa dapat ruang terbuka. Rumah2 eksisting yang kebanyakan sudah 2 lantai itu sebagian masih berupa rumah kayu yang cukup fleksibel untuk dibongkar pasang/dipindahkan. Idenya adalah menambah beberapa blok rumah menjadi bertingkat 4 atau maksimal 5 lantai, dengan bangunan ringan pada bagian 2-3 lantai paling atas. Rumah2 di atas itu seperti rumah panggung yang kolom bawahnya setinggi rumah eksisting 2 lantai. Karena rumah ringan, struktur tidak terlalu berat. Kalau memungkinkan hanya pondasi umpak dan sedikit diperkuat dengan menempel pada rumah bawahnya.

Dalam waktu yang singkat, hanya 3 hari pertemuan bersama pembimbing dan 5 hari pengerjaan, hasil karya beberapa kelompok cukup membanggakan. Ini merupakan karya awal yang masih bisa terus dikembangkan lebih detail, tetapi dapat memberikan gambaran kemungkinan kampung kota yang sangat menarik, banyak ruang sosial dan terbuka yang tidak terduga, serta bentukan dan ketinggian bangunan yang bervariatif. Karakter kampung yang inkremental tidak hilang. Tapi lebih sehat dengan pencahayaan dan ventilasi lebih lancar ke rumah2nya. Tidak berlebihan bila pemenang pertama memberikan judul usulan perbaikannya sebagai kampung masa depan kota.

Cimahi, 2 mei 2013
yu sing

pemenang pertama



















 pemenang kedua:
























13.2.13

tentang (pohon) sagu


Pohon sagu baru (sagu putih) kulit kayunya kr2 2cm..bisa untuk tulangan beton pengganti baja. Diameter pohon hanya 25 cm-an. Kayunya bisa untuk dinding. Pohon beranak terus seperti pisang, jadi sekali tanam bisa terus produktif. 1 pohon menghasilkan 1-1,5 karung (25kg) tepung sagu basah.

Pohon sagu biasa ( sagu merah) hidupnya di rawa2/tanah berair. Diameter pohon sampai 70 cm. Daunnya untuk atap bisa tahan sekitar 5 tahun. Kalau sagu baru..lidinya lunak. Daunnya kurang bagus utk atap. Sebaliknya sagu biasa kulit kayunya agak lunak tidak baik untuk tulangan beton. Kayu sagu merah juga kayunya agak lunak. Sagu msh makanan pokok masyarakat sangihe..utaranya manado.

Bagaimana dengan harga kayu sagu? "tidak dihargain mas"...begitu katanya. biasanya setelah tepung sagunya diambil, kayunya dikumpulkan untuk kayu bakar. kadang tetangga juga minta kayunya untuk kayu bakar. karena banyaknya, setiap minggu ada saja yang produksi pohon sagu. biasanya usia sekitar 10-15 tahun untuk ditebang.

bayangkan betapa besar potensi lokal yang telah terlupakan banyak masyarakat, dosen, dan arsitek. ilmu material lokal sangat miskin di sekolah-sekolah maupun di dunia praktek.
nara sumber: timotius lamaha, arsitek suku sangihe yang saat ini tinggal di manado

tomohon, 08 februari 2013
yu sing

19.12.12

mengurangi sampah (sulit terurai)


“kalau bisa jangan pakai styrofoam oom” saya nyeplos sewaktu beli nasi pepes dekat rumah sambil  bawa kotak makanan dan kantong sendiri.  “kan ada daunnya” kata si oom. “bukan, styrofoam kan sulit terurai”. “ohh..lingkungan..iya memang tidak baik untuk lingkungan. Tapi susah. Kalau ada pesanan 50 pepes nasi, kalau ga pakai styrofoam nasinya gepeng, daunnya bisa sobek yang di bagian bawah. Pakai dus juga mahal. 1 dus aja harganya 850 rupiah. Kalau ditumpuk juga dus ga terlalu kuat. Memang pernah ada yang beli dari jakarta, sama sekali tidak mau pakai styroform. Dia emang ‘orang lingkungan’. Jadi pakai dus tapi dusnya dibayar terpisah.” Ah si oom sudah punya segudang kalimat pamungkas. Tapi yang beli sedikit dan tidak ditumpuk juga saya rasa masih pakai styroform. Dulu sih begitu, entah sekarang. Kalau banyak orang gangguin, mungkin dikit-dikit bisa dikurangi.

Nasi pepes si oom ini sering dipesan banyak di dalam kota maupun di luar kota karena rasanya yang enak. Pesanannya bisa sampai dikirim ke lampung. Jakarta sih sering. “Pernah saya kirim ke kementerian di jakarta, waktu itu masih andi malarangeng. Pakai styroform. Gapa2 tuh.”

Saya lupa tanya berapa harga styroform per buah, dari hasil google, katanya harga di pasaran 400 rupiah. Lalu saya juga ingat besek anyaman bambu, ah itu pasti lebih mahal lagi dari dus. Bikinnya saja masih kerajinan tangan. Memang tidak mudah ya kalau hitungannya harga. Sebetulnya mengurangi keuntungan belum tentu keuntungannya betul2 berkurang. Dengan sedikit penjelasan soal ramah lingkungan, mungkin akan lebih banyak orang yang beli dan otomatis jumlah keuntungan bisa berkurang. Lama-lama bisa mulai menaikkan harganya juga.

Tapi persoalan2 seperti ini sebetulnya bisa selesai dengan cukup sederhana. Penegakan hukum dan peraturan. Aturan melarang dan penegakan hukum yang konsisten. Kalau menjadi syarat untuk semua secara merata, termasuk pedagang kecil, maka semua harus ikut kan. Kalau melanggar, ya diberikan sangsi saja. Kalau diberlakukan secara merata, maka tidak menjadi persoalan persaingan harga. Ah, tapi mana mungkin. Sekarang kan sedang tidak ada presiden dan pemimpin =p.

Pengakuan dosa. Saya dan keluarga juga sudah berusaha, tetapi belum bisa sama sekali tidak membuang sampah yang sulit terurai. Makan siang hari ini saja sudah menambah 1 plastik bungkus kerupuk. 1 plastik bungkus emping. 2 plastik kecil bungkus sambal. Mungkinkah sama sekali tidak menyampah? Yang lebih berpengalaman, tolong cerita dong =).

cimahi, 19 desember 2012
yu sing