26.4.09

ARSITEKTUR MURAH untuk MASA DEPAN BUMI

apakah kita masih leluasa memilih tanpa takut apa kata orang tentang pilihan kita?
(telah dimuat di majalah RUMAHKU edisi 35 – April 2009)

ARSITEKTUR SEOLAH-OLAH
Sudah kodratnya manusia itu berlomba-lomba menampilkan kehebatan. Termasuk kemewahan harta dan materi yang dimilikinya. Arsitektur / properti / rumah juga termasuk di dalamnya. Semakin mewah dan semakin mahal arsitekturnya semakin bangga pemiliknya. Semakin tinggi juga harga diri pemiliknya. Seolah-olah demikian. Dan memang kenyataannya kita melihat demikian. Jangan jauh-jauh keliling kota besar. Datang saja ke desa-desa di pinggiran. Sudah bukan hal aneh kita melihat dinding depan rumah di desa dilapisi keramik mengkilap. Tetapi bila masuk ke dalam rumahnya, barangkali malah kamar tidurnya hanya berpintu sehelai kain (bukan karena sengaja tetapi karena dananya terpakai untuk keramik dinding depan rumah). Apa yang terlihat dari luar oleh orang lain dianggap mewakili kebanggaan atau harga diri pemiliknya. Seolah-olah demikian. Walaupun hal yang terlihat itu hanya sekedar kosmetik atau malah sekedar topeng. Di kota juga tidak jauh berbeda. Arsitektur Seolah-olah juga banyak dilakukan. Tempelan lempengan besar batu marmer impor dari negara nun jauh di sana menjadi andalan tampilan mewah yang dibanggakan. Padahal tidak jarang kualitas ruang di dalamnya sangat miskin dari pengalaman sensasi ruang. Atau malah amburadul. Tapi pemiliknya bangga dengan marmer impornya, sebagai simbol kemewahan dan kekayaannya. Seolah-olah demikian. Begitulah Arsitektur Seolah-olah.

MURAH juga merupakan KEMEWAHAN
Apakah semua yang mewah dan mahal itu termasuk arsitektur seolah-olah? Tentu saja tidak. Apakah kita harus anti mahal dan mewah? Bukan itu maksudnya. Itu hanyalah sebuah pilihan akan kemampuan pribadi masing-masing. Tapi ada juga pilihan lain yang seringkali kurang disadari. Bahwa murah juga adalah kenikmatan, keindahan, bahkan kemewahan. Makan nasi merah hangat hanya dengan lalapan dan sambal serta ikan peda bakar pada sore hari sewaktu hujan rintik-rintik adalah kenikmatan yang penuh. Kenikmatan dalam kesederhanaan. Tidak semua orang bisa menikmati kenikmatan dalam kesederhanaan. Hanya orang-orang dengan jiwa sederhana yang peka akan kekayaan anugerah kenikmatan dan keindahan yang Tuhan berikan berlimpah. Jiwa yang antusias seperti jiwa anak-anak. Sebetulnya begitu pula dengan arsitektur. Arsitektur Murah juga bisa terlihat mewah dan kaya. Mewah bukan dalam arti mahal, mengkilap, dan sejenisnya. Tetapi kemewahan dalam konteks keindahannya. Kemewahan Arsitektur Murah dinilai dari kualitas ruangnya. Bayangkan sebuah ruang keluarga tidak luas, dengan material pembentuknya yang sederhana (lantai semen, dinding bata merah ekspos atau bilik bambu, dan sejenisnya) tetapi memiliki kesatuan ruang dengan taman atau bahkan hamparan sawah yang luas, karena dindingnya bisa dibuka tutup seluruhnya. Itu adalah kemewahan dalam pengalaman hidup sehari-hari. Tidak semua arsitektur mahal memiliki kemewahan sepeti itu. Ruang-ruang yang bergantung pada penghawaan buatan /AC seringkali tertutup dan terpisah dari lingkungan alami. Hal-hal murah lain yang bisa disebut mewah yaitu hemat energi, pencahayaan alami, ventilasi alami, keberlanjutan alam, hubungan sosial antar ruang, eksplorasi material lokal, bayangan matahari melalui celah-celah dedaunan, kicauan burung-burung di pagi dan sore hari di atas pohon rindang di dalam rumah, dan sebagainya. (Lebih luas tentang kemewahan dalam kesederhanaan ini dapat dilihat pada buku “mimpi RUMAH MURAH”, penerbit Trans Media, 2009 )

WARISAN ARSITEKTUR NUSANTARA
Ternyata dalam kemurahan juga terdapat potensi eksplorasi yang sebetulnya tidak terbatas untuk menciptakan keindahan dan kemewahan yang bermakna. Kita juga seharusnya belajar soal kemewahan dalam kesederhanaan melalui warisan Arsitektur Tradisional Nusantara yang teramat kaya. Arsitektur Tradisional Nusantara menjadi bukti evolusi arsitektur yang menghormati alam. Bukti pemanfaatan kekayaan alam, menyatu dengan alam, tanpa mematikan kesempatan alam untuk beregenerasi. Nilai-nilai luhur warisan arsitektur nusantara ini merupakan sumber inspirasi dan eksplorasi yang sangat luas bagi terciptanya arsitektur masa kini yang bernilai tinggi. Indonesia merupakan negara yang memiliki warisan kekayaan budaya dan arsitektur paling besar di seluruh dunia. Apakah kita sudah memelihara, mempelajari, menggali, dan mengembangkan warisan nenek moyang kita itu dengan selayaknya?

HEMAT dan MURAH sebagai WUJUD IMAN
Masa depan Bumi serta kesanggupan Bumi menjadi sumber hidup bagi anak cucu kita terletak pada sikap hidup manusia masa kini. Nenek moyang kita memiliki sikap hidup yang sangat bijaksana karena memberikan kesempatan kepada alam untuk hidup bersama-sama. Sangat kontras dengan sikap hidup manusia masa kini yang mengeksploitasi alam, membunuh alam dengan tergesa-gesa, demi memperkaya diri sendiri. Padahal bumi dan segala isinya diciptakan Tuhan untuk memberikan manfaat bagi seluruh manusia. Padahal Tuhan pun memberikan mandat bagi seluruh manusia untuk memelihara bumi dan segala isinya. Sikap acuh, tidak peduli, egois dalam gaya hidup kita dan hal-hal kecil sehari-hari, akan menumpuk kerusakan dan kehancuran Bumi lebih cepat tanpa kita menyadarinya. Secara langsung maupun tidak langsung juga sama dengan membunuh manusia sekitarnya dengan perlahan-lahan.
Arsitektur Murah adalah salah satu cara dan pilihan untuk melestarikan Bumi. Bila setiap pemilik membangun rumah/propertinya sedikit saja lebih murah dari kemampuannya, maka sudah cukup banyak penghematan yang bisa dikumpulkan. Bila biasanya menggunakan material impor, sekarang lebih banyak menggunakan material dalam negeri, maka cukup banyak polusi CO2 berkurang. Cukup banyak pula masyarakat kita yang mendapat nafkah bagi kehidupan keluarganya. Bila rasa puas akan kesederhanaan menjadi gaya hidup, maka cukup banyak anak cucu kita yang juga akan menikmati kesederhanaan hidup. Bila kesederhanaan hidup menjadi keseharian banyak orang, maka cukup banyak kelebihan kekayaan -- yang sebetulnya adalah titipan Tuhan untuk dikelola – yang dapat bermanfaat bagi kepentingan lingkungan hidup ataupun masyarakat yang kurang mampu. Maka nilai dan makna kehidupan kita akan semakin indah. Kesadaran penuh terhadap kepemilikan kita sebagai titipan Tuhan adalah wujud kesadaran dan penyerahan diri bahwa kepandaian, kesehatan, kesempatan, potensi, bakat, dan semua identitas diri kita adalah semata-mata anugerah dari Sang Pencipta. Kepada-Nya sajalah kita selayaknya menaruh rasa takut, hormat, dan pengabdian hidup tanpa kuatir akan penilaian orang terhadap harga diri kita. Karena harga diri sebetulnya bukan terletak pada kemewahan, bukan terletak pada Arsitektur Seolah-olah, tetapi pada pengakuan diri (yang tercermin pada gaya hidup sehari-hari) sebagai hamba di hadapan Sang Pencipta dan sikap mengasihi sesama manusia yang dikasihi-NYA.

15 Februari 2009
yu sing
arsitek yang bermimpi untuk membantu desain sejuta rumah murah dengan jasa desain murah, penulis buku “mimpi RUMAH MURAH” terbitan Trans Media

24.3.09

PUISI PARADOKS [pesisir jawa kini]


Tim desain: yu sing, benyamin narkan, peter ong, eguh murthi pramono, iwan gunawan.
Puisi Paradoks ini merupakan karya unggulan (12 besar) sayembara gerbang tol dan area istirahat kanci-pejagan. Walaupun hanya masuk sebagai karya unggulan, tetapi merupakan prestasi yang cukup membanggakan. Padahal lawan-lawannya..wualahh…para sesepuh huebatt arsitek Indonesia pada ikut. Kami seperti semut yang menantang gajah. Tapi ternyata para gajah pada tumbang….barangkali karena lupa nilai lokal yang kita miliki sangat kaya.
2 maret 2009
yu sing







7.3.09

RUMAH ANGIN membahagiakan!

Rabu, 04/03/09
Bandung, di kantor: waduhh, bandung sekarang panas melulu!
Kamis, 05/03/09
Tangerang, Rumah Rempoa (rumah tiga, buku: ‘mimpi RUMAH MURAH’): jam 09.00, masih pakai jaket yg dipakai dari bandung sejak pagi, wuihhh kok tangerang gak panas? Padahal tidak ada jendela satupun yang dibuka. Angin di mana-mana, ini rumah angin euy! Rumah rempoa ini salah satu rumah murah yang kami desain dengan ruang keluarga 725cmx765cm. Luas banget kan? Soalnya di dalam ruang keluarga itu ada taman terbuka, tanpa di batasi dinding dengan luas 600cmx340cm, dan ada teras terbuka di dalam dengan ukuran 165cmx340cm. Teras bisa dipakai untuk nonton layar tancep,nonton bola atau pertunjukkan musik sang pemilik. Lho kok bisa? Ruang keluarganya terbuka dong? Tanpa dinding ke arah taman? Oh tentunya, banyak hal tidak mungkin di rumah mahal menjadi mungkin di rumah murah!
Pemilik rumah: ‘yu sing, di sini tiap hari banyak angin, gak usah pake ac, gak usah pake lampu, terang terus, betul-betul hemat energi! Saya ga peduli temen saya bilang gini-gitu (harusnya dicat, lantainya kalo mau lebih rapi sebaiknya begini, kok itu gak diaci,bla bla bla)soal rumah saya. Di kamar mandi saja saya senang, dindingnya kaca, terang, bisa refleksi kaki, betah.’’ini lho, sing, lemari dari sisa dolkennya yang kami buat, murah banget.’
Yu Sing (sang arsitek): ‘wah bagus bu, iya ini murah bu.’ Dalam hati: seharusnya dari dulu ibu ajarin saya buat lemari beginian, lemarinya malah lebih murah dr lemari di rumah saya! Wah betapa bahagianya, desain menginspirasi pemilik rumah bahagia tinggal di rumah dan berkarya lebih hebat dari arsiteknya yang sok tahu.

Masih di Rumah Angin, jam 10.30, datang calon pemilik rumah murah lainnya, tetangga rumah angin.
Arsitek sok tahu: ‘ bli, gimana bisnisnya? Lancar?’
Pemilik rumah (dinding atap tanaman&bilik bambu, panggung, lantai berlubang-lubang): ‘cukup lancar,sekarang sy mengembangkan usaha baru. Terinspirasi dari tulisan yu sing di blog. Kenapa yu sing bantu desain rumah-rumah murah ini?’
Yu Sing: ‘ceritanya ada semua di buku ini: mimpi RUMAH MURAH, minggu depan deh muncul di toko buku. Jadi usaha baru apa, Bli?
Pemilik rumah (rumahnya belum punya nama, belum lahir): ‘saya suka ke tempat2 wisata, sering ketemu pengemis jual-jual souvenir. Bukan jualan, tapi mengemis minta dibeli. Kualitas barangnya seringkali tidak layak. Iya kan? Saya berencana bantu mereka dengan grafis dll agar souvenirnya menarik, laku, mereka jualan, bukan mengemis. Ntar bagi hasil, sebagian untuk mengembangkan usaha di tempat lain lagi.’
Yu Sing: ‘ wah, ide bagus tuh, Bli. Asyik, betul, memang perlu tuh!’ wah bahagia 2 kali nih! Jadi ingat bahwa sukses adalah perjalanan, bukan tujuan akhir. Sukses bila tahu apa maksud Tuhan dalam hidup saya, mengembangkan terus-menerus untuk mencapai potensi maksimal, dan senantiasa menabur benih untuk memberi manfaat bagi banyak orang (john maxwell).
sesaat saya mengalami perjalanan sukses itu…
anda mau bahagia, mengalami sukses ? Coba deh bantu desain rumah murah! Kang Juju sudah mengalami bahagia desain rumah murah itu, juga 2xlipat, bahagia dalam desain & bahagia dapet hadiah – IAI Award, 2x…bukan begitu, Kang?
Bandung, 5 maret 2009
yu sing

ATLAS ARSITEKTUR TRADISIONAL INDONESIA

Sudah bukan lagi jamannya untuk kerja sendiri-sendiri, egois, pelit informasi. Sekarang saatnya untuk bekerjasama dalam segala aspek kehidupan. Tuhan memberikan potensi yang berlain-lainan pada manusia agar manusia bisa bekerjasama karena akan saling membutuhkan. Tapi coba lihat kondisi partai politik di Negara kita saat ini yang berkodi-kodi. Artinya mereka tidak bisa bekerjasama. Kalau tidak bisa bekerjasama, mana bisa membangun Negara yang besar dan banyak masalah ini menuju ke arah yang lebih baik? Mau mengandalkan partai kodian? Wualahhh… maaf ngelantur.
Berhubungan dengan soal kerjasama demi kemajuan bersama pula tadi, mungkin sekarang saatnya sekolah-sekolah arsitektur di berbagai daerah di Indonesia untuk mulai bekerjasama. Sampai saat ini kita belum punya catatan yang lengkap dan utuh yang berisi berbagai arsitektur tradisional yang ada di Indonesia. Padahal begitu banyak sekolah arsitektur tersebar di Indonesia. Kalau sekolah-sekolah yang banyak ini bekerjasama, untuk mendokumentasikan warisan arsitektur tradisional yang ada atau dekat dengan masing-masing sekolahnya, maka membuat catatan lengkap dan utuh tersebut bukan tugas yang terlalu berat. Biaya, waktu, bahan bakar bisa dihemat sangat banyak. Untuk mempermudah proses penelitiannya, buatkan saja standar minimal materi yang harus dikumpulkan, agar kualitas catatannya bisa lebih baik.
Tapi buat apa sih catatan lengkap dan utuh arsitektur tradisional Indonesia tersebut? Wualahh…catatan ini akan menjadi warisan harta arsitektur Indonesia yang sangat dahsyat, mahal, sakti. Bukan hanya akan bermanfaat bagi arsitektur Indonesia, tetapi juga pasti sangat bernilai bagi perkembangan arsitektur dunia. Catatan ini akan membuka banyak sekali jalan-jalan baru. Jalan perkembangan arsitektur lokal tingkat tinggi di masa yang akan datang. Menjadi warisan arsitektur dunia.
Caranya tidak sulit kok, hanya kerendahan hati untuk mau bekerjasama. Intinya cuman itu. Kerjasama. Karena dunia kita sudah menjerumuskan manusia menjadi mesin-mesin yang terlalu sibuk. Perlu kerjasama untuk mampu menghasilkan karya yang luas, dalam, lengkap, dan utuh. Budaya Indonesia terlalu besar, terlalu banyak, terlalu kaya soalnya.
Saya dan tim desain sudah buktikan keampuhan potensi arsitektur tradisional ini. Perjalanan Solo Jogja beberapa waktu lalu menimbulkan banyak inspirasi segar, padahal cuman dengan biaya kecil dan waktu yang terlalu sedikit, layaknya turis yang cuman sekedar melihat-lihat sesaat tanpa sempat meneliti dengan mendalam. Sayembara Gerbang Tol dan Rest Area Kanci-Pejagan yang baru lalu jadi saksinya. Karya Puisi Paradoks [pesisir jawa kini] berhasil masuk sebagai karya unggulan 12 besar. Padahal lawan-lawannya..wualahh…para sesepuh huebatt arsitek Indonesia pada ikut. Kami seperti semut yang menantang gajah. Tapi ternyata para gajah pada tumbang….barangkali karena lupa nilai lokal yang kita miliki sangat kaya. (Sayang kang Juju dan Aang tidak ikut. Lain kali ikut dong kang..nantang nih….hehehehe…peace bapak-bapak yang terhormat.)
Dari empat karya sayembara yang menggali nilai lokal, tiga di antaranya mendapat penghargaan, bahkan satu jadi pemenang pertama – yang memberikan modal untuk perjalanan Solo Jogja tersebut. Jadi..ini senjata rahasia kami, ntah buat peserta lain. Mungkin mulai saat ini akan lebih banyak lawan berat dan karya-karya bernilai lokal dalam sayembara-sayembara berikutnya. Tidak apa-apalah, supaya arsitektur Indonesia semakin berkembang, supaya sayembara semakin seru, supaya tantangan semakin besar, dan supaya kelahiran arsitektur hebat bernilai lokal semakin banyak.
Tidak heran kalau Mas Yori punya segudang karya hebat, perjalanan budayanya juga segudang. Pasti inspirasinya segudang. Tidak heran kalau Bensley dengan sang Putu Mahendra di dalamnya sangat terkenal dengan berlimpah karya-karya hebatnya. Nilai lokal selalu jadi ramuannya. Karena itu, dibutuhkan sumber inspirasi, sumber informasi, catatan lengkap dan utuh, Atlas Arsitektur Tradisional Indonesia, bagi kelahiran karya-karya hebat dan arsitek-arsitek hebat Indonesia. Bagaimana bapak-bapak dan ibu-ibu dosen sekolah arsitektur?

2 maret 2009
yu sing
arsitek, provokator, penyebar virus rumah murah & lokalitas (virus ini mematikan, sekali tertular, tidak ada penawarnya, akan semakin berkembang biak, dicintai, dan akhirnya jadi vitamin)
atlas arsitektur tradisional indonesia bukan lagi sekedar sebuah semangat.
tapi sedang menjadi gerakan.
cause nya sdh ada di facebook:
http://apps.facebook.com/causes/242932?m=3dcef1aa
saat ini sdg mengumpulkan sebanyak mungkin anggota utk kita bekerjasama.
mengumpulkan data yang lengkap dan utuh seluruh arsitektur tradisional yang ada di indonesia.
data ini pastinya akan menjadi sumber tulisan untuk menjadi warisan buat generasi ke depan. untuk kita sendiri, akan menjadi sumber inspirasi yang tidak ada habisnya.
pak eko prawoto bilang, "kita harus berpacu dengan waktu.maraknya penggunaan bahan industri serta penyeragaman peraturan bangunan sedikit banyak mengancam tradisi membangun kita yg sebenarnya beragam itu. kita mungkin masih bisa lihat artefaknya namun ketrampilan membuatnya bisa2 sudah hampir hilang juga."
semangat saya: "Sudah bukan lagi jamannya untuk kerja sendiri-sendiri, egois, pelit informasi. Sekarang saatnya untuk bekerjasama dalam segala aspek kehidupan. Tuhan memberikan potensi yang berlain-lainan pada manusia agar manusia bisa bekerjasama karena akan saling membutuhkan. "
mari dukung terus mimpi besar, kerja besar, karya besar, tugas besar, tanggung jawab besar ini.
jangan menunggu lagi siapa yang akan mengerjakan.
kita bersama-sama yang akan mengerjakan ini. demi menyelamatkan budaya bangsa, melestarikan kekayaan budaya bangsa yang perlahan-lahan sedang terkikis habis musnah.
sebelum musnah lbh banyak lagi, mari kita bergerak!
pertama-tama, dukung causenya, sambil memikirkan bersama langkah2 nyata.
apa yg bisa kita lakukan?
mari mulai kerjakan. kampanye ke sekolah-sekolah arsitektur? buat seminar2? banjiri media2 akan kesadaran ini? galang dana? buat wisata berkelompok budaya lokal untuk nambah2 dana? buat produk2 desain bermuatan lokal utk dijual? buat komunitas gak cuman arsitek tapi seniman juga, budayawan juga? bidik tempat2 budaya yg hampir mati utk dihidupkan lagi supaya menarik utk jadi tujuan t4 belajar/sekedar wisata sambil memperbaiki ekonomi rakyatnya? banyak cara yg bisa dilakukan.
budaya (arsitektur tradisional) indonesia terlalu besar,
tdk ada yg akan sanggup untuk menjangkaunya sendirian.kita harus mulai bekerja sama.lebih banyak kepala lebih baik.jangan menunggu.apalagi nunggu-nunggu pemerintah yg selalu sibuk ngurusin image diri, kuasa, dan dompet pribadi...
mari jalan!
12 maret 2009
salam
yu sing

6.2.09

mimpi RUMAH MURAH

akhirnya buku pertama ini akan segera terbit, kira-kira maret 2009. saya sangat berterima kasih untuk dukungan dari orang-orang hebat yang bersedia meluangkan waktunya untuk menjadi pembaca pertama dan memberikan semangat :

“Arsitek selalu berada di persimpangan jalan. Selalu ada beberapa jalan mudah & beberapa arah sulit. Tidak banyak yang mau mengambil jejak sulit ini: memikirkan arsitektur berkaitan dengan masalah sosial kemasyarakatan. Tapi arsitek tetaplah Arsitek! Dia akan bekerja dengan kompetensinya yaitu gubahan desain arsitektur: massa, ruang, material & biaya, yang tidak dikuasai profesi atau okupasi lain.
Yu Sing mengorbankan dirinya sekaligus berani mengambil jalan mulia yg sulit di jalur avant garde ini, bergelut dengan persoalan bangsa yang universal: papan (rumah) murah, terjangkau, tanpa sedikit pun mengurangi sikap mengejar kualitas desain. Sebuah pergulatan yang patut mendapat perhatian, sambutan & kritik yang sepantasnya!”
Ahmad Djuhara, IAI (Ketua IAI Jakarta 2006-2009)

“Tidak banyak arsitek yang berminat mengerjakan proyek rumah murah untuk masyarakat biasa. Lebih sedikit lagi arsitek yang mau menyisihkan waktunya untuk menulis dan membagi idenya kepada masyarakat luas. Yu Sing adalah salah satu dari sangat sedikit dari mereka. Di dalam buku ini Yu Sing tidak bermaksud untuk membeberkan teori arsitektur formal atau mengemukakan tekonologi arsitektur yang canggih. Melainkan menguraikan pemikiran desain lewat pengalaman bersahajanya yang kaya, lucu, unik, juga mengharukan yang dijalin erat dengan konsep-konsep desain perancangan rumah yang tidak hanya murah, tetapi juga sustainable dengan menggunakan potensi lokal, ramah lingkungan, material daur ulang hingga memberdayakan masyarakat setempat. Tidak hanya praktikal, Yu Sing juga merefleksikan gambaran arsitektur bermoral, yang selayaknya menjadi teladan.”
Imelda Akmal (Arsitek-Penulis Buku Interior dan Arsitektur)

“Yu Sing adalah seorang pengkhayal. Waktu kecil ia berkhayal mengenai dunia dimana tidak ada lagi batas negara. Sewaktu ia tuliskan, ia malu karena ia membuat karangan yang kekanak-kanakan. Tapi ternyata betul-betul terjadi. Sekarang semua orang bisa melihat bagian dunia lain lewat internet, bisa berhubungan dengan orang di bagian dunia lain lewat kamera web. Sekarang ia bermimpi, bukan cuman berkhayal, masyarakat Indonesia, dari yang miskin sekalipun, bisa punya rumah yang nyaman, sehat, unik, inspiratif. Yu Sing mulai menjalani mimpi. Mengorbankan diri membantu desain rumah murah dengan jasa desain murah. Sejak awal Yu Sing sadar, jalan ini penuh dengan resiko. Jasa desain rumah murah jelas-jelas kecil. Tidak rugi saja sudah luar biasa bagus. Tapi Yu Sing percaya, bahwa rumah yang inspiratif akan mempengaruhi kualitas hidup sehari-hari menjadi lebih positif. Kondisi masyarakat akan menjadi lebih positif nantinya, demikian Yu Sing.
Apa yang menjadi mimpi bagi Yu Sing, bisa menjadi terobosan bagi kehidupan orang banyak. Rumah merupakan unsur utama dalam memberikan kenyamanan hidup, terutama ketenangan bagi suatu keluarga untuk menempuh hidup yang produktif lepas dari tekanan mental. Tapi rumah adalah pos biaya yang paling besar bagi budget kebanyakan orang. Mulai dari lahan, bahan dan design. Dari ketiga ini, design sebetulnya bisa ditekan biayanya atas dasar kesanggupan seorang arsitek. Tidak semua arsitek sanggup dan mau memberian subsidi sosial atas dasar kemampuan merancang. Yu Sing sanggup dan mau. Melalui buku ini, ia sediakan karya hidupnya untuk dinikmati sesuai selera dan kebutuhan setiap orang yang perlu rumah tanpa biaya besar.”
Wimar Witoelar

“Tulisan pengalaman pribadi seorang arsitek tentang perancangan rumah murah ini sangat menarik dan sangat bermanfaat untuk dibaca oleh orang awam, para calon arsitek, bahkan oleh para arsitek profesional sekalipun. Bagi orang awam buku ini akan memberikan pemahaman tentang arsitektur rumah tinggal yang baik dan tentang peranan arsitek dalam menghasilkan rancangan yang baik dan benar dengan bahasa yang cukup mudah dipahami. Para mahasiswa calon arsitek akan diuntungkan karena dapat mempelajari metoda merancang dan produk rancangan yang beragam untuk banyak kasus yang berbeda-beda yang sulit mereka temui di buku-buku teks. Bagi para arsitek profesional buku ini menawarkan suatu sudut pandang tentang profesi arsitek khususnya mengenai proyek-proyek rumah murah, dan cara-cara menikmati berprofesi sebagai arsitek; sesuatu hal yang barangkali perlu ditemukan kembali oleh para arsitek yang terlalu larut dalam kesibukan rutin dan teknis. Bagi siapapun, buku ini pantas dibaca sebagai kisah pribadi tentang dedikasi dan kecintaan seseorang akan profesi yang dipilih serta ditekuninya.”Eko Purwono (Dosen Arsitektur ITB, purwono@ar.itb.ac.id)

“Buku ini bercerita tentang sebuah semangat. Sebuah semangat berarsitektur ke masyarakat menengah bawah. Sebuah semangat bahwa arsitektur adalah milik semua. Sebuah semangat yang sangat menggugah dari seorang arsitek bernama Yu Sing.”
Ridwan Kamil (Arsitek dan dosen Arsitektur ITB)

kata pengantar
Walaupun buku ini diberi judul “mimpi RUMAH MURAH”, saya belum pernah bermimpi sebelumnya untuk menulis buku ini. Sampai suatu saat pihak penerbit mengirimkan email yang isinya menawari saya kesempatan untuk menulis buku tentang desain rumah murah. Mulanya saya menolak karena dua alasan. Pertama, saya bukan penulis. Kedua, kalaupun ada niat membukukan, saya ingin menunggu sampai karya-karya tersebut selesai dibangun. Namun, melewati diskusi yang cukup panjang, akhirnya saya mulai terbujuk. Saya beranikan diri untuk mulai menulis dengan harapan bahwa buku ini akan bermanfaat bagi banyak orang yang masih bermimpi untuk memiliki rumah sendiri.
Komitmen saya untuk membantu desain rumah murah memang merupakan salah satu jawaban atas pertanyaan “buat apa sih saya HIDUP?”. Pertanyaan ini saya ajukan kepada diri saya sendiri pada awal masa kuliah di jurusan arsitektur. Melalui berbagai keluh kesah (yang tidak berguna apapun) terhadap kondisi arsitek dan arsitektur di tengah masyarakat luas, perenungan, serta pengalaman membangun rumah sendiri dan rumah ibu saya, akhirnya saya menetapkan cita-cita untuk membantu desain 100 rumah murah dengan jasa desain murah. Mengapa 100? Anggaplah satu tahun saya membantu desain 5 rumah murah, maka 100 bukan jumlah yang terlalu sedikit atau terlalu sulit untuk dicapai. Mudah-mudahan saya dianugerahi umur panjang untuk mencapai cita-cita itu. Paling tidak inilah sumbangsih saya dalam memasyarakatkan arsitektur.
Saat ini masih banyak anggapan bahwa jasa desain arsitek itu mahal, sehingga banyak sekali rumah atau bangunan skala kecil sampai menengah yang dibangun tanpa keterlibatan arsitek. Akibatnya, justru jauh lebih mahal daripada penghematan biaya perencanaan jasa desain arsitek. Wajah fisik kota kita menjadi semakin menurun kualitasnya karena kehadiran bangunan-bangunan yang kurang sedap dipandang mata. Karena itu, batasan ‘murah’ dalam konteks rumah murah ini masih agak longgar. Tujuannya agar dapat melayani lebih banyak orang, sehingga mereka bisa mengalami karya arsitektur yang didesain dengan serius. Harapannya kelak peran arsitek sebagai perencana desain bangunan akan semakin dihargai, dibutuhkan, bahkan diinginkan oleh masyarakat banyak. Selain itu, rumah juga merupakan ruang utama yang menjadi pusat pertumbuhan dan pembentukan kualitas manusia. Saya percaya ruang-ruang hidup sehari-hari yang berkualitas akan mendorong sikap hidup menjadi lebih positif. Nantinya, kualitas hidup manusia-manusia positif ini seharusnya bisa ikut menentukan wajah bangsa kita menjadi lebih baik.
Ternyata tanggapan masyarakat sangat mengejutkan saya! Belum sampai 6 bulan, sudah ada lebih dari 40 keluarga dari berbagai daerah di Indonesia yang menghubungi saya untuk minta bantuan desain. Berbagai daerah tersebut, yaitu: Aceh, Medan, Riau, Jambi, Pekanbaru, Palembang, Batam, Depok, Tangerang, Jakarta, Bekasi, Bandung, Lembang, Majalengka, Majalaya, Margahayu, Bojongkoneng, Sukabumi, Bogor, Solo, Jember, Kediri, Gresik, Salatiga, Lombok, Pontianak, Timika Papua. Hal ini betul-betul memberikan semangat dan tentunya kesibukan tambahan buat saya. Belum semuanya mengembalikan data-data yang saya minta sebagai dasar untuk memulai desain. Saat ini baru sekitar 17 rumah yang sudah selesai atau dalam proses desain. Mungkin saja keluarga-keluarga yang tidak mengembalikan data tersebut tidak jadi menggunakan jasa desain saya karena alasan tertentu (walaupun sampai saat ini saya masih menunggu data-data tersebut). Namun saya pun amat memaklumi adanya sebagian keluarga yang tidak jadi membangun atau merenovasi rumahnya karena dananya dipakai untuk keperluan lain.
Buku ini berisi tentang perjalanan desain 8 rumah murah dengan berbagai kebutuhan, konteks, dan permasalahan yang berbeda-beda. Sebagian besar desainnya sudah disetujui atau sedang dibangun dan ada 2 rumah yang masih dalam proses asistensi dengan pemiliknya. Di dalamnya berisi mimpi dan keinginan masing-masing keluarga pemiliknya. Masing-masing rumah didesain sesuai dengan karakter pemiliknya, serta merupakan pilihan desain yang mempertimbangkan berbagai pemikiran yang disesuaikan dengan konteks persoalannya. Seluruh rumah didesain antara bulan April sampai Agustus 2008. Berbagai cerita dan pendekatan desain, diharapkan dapat memberikan gambaran kepada pembaca bahwa peran arsitek dalam memperkaya sensasi ruang, memiliki kemungkinan eksplorasi desain yang tidak terbatas, walaupun dibatasi oleh dana. Memang tidak semuanya merupakan solusi desain yang paling murah, karena memang konteksnya tidak menuntut desain yang paling murah.
Mudah-mudahan berbagai penyelesaian desain dalam buku ini betul-betul dapat memberikan inspirasi kepada para pembaca, terutama yang masih bermimpi untuk punya rumah sendiri meskipun memiliki keterbatasan dana. Memang jumlah masyarakat Indonesia dengan kondisi ekonomi yang belum sejahtera masih tergolong banyak. Walaupun demikian, sebetulnya solusi desain rumah murah sangat sesuai dengan konteks zaman saat ini, tidak hanya bagi masyarakat yang kurang mampu. Pemanasan global memaksa kita untuk mengutamakan semangat hemat energi dan arsitektur berkelanjutan, sehingga desain yang tidak mahal dalam pembangunannya pun merupakan penghematan yang cukup berarti. Lagipula indah itu seumpama dua wanita. Wanita yang satu memiliki penampilan fisik yang cantik. Namun setelah kenal lebih dekat, ternyata wanita cantik tersebut memiliki sifat dan tabiat yang sangat buruk. Ada juga wanita kedua, yang dari penampilan luarnya terlihat sederhana, namun ternyata memiliki pemaknaan yang sangat luas tentang kehidupan, keseimbangan alam, hubungan positif antar manusia, serta nilai-nilai luhur yang berhubungan dengan kekekalan. Maka, wanita kedua ini dapat kita pandang sebagai keindahan, yang lebih dalam nilainya daripada sekedar kulit atau kosmetik. Dalam konteks rumah, maka nilai indah dapat berupa pemanfaatan material daur ulang, kemudahan perawatan, kemudahan pembuatan, penghematan material, sikap ramah lingkungan, tata ruang yang baik dan lain-lain. Begitu juga dengan kemewahan, sebaiknya dilihat dari kualitas ruang-ruang yang terbentuk, bukan dari mahalnya material yang digunakan. Kehadiran ruang yang sesuai kebutuhan dengan kekayaan sensasi ruang, merupakan kemewahan bagi sebuah rumah murah. Mahal memang belum tentu indah dan indah tidak selalu harus mahal.
Bandung, 17 Oktober 2008
yu sing
mimpi membantu desain sejuta rumah murah.

mudah-mudahan buku ini dapat memberikan manfaat dan inspirasi terutama buat masyarakat yang masih bermimpi untuk punya rumah sendiri.
6 februari 2009, yu sing


http://books.google.co.id/books?id=zrTHzW0OLAUC&pg=PT1&lpg=PT1&dq=yu+sing&source=bl&ots=nRqgZPwnMP&sig=CJ38ClE7f6JPgEygRpWqosqdh9w&hl=id&ei=8uW8Sq7kMsnykAWAw9SyDQ&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=8#v=onepage&q=&f=false

http://kosmo.vivanews.com/news/read/61754-bangun_rumah_murah__bukan_hanya_mimpi

19.1.09

buku tentang arsitektur nusantara kini

Latar belakang
Indonesia adalah negara dengan sejuta budaya. Keanekaragaman memang sudah menjadi kekayaan negara ini bahkan sejak belum bernama Indonesia. Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar (tapi bukan negara dengan jumlah pulau terbanyak), dan kemungkinan juga negara dengan jumlah budaya terbanyak. Demikian pula dengan arsitekturnya. Keanekaragaman arsitektur tradisional Indonesia merupakan harta melimpah yang dapat menjadi sumber inspirasi yang tidak ada habisnya.

Buku tentang arsitektur nusantara kini akan merupakan kumpulan karya arsitek indonesia (termasuk mahasiswa), yang mengangkat nilai lokalitas nusantara sebagai sumber inspirasi desainnya. Ini merupakan tanggung jawab yang besar dan proyek buku yang penuh harapan bagi kami para penyusun. Mudah2an menjadi catatan penting buat perkembangan arsitektur indonesia, dan bukan tidak mungkin menjadi rujukan arsitektur indonesia bagi dunia arsitektur global. Ini juga sebuah langkah menembus dinding, menulis tentang kekayaan (arsitektur) kenusantaraan oleh anak bangsa indonesia sendiri. Kita semua tahu bahwa tulisan2 bagus tentang budaya nusantara kebanyakan ditulis atau lebih dulu ditulis oleh orang-orang asing.Kontribusi rekan-rekan arsitek dan mahasiswa dalam mengirimkan karya kenusantaraannya kepada kami merupakan langkah penting bagi eksistensi arsitektur nusantara masa kini. kami menunggu kiriman karya dari rekan-rekan, sampai akhir februari 2009. mari menyongsong dunia arsitektur indonesia yang lebih bergairah dan penuh makna di masa depan.

Undangan sebagai kontributor buku arsitektur
Kepada seluruh rekan-rekan, melalui tulisan ini kami bermaksud untuk mengundang seluruh rekan-rekan arsitek untuk menjadi kontributor penerbitan sebuah buku arsitektur. Buku ini akan berisi tentang karya-karya arsitektur masa kini yang mengangkat/mengandung nilai-nilai lokalitas nusantara sebagai inspirasinya. Hal ini merupakan salah satu upaya kami untuk memasyarakatkan arsitektur dalam konteks kenusantaraan, menggali kekayaan arsitektur nusantara, sekaligus mendokumentasikan karya-karya para arsitek Indonesia yang mengangkat nilai-nilai lokal. Mudah-mudahan buku ini akan memberikan sumbangan catatan sejarah terhadap perkembangan arsitektur nusantara. Partisipasi rekan-rekan arsitek untuk menjadi kontributor sangat kami harapkan. Kami juga mohon bantuan rekan-rekan juga untuk menyebarkan undangan ini.

Penyusun : Josef Prijotomo, Galih Widjil Pangarsa, Yu Sing
Email : arsitektur_nusantara_kini@yahoo.com

Petunjuk pengiriman karya :
- setiap karya dikirimkan melalui email ke: arsitektur_nusantara_kini@yahoo.com
DAN dalam bentuk CD & hasil print dlm kertas A4 (yang berisi tim desain, penjelasan karya dan foto2/gambar2 dengan resolusi yang tinggi, dan data lengkap identitas pengirim) ke alamat: yu sing, jl.semar 34 bandung 40171, telp 022 6018247
(jadi ada 3 set materi yg perlu dikirimkan: email, CD&hasil print lewat pos)
- karya yg dapat dikirimkan adalah karya arsitektur yg berhubungan dengan nilai-nilai lokalitas terhadap konteks masa kini (lihat sinopsisnya pak josef prijotomo). Karya arsitektur dapat berupa proyek yang sudah dibangun, yang sedang dibangun, yang akan dibangun, maupun yang belum/tidak terbangun.
- max 1MB total utk setiap pengiriman email yg berisi 1 karya dengan isi penjelasan karya maupun foto2/gambar2nya (dalam email tidak perlu gbr lengkap, dalam cd gambar lengkap), file karya berupa pdf atau word, di dalam ukuran lembar A4
- tiap arsitek/tim/konsultan boleh mengirimkan lebih dari 1 karya
- judul file & email (subject) diatur sbb: fungsi bangunan - nama proyek - nama arsitek utama/tim/konsultan
(contoh: museum – sayembara museum tsunami aceh – ridwan kamil/urbane). utk proyek sayembara, di depan nama proyek ditulis keterangan sayembara.
- setiap karya yg masuk akan diseleksi oleh penyusun

Sinopsis : (dr pak josef prijotomo)
sinopsis lokalitas masakini [buram/draft] 1

sebuah tesa dilontarkan bagi penghimpunan karya-karya yang dengan nyata memperlihatkan kesertaan arsitektur nusantara oleh para arsitek masakini. Kesertaan arsitektur nusantara hanya dimungkinkan kalau dari para arsitek itu ada kemauan terlebih dulu, baru diikuti oleh kemampuan.
Ada kemauan untuk menyertakan kenusantaraan dalam karya rancang, itu kemauan yang pertama. Yang kedua, kemauan untuk meyakinkan klien bahwa penyertaan nusantara tidak menjadikan karya arsitekturnya kalah 'hebat' daripada karya yang tidak menyertakan nusantara.
kemampuan menyertakan sudah barang tentu tidak merupakan masalah besar karena dengan kemauan keras dari arsitek perancang, pengenalan dan pemahaman akan kenusantaraan ini akan dapat dengan mudah diterapkannya dalam rancangan. selanjutnya, meski kemauan menggeluti kenusantaraan telah dipenuhi, kemauan untuk berdialog dengan klien dalam menusantara adalah tantangan yang harus dihadapi arsitek. Ada saja arsitek yang mesti membuat pertimbangan-pertimbangan sehingga akhirnya harus mengurungkan niatnya untuk menggunakan kenusantaraan dalam arsitekturnya. Bersyukur memang, kalau menjumpai klien yang dengan penuh ikut mendukung niatan arsitek untuk menusantara dalam karya arsitekturnya.

harus diakui bahwa ihwal menusantarakan arsitektur adalah 'barang baru' bagi perjalanan arsitektur di Indonesia. Namun kalau kita mau menyetarakan kenusantaraan ini dengan keklasikan di arsitektur manca [=barat], kita akan menemui sejumlah publikasi hasil penelitian dan pengkajian atas arsitektur klasik yang disertakan pada garapan masakini, salah satunya adlah dari Robert AM Stern dalam bukunya yang berjudul Modern Classicism. Pada garisbesarnya, Stern mengenali pengklasikan di karya masakini dengan memeriksa intensitas keklasikan yang disertakan dalam garapan masakini. Di situ, keklasikan dipilah menjadi keklasikan yang indrawi (visual) dan yang tan-indrawi (non-visual, misalnya tatanan/order klasik). Dengan menggunakan hasil kerja Stern ini pula sebagai pembuka jalan, penghimpunan atas karya-karya yang menusantara ini dilakukan. Mengingat bahwa sasaran utama dari himpunan ini adalah untuk memperlihatkan kemampuan nusantara untuk disertakan dalam rancangan dan garapan masakini, maka yang diutamakan dalam suguhan di buku ini adalah kesertaan nusantara yang indrawi; sedang yang tan-indrawi masih belum disuguhkan.
dalam menimbang kesertaan nusantara, berikut ini akan (diusulkan untuk) dilakukan pemilahan sebagai berikut.
-kesertaan wujudiah - kenusantaraan dihadirkan sebagai 'copy' dan karena itu nyaris tak dilakukan pengubahsuaian (modification). Bisa saja merupakan penghadiran yang menyeluruh (misal, yang dilakukan Terry Farrell), bisa pula hanya fragmen atau segmen saja (misal, Charles Moore di Piazza d'Italia).
-kesertaan sosok - kenusantaraan 'ditangkap' sebagai semacam siluet saja, dan karena itu dapat dikatakan sebagai nusantara yang disuguhkan sebagai gubahan geometri dwimatra (dua dimensi). Misanya seperti yang dilakukan oleh Graves di Humana Building atau Robert Venturi di Vanna Venturi House.
-kesertaan kenangan - wujud atau sosok nusantara tidak tersaksikan, akan tetapi dengan menikmati penggunaan bahan, warna serta tekstur dapat dengan langsung membuat orang terkenang atau teringat pada kenusantaraan (misal, garapan aldo Rossi dan Mario Botta)

pasti akan ada komentar atau malah protes, mengapakah kenusantaraan yang ditangani di sini lebih tertuju pada rupa atau bentuk, dan tidak pada ruang arsitekturalnya. Terhadap komentar atau protes seperti itu, jawabannya adalah sebagai berikut. Rupa indrawi arsitektur merupakan gerbang bagi jelajah arsitektur yang lebih mendalam baik dalam skala masyarakat maupun dalam lingkup arsitek dan calon-calon arsitek; sedang ruang arsitektur merupakan gerbang bagi jelajah akademik dan eksklusif arsitek. sasaran utama memperlihatkan kemampuan nusantara untuk ikutserta dalam kehadiran arsitektur masakini diyakini juga jauh lebih berhasil bila diawali dengan mengapresiasi pesona indrawi arsitektur (bagaikan wanita, yang cantik lebih mampu menyedot perhatian daripada yang biasa-biasa saja). Sementara itu, sebenarnya perlakuan dan sikap yang setara atas ruang dan atas bentuk arsitektur (dan yang menempatkan bentuk saja) adalah sah-sah saja adanya, bukan? Hanya dalam sisi tinjau dan konteks yang tertentu saja ada yang meyakini bahwa ihwal ruang adalah yang pertama dan utama; sekali lagi, itu bukan satu-satunya sisi tinjau dan konteks.

7 januari 2009
yu sing