20.4.12

papan untuk semua: rumah keluarga uay


Rumah keluarga Uay (tukang ojek, menikah, 2 anak) di dago giri rusak berat. 





Saya adalah seorang arsitek dan proyek "Papan Untuk Semua: Atap untuk Rumah Uay" adalah sebuah proyek filantropi yang saya gagas melalui situs wujudkan.com untuk penggalangan dananya. 
( http://wujudkan.com/projects/detail/40/papan-untuk-semua-atap-untuk-rumah-uay )
Uay adalah seorang tukang ojek dengan kondisi rumah yang membahayakan kondisi penghuninya/tak layak huni. Saya mendesain rumah baru untuknya.





denah lantai 1 sebagai ruang multifungsi,
dipersiapkan untuk rumah uay bisa tumbuh (di bagian bawah) 
tanpa harus membongkar rumah sebelumnya yang telah terbangun nanti.

denah lantai 2 terdiri dari 2 kamar tidur, 1 ruang multifungsi, balkon.

Saat ini pondasi dan septic tank telah selesai, sementara rangka rumah sedang dikerjakan. Seluruh pengerjaan rumah akan dilakukan sendiri oleh Uay dengan dibantu tetangga-tetangganya dan tukang kayu yang mendampingi. Dan saya sendiri tidak memungut biaya atas jasa arsitektur yang saya berikan. Seluruh donasi yang terkumpul akan digunakan untuk membeli bahan bangunan untuk pengerjaan atap.
Melalui proyek ini, saya ingin memasyarakatkan fungsi/tugas sosial arsitek, antara lain dengan: 
- Mendesain rumah murah yg sesuai dengan kebutuhan penghuninya 
- Meningkatkan kualitas hidup orang-orang di sekitarnya dengan memberikan mereka rumah yang aman untuk ditempati pemiliknya serta menjawab kebutuhan dasar akan tempat tinggal.
Proyek Atap untuk Rumah Uay ini dimaksudkan sebagai proyek percobaan untuk bisa berlanjut guna mendukung penerima bantuan lainnya, dengan cara memberikan bantuan dalam bentuk pinjaman. Penting bagi si penerima pinjaman untuk memahami perlunya ia memenuhi komitmennya untuk mengembalikan pinjaman yang diperolehnya agar proyek serupa ini bisa berlanjut untuk penerima bantuan berikutnya. Ringkasnya, proyek ini lebih tepat untuk dilihat sebagai ajakan gotong-royong jangka panjang yang bersifat filantropis dan ditujukan untuk mencari solusi jangka panjang, bukan sekedar bantuan sosial jangka pendek yang sering didasari oleh rasa iba semata.
Penggalangan dana akan dilangsungkan dalam beberapa tahap. Tahap pertama untuk membeli bahan bahan pembuatan atap. Jika tercapai, maka saya bisa menjalankan fase berikutnya, yaitu pembangunan dinding, dan lalu kamar mandi



Sekarang struktur rangka kayu (bekas) rumahnya telah berdiri dan hampir selesai. Dana yang terkumpul dari para donatur melalui wujudkan.com akan digunakan untuk membangun atap rumah uay, dan berlanjut ke bagian-bagian rumah lainnya. Terima kasih untuk perhatian dan dukungan dana dari teman-teman donatur yang membantu mewujudkan rumah keluarga uay.






struktur rangka kayu bekas yang telah selesai dipasang
atap sudah selesai

lantai juga mulai dipasang

tidak lama lagi dinding juga dapat dikerjakan

pemandangan dari lantai 2 rumah keluarga uay

05 oktober 2012
Teman-teman yang baik, rumah keluarga Uay sudah ditempati sejak sebelum hari raya lebaran. Saya minta maaf karena baru sempat memberi update hari ini, akibat jatuh dari motor dan tangan kanan cidera.
Tapi inilah foto-foto dari rumah Uay (oleh gustav anandhita) yang sudah jadi . Terima kasih untuk teman-teman semua. Berkat dukungan teman-teman dan Wujudkan.com, Kel Uay bisa berlebaran dengan tenang di rumah mereka yang kini aman/layak huni.

















salam
yu sing




16.4.12

sama seperti pohon, manusia juga bertumbuh

Rumah yu sing seperti apa sih? Saya cukup sering ditanya begitu. Mereka bertanya, biasanya mahasiswa arsitektur atau klien saya, setelah melihat karya-karya saya bersama tim lainnya yang mereka anggap unik atau tidak umum. Misalnya studio akanoma (asal katanya akar anomali) tempat saya dan tim berkarya, yang dinding dan lantainya terbuat dari bambu palupuh (istilah sunda untuk batang bambu yang dibelah-belah tanpa terputus menjadi rata, bambu keprek), serta banyak menggunakan material bekas (kaca mobil, tripleks bekisting, kayu, genting, kotak krat minuman, botol).


Rumah saya dibangun 8 tahun lalu. Dan selama delapan tahun itu, saya bersyukur bisa terus bertumbuh. Belajar banyak hal. Apa yang terjadi saat ini adalah proses yang telah dimulai sejak delapan tahun lalu. Delapan tahun lalu pun, proses dari tahun-tahun sebelumnya. Begitu seterusnya mundur ke belakang. Proses bertumbuh itu pula yang akan membuat karya-karya saya dan tim terus berbeda.

Dulu sewaktu masih mahasiswa, saya tidak suka arsitektur tradisional. Sekarang malah belajar lagi untuk mencari inspirasi.

Dulu saya tidak suka klasik. Sekarang saya suka sebagian klasik, sebagian lagi tetap tidak suka. Tapi melihat bahwa klasik itu sendiri bukan (seluruhnya) tidak bagus.


Dulu saya banyak tidak sukanya, sekarang saya melihat banyak hal lebih indah dalam konteksnya masing-masing.

Indah atau tidak memang sangat dipengaruhi oleh persepsi kita (sedikit penjelasan tentang persepsi dapat dilihat di buku saya 'mimpi rumah murah' terbitan trans media pustaka). Makin luas rasa keindahan yang bisa kita lihat dalam banyak hal, artinya kita makin bertumbuh.

Seperti pohon, makin tumbuh tinggi, makin luas sudut pandangnya terhadap dunia sekitar.


Sesuatu yang hari ini kita lihat belum bagus, mungkin saja tiga empat tahun kemudian kita lihat bagus. Karena sudut pandangnya sudah berubah. Ini sering saya alami sendiri. Piring dengan motif bunga-bunga tertentu dulu saya lihat kok norak, tapi sekarang saya lihat malah menarik. Karena itu saya tidak percaya kepada pendapat pribadi saja kalau menyangkut bagus atau kurang bagus.


Dalam mendesain, saya sering bertanya kepada tim desain (yang merupakan asisten-asisten saya) apakah ide tertentu bagus atau tidak. Mereka lebih suka yang mana. Beberapa kali juga terjadi kalau mereka bilang bagus, maka saya bisa juga melihat bagus, padahal sebelumnya saya rasa kurang bagus. Walaupun tidak selalu demikian, tapi pendapat lebih banyak orang juga merupakan hal yang penting untuk dipertimbangkan. Apalagi yang sedang didesain atau diputuskan bukan untuk diri sendiri. Ketika diskusi desain, biasanya lebih banyak ide-ide bagus mengalir padahal ketika mengerjakannya sendirian sudah mentok rasanya.


Dalam bertumbuh, yang ada di atas tidak lalu meninggalkan yang di bawah. Tanpa batang dan dahan pohon yang kuat di bawah, ranting dan dahan pohon yang tumbuh ke atas bisa patah. Rumah saya sejak 8 tahun lalu adalah anugerah. Saya bukan terlahir di keluarga kaya. Orangtua saya tinggal di rumah nenek saya sampai rumah itu dijual dan kemudian mengontrak rumah ke sana ke sini. Tahun 2004 saya membangun rumah sendiri bersama istri saya. Agak nekat karena dananya sangat terbatas. Pengalaman (mendesain maupun membangun) juga belum banyak. Masih banyak kekurangan di sana-sini, tapi sekarang kami masih tetap bisa menikmati berbagai pengalaman menyenangkan bila pulang ke rumah.


Satu hal baru yang kami nikmati adalah kolam di depan rumah sudah lama tidak lagi pakai pompa untuk memutar airnya. Sudah lama pula tidak perlu lagi dikuras. Tapi airnya jernih berkat berbagai pohon air yang hidup cukup sehat. Teratai yang dulu hanya di dalam pot besar yang disimpan di kolam, sekarang sudah beranak tumbuh dari dasar kolam. Debu, tanah, sisa daun, kotoran yang mengendap di dasar kolam menjadi media tumbuhnya teratai baru yang sama besarnya dengan teratai induknya. Rumah kami masih terus bisa dinikmati dan akan terus ikut bertumbuh bersama kami yang sekarang telah punya seorang anak berusia empat tahun empat bulan.


Anugerah ini tidak hadir begitu saja. Bertahun-tahun kami berjuang untuk menghemat dan membayar cicilan arisan dan kredit. Saya percaya juga Sang Pencipta membantu perjuangan kami dan selalu mencukupkannya. Keputusan mencari sepetak tanah (murah), membeli, mendesain, kemudian membangun rumah adalah pilihan hidup yang penting dan menjadi dasar bagi pertumbuhan yang terjadi tahun-tahun selanjutnya.


Tidak ada yang tidak mungkin, sepertinya ini slogan yang klise. Tapi itu terjadi. Saya bisa lulus kuliah saja sudah sulit karena biaya hidup keluarga saya dulu juga masih harus diperjuangkan.Tapi akhirnya saya punya rumah sendiri yang cukup luas, 100 m2, di usia pernikahan kami yang baru menginjak tahun ketiga kala itu. Di saat bagi kebanyakan orang punya rumah di Indonesia sangat tidak mudah.

Sekarang saya ingat klien-klien saya yang masih berjuang untuk punya rumah. Sebagian baru mimpi. Sebagian sudah mulai menyongsong mimpi yang jadi kenyataan. Saya yakin, rumah adalah impian yang dapat diraih melalui terus berjuang. Rumah sumber bertumbuh dan inspirasi hidup di masa yang akan datang. Pohon saja bisa bertumbuh, manusia pasti bertumbuh. Ayo kita terus bertumbuh!


rumah, cimahi selatan, 15 april 2012,

yu sing

12.4.12

keadaan saling bergantung (interdependency)

Bali. Orang bilang surga dunia. Saya bilang sumber inspirasi. Tidak heran begitu banyak orang asing dari tempat yang jauh berlibur ke bali. Alam bali memang mempesona. Begitu juga budaya, spiritualitas, dan manusia bali. Entah mana lebih dulu. Wisata berkembang lalu manusia bali menjadi ramah dan terbuka pada wisatawan. Atau manusia bali yang terbuka dan bersahabat membuat wisata menjadi berkembang.

Tentu saja tidak menutup mana bahwa perkembangan wisata yang begitu pesat juga membawa dampak-dampak negatif. Selalu ada hitam ada putih. Ada siang ada malam. Tetapi kali ini mari kita melihat inspirasinya.

Sekali waktu saya dan keluarga menginap di hotel yang sangat menyenangkan di ubud. Pegawai hotelnya ramah dan kalau bertemu menyapa saya dengan nama, tidak hanya panggilan 'Pak' saja.
Dan kami sangat beruntung (atas kebaikan klien saya) mendapat kamar di lantai dua salah satu vilanya yang berbentuk lumbung dan punya teras sendiri yang sangat luas dengan ukuran 3m x 4m. Pemandangan dari teras berupa hamparan sawah hijau yang luas dengan pepohonan tinggi dan rapat di belakangnya, luar biasa memberikan ketenangan dan keteduhan. Angin sepoi-sepoi, suara berbagai fauna sawah dan pohon, teras kayu, atap alang-alang menambah keistimewaan pengalaman yang tidak terlupakan. Arga anak saya yang baru empat tahun langsung berteriak-teriak riang. Kamar hotel ini memang luar biasa. Biasanya perlu memesan beberapa bulan sampai 6 bulan sebelumnya. Pengalamannya bahkan bisa menandingi kamar salah satu hotel bintang lima di ubud yang telah mendapat berbagai penghargaan internasional dan didesain oleh arsitek indonesia yang sangat terkenal.

Sawah yang luas membuat hotel ini dan hotel-hotel di sebelahnya menjadi istimewa. Keadaan ini menciptakan hubungan yang saling bergantung antara hotel dan sawah. Maka hotel juga akan memelihara sawah (yang sebagian memang dimiliki hotel) agar lestari. Berbeda dengan banyak perumahan atau hotel dan fungsi-fungsi lainnya yang dibangun dengan menutupi sawah yang telah ada sebelumnya, hotel ini sebagian lahannya dipertahankan berupa sawah. Investasi atas lahan yang tidak rugi sama sekali karena hotel menjadi sangat laku (walaupun jumlah kamarnya berkurang bila dihitung bahwa lahan sawah yang luas itu bisa dibangun kamar juga).

Keadaan saling tergantung antara hotel dengan sawah membuat sawah lebih lestari. Begitu pula ekowisata. Keadaan saling tergantung antara perkembangan wisata dengan kelestarian alam, budaya, dan kesejahteraan masyarakat. Bila ini disadari dan dikembangkan dengan baik, sebetulnya sejak dahulu kita tidak perlu susah berhadapan dengan perubahan iklim dan turunan-turunan masalahnya.

Sejak dahulu manusia indonesia telah bergantung pada alam. Kita bisa melihat betapa banyak hukum adat dari berbagai suku yang mengatur tentang kelestarian alam. (Tetapi saat ini justru masyarakat adat hanya menjadi kurang berdaya dengan keadaan hutan yang semakin sedikit karena sebagian besar hak penebangan hutan diberikan kepada pengusaha dengan hasil upeti tertentu kepada penguasa). Beberapa masyarakat adat sampai hari ini masih mengkeramatkan hutan mereka, karena hidup mereka bergantung pada hutan tersebut.

Bila ditinjau lebih jauh, secara sederhana kita akan menemukan keadaan saling tergantung lainnya. Saya pernah coba sebagian kecil proses membuat batik. Ternyata susahnya minta ampun. Sebelumnya saya yang sudah suka, menjadi semakin menghargai dan menyukai batik karena lebih mengetahui kesulitan proses pembuatannya. Seni kerajinan batik bertumbuh kembali karena makin banyak orang yang menyukai dan menghargai batik.

Dalam desain saya banyak sekali menggunakan kayu sebagai salah satu material yang terus dieksplorasi. Saya semakin mencintai kayu. Dan juga mencintai pohon juga hutan. Semoga suatu saat tercapai cita-cita punya kebun pohon (kayu) yang cukup luas. Keadaan saling bergantung.

Manusia bergantung pada air dan saya mengajarkan arga anak saya untuk menghargai air. Kota yang nyaman adalah kota yang bersih dan saya mengajarkan arga untuk membenci buang sampah sembarangan. Manusia bergantung pada sesamanya, mari kita saling menyebarkan kasih sayang. Mari sadari dan ciptakan keadaan-keadaan saling bergantung yang positif agar alam dan budaya (yang telah rusak) menjadi lebih baik dan lestari, serta kesejahteraan masyarakat bisa tercapai. Saya yang berprofesi sebagai arsitek mulai bergantung pada kekayaan arsitektur kepulauan indonesia yang sangat beragam.

bandung, 10 april 2012
yu sing




2.4.12

daya bayang ruang rendah

Di sma kelas tiga, semua murid di sekolah saya akan mengikuti psikotes, sebagai bekal untuk menentukan jurusan di perguruan tinggi. Saya lupa hasil tes IQ saya berapa waktu itu, tetapi yang pasti masih rata-rata atau paling tidak sedikit di atasnya. Tapi saya ingat jelas bahwa nilai daya bayang ruang saya rendah. Karena itu jurusan arsitektur tidak menjadi salah satu yang direkomendasikan. Tapi saya belum sepenuhnya mengerti apa maksudnya dan akibatnya dengan daya bayang ruang yang rendah.

Memang nilai ulangan matematika dimensi tiga saya jeblok. Cuma dapat nilai 4 kalau tidak salah ingat. Tetapi itupun nilai tertinggi di sekolah cuma 6. Banyak teman saya yang dapat nilai 0. Nilai 4 ketika ulangan itu, termasuk lumayan. Soal ulangannya memang luar biasa susah. Selain ada hitungannya, soal ceritanya dibuat berbelit-belit dan harus dibayangkan pertemuan berbagai garis dan bidang di dalam volume geometris tertentu. Padahal biasanya nilai ulangan matematika saya antara 8 sampai 10. Tapi saya tidak sedih. Teman-teman saya juga tidak sedih. Kami ketawa-ketawa saja. Karena memang nilainya hancur semua. Jadi kami semua sama, senasib, jadi tidak sedih. Beda lagi kalau nilai saya 4 tapi yang lain di atas 6 dan ada yang dapat 8 atau 9. Pasti saya sedih dan menyesal kenapa tidak bisa. Ternyata lingkungan memberi pengaruh yang besar. Mungkin memang sebaiknya kita berkumpul di lingkungan teman-teman yang baik dan pintar agar kita terbawa baik dan pintar. Tapi bukan berarti teman-teman satu sekolah saya tidak pintar. Itu sih kondisi khusus. Guru laki-laki matematika saya sepertinya lagi pamer sama teman saya yang perempuan dengan membuat soal yang susah sekali.

Hasil psikotes dengan daya bayang ruang yang rendah saya hubungkan dengan nilai ulangan dimensi tiga saya yang jelek. Hanya itu saja. Dan saya tetap mengambil jurusan arsitektur. Di arsitektur ada pelajaran membuat perspektif. Ada teknik-teknik tertentu yang menghubungkan garis-baris bantu yang rumit dengan hitungan jarak tertentu. Saya yang merasa pandai matematika merasa mampu membuatnya. Tapi dosen saya bilang sudut pandangnya kurang bagus. Saya tidak mengerti maksudnya. Dalam ujian akhir semester tentang perspektif, saya stress berat. Keringat dingin bercucuran. Teman-teman saya bisa mengerjakan dengan lancar, tetapi saya kebingungan. Garis-garis yang saya buat tidak jadi bangunan seperti yang seharusnya. Berkali-kali mencoba kembali tetap saja tidak jadi. Saya juga heran apa masalahnya.

Daya bayang ruang saya rendah. Ternyata ini maksudnya. Lalu saya menyadari juga tidak bisa mengingat jalan. Walaupun tiap hari saya pergi naik angkutan kota atau motor dari rumah sampai kampus, sampai satu titik saya tidak bisa membayangkan arah jalannya. Tetapi kalau dijalani bisa sampai tanpa kesasar karena setiap hari melalui jalan yang sama. Tapi saya tidak bisa membayangkannya dalam pikiran saya. Memang waktu itu rumah saya di soreang. Mungkin sekitar 20km dari kampus itb. Tetapi memang saya tidak hafal jalan-jalan di bandung tempat saya tinggal. Sulit untuk mencari alternatif jalan yang lebih dekat untuk mencapai tujuan tertentu. Biasanya hanya ingat jalan yang sering dilalui saja.

Daya bayang ruang yang rendah, ternyata merepotkan juga. Ini tanda-tanda makin tidak baik. Bagaimana saya bisa melanjutkan kuliah-kuliah di arsitektur yang masih demikian panjang? Mulailah saya sakit perut kalau memikirkannya. Stress tiba-tiba. Sebagai orang plegmatik, saya jarang sekali stress. Juga tidak mudah stress. Sewaktu ospek jurusan, ketika teman-teman banyak yang sudah tertekan oleh panitia dan senior (yang harus dipanggil dewa dan mahadewa), mimik muka saya masih tenang-tenang saja. Sampai saya dijadikan sasaran oleh dewa dan mahadewa..eh panitia dan senior. Ditabrak-tabrak. Didorong-dorong. Dibentak-bentak. Ditakut-takuti. Tanpa alasan jelas. Maksudnya supaya saya ikut stress seperti kebanyakan teman saya yang lain dan tidak tenang-tenang saja. Sempat juga ingin marah, tetapi akhirnya tahu alasannya lewat seorang panitia yang baik. Dan saya jadi tetap tenang-tenang saja.

Masa depan saya menjadi buram. Saya merasa tidak akan sanggup melanjutkan. Saya sempat berpikir pindah jurusan saja. walaupun rugi satu tahun karena harus mengulang. Saya sering berkeringat dingin dan sakit perut tiba-tiba. Kuliah apapun tidak lagi semangat. Asal datang saja dan tanda tangan absen. Bagaimanapun saya tidak mau titip dan dititipi absen atau mencontek. Ini tekad saya berikutnya. (Karena tekad saya bermalas-malasan sudah hancur. Berkeping-keping, seperti kata anak saya kalau mainannya hancur). Tekad Sampai lulus. Kalau lulus. Dan memang tekad ini bisa bertahan sampai akhirnya. Tidak ada teman-teman yang menitipkan absennya pada saya karena tahu saya tidak akan mau.

Stress memang jadi teman sehari-hari. Teman-teman seangkatan juga banyak yang terlihat stress. Tapi di dalam hati saya jauh mengalami stress yang berat dan tiba-tiba. Sampai saya hampir depresi. Setiap hari seperti sakit demam. Jalan melayang tidak menapak tanah. Kuliah hanya supaya bisa tanda tangan absen. Pulang kuliah langsung masuk kamar tidur di rumah. Tidur melarikan diri dari stress. Bertanya-tanya dan bingung. Tidak tahu mau apa. Tidak ada semangat hidup. Malas-malasan dan daya bayang ruang yang rendah adalah dua hal utama yang tidak cocok untuk jurusan arsitektur. Sampai di masa-masa stress berat dan badan melayang seperti itu, saya bertanya berbagai macam hal yang tidak jelas. Setiap tidur sering mimpi buruk. Keringan dingin sering menetes. Satu pertanyaan yang saya ingat, “buat apa saya hidup? Kenapa saya hidup? Kenapa roh saya lahir ke dunia? Kenapa tidak roh orang lain saja dan saya tidak pernah dilahirkan?”. Buat apa saya hidup? Pertanyaan yang terus saya tanyakan kepada diri sendiri.

1 april 2012

yu sing

bermalas-malasan

Saya tidak suka menghafal. Walaupun waktu sekolah dulu, saya terpaksa menghafal kalau mau ulangan atau ujian. Akibat sistem pendidikan hafalan, saya bisa saja dapat nilai ebtanas fisika tertinggi di sekolah, tanpa saya mengerti apa-apa tentang fisika terapan. Dan setelah ujian, hilang semua hafalan itu karena saya anggap sudah tidak bermanfaat lagi. Ingatan saya memang tidak terlalu baik. Sebetulnya menghafal itu baik juga. Bagaimana seorang dokter bisa memberi resep kalau tidak bisa menghafal nama-nama obat yang begitu banyak kan?

Saya juga suka bermalas-malasan. Saya bisa diam tidak melakukan apa-apa. Bersantai. Menikmati suasana. Atau sekedar baca buku. Mungkin karena bawaan temperamen yang katanya sisi plegmatik saya paling tinggi. Orang plegmatik biasanya sangat suka ’kedamaian’, kata yang membesarkan diri di balik kesukaannya bermalas-malasan dan bersantai.

Ketika sekolah di kelas 3 sma, beberapa orang mahasiswa dari berbagai jurusan diundang sekolah, masuk ke kelas-kelas secara bergantian, untuk bercerita tentang kuliahnya. Saya mencari-cari jurusan apa yang kira-kira bisa mendukung kemalasan saya. Sampai tiba seorang mahasiswi dari jurusan arsitektur bercerita dengan riang gembira. Di jurusan arsitektur itu menyenangkan, tidak perlu beli buku wajib, tidak banyak hafalan, di studio bisa menggambar sambil makan dan mengobrol dengan teman-teman, begitu katanya. Saya langsung berteriak dalam hati, “saya mau santai seperti itu!”.

Jadilah saya ikut ujian masuk perguruan tinggi negeri dengan jurusan arsitektur sebagai pilihan pertama dan matematika pilihan kedua. Nilai matematika saya memang bagus. Di masa smp dan sma, saya jadi salah satu wakil sekolah dalam cerdas cermat matematika, dan sempat menang beberapa piala. Tapi bukan karena itu alasan utama saya memilih matematika sebagai pilihan kedua. Saya tahu bahwa bisa lolos masuk itb itu tidak mudah, jadi jurusan matematika yang tidak unggulan pasti lebih sedikit peminatnya. Kalau tidak lolos di arsitektur, mudah-mudahan lolos di matematika. Begitu saja hitung-hitungan saya. Walaupun ketika itu saya tidak tahu kalaupun lolosnya di matematika lalu saya mau jadi apa.

Saya memilih arsitektur karena dua alasan utama. Saya tidak suka menghafal dan saya suka bermalas-malasan. Tetapi saya tidak ikut ujian masuk perguruan tinggi swasta karena saya tidak terlalu pandai menggambar. Kalau tes masuk arsitektur di swasta pasti ada tes gambarnya. Dan kemungkinan besar saya tidak akan diterima.

Akhirnya saya lihat pengumuman kelulusan umptn di koran pikiran rakyat bersama dua orang teman sma setelah lari pagi, dan nama saya ada di sana. Hore saya diterima di jurusan arsitektur itb. Teman saya alexander diterima di jurusan matematika itb. Teman saya sudirman tidak lolos umptn.

Mulailah hari-hari tanpa menghafal dan malas-malasan. Kakak-kakak senior dan beberapa dosen cerita bahwa di arsitektur harus siap bergadang. Tugasnya banyak. Kalau jurusan lain lampu-lampu gedung kuliah sudah mati, di arsitektur biasanya nyala terus sampai pagi. Arsitektur adalah jurusan yang paling banyak orang stress dan jadi gila. Tidak jarang juga mahasiswanya kumel bau karena tidak (sempat) mandi. Jurusan arsitektur juga salah satu jurusan yang banyak mahasiswanya berhenti kuliah sebelum lulus, pindah jurusan atau berhenti begitu saja karena tidak sanggup melanjutkan.

Saya tidak percaya begitu saja. Saya ingin malas-malasan dan tidak menghafal. Saya tidak ingin bergadang. Ya, saya bertekad tidak mau bergadang. Saya bisa! Minggu-minggu pertama masih santai. Dengan tergesa-gesa saya makin yakin tidak akan bergadang sampai lulus nanti. Lalu mulailah tugas-tugas diberikan dari berbagai mata kuliah secara bersamaan. Dan segera saja, dengan amat sangat terpaksa, saya bergadang untuk menyelesaikan tugas studio pengenalan arsitektur. Belum lagi setengah semester. Tekad saya tinggal kenangan. Ini tanda-tanda kurang baik. Bagaimana mungkin saya yang agak malas-malasan di sma (yang rata-rata nilai ujian nasionalnya salah satu yang terbaik di kota bandung) bisa lulus dengan nilai cukup baik, baru kuliah sebentar saja sudah harus bergadang?

1 april 2012

yu sing

saya suka bubur

Ya, saya suka aneka bubur dari berbagai daerah di indonesia, juga dari berbagai pedagang di mana saja. Terutama di bandung dan cimahi, karena saya tinggal di bandung coret alias pinggiran bandung alias cimahi. Saya suka bubur buatan ibu saya. Ayah (alm) dan ibu saya sejak awal saya kuliah sudah berjualan bubur di gor pajajaran bandung. Bubur akiong namanya.

Akiong diambil dari nama kakak saya. Ketika usaha ayah saya di bidang sablon bangkrut, kakak saya yang berbakat dagang (sejak smp berjualan apa saja di sekolahnya) segera dorong gerobak untuk jualan bubur. Dia tidak gengsi. Dia penuh semangat juang. Pacarnya kala itu juga ikut dorong gerobak. Tidak gengsi. Di dalam kompleks gor pajajaran kala itu, sudah ada beberapa lapak yang berjualan bubur. Tidak perlu menunggu lama, preman gor segera melarang kakak saya berjualan bubur di sana.

Ayah saya lalu datang membantu. Bicara baik-baik. Entah bicara apa, saya tidak ikut datang. Singkatnya, ayah saya bilang karena doa, segera saja kakak saya dapat sewa lapak di dalam gor pajajaran. Ayah saya yang bersyukur dan kagum atas perjuangan kakak saya, juga tidak gengsi segera ikut membantu jualan bubur.

Ayah saya ikut membantu mengolah resep-resep, yang entah dapat di mana, yang membuat bubur akiong dengan bumbu spesial taburan jahe goreng, menjadi berbeda dari lainnya yang ada di sana. Dan segera cukup banyak pelanggan setia. Kalau bukan karena kakak saya rela dorong gerobak, dan kalau saya tidak kuliah di itb yang waktu itu hanya rp 300 ribuan per semester, hampir dipastikan saya tidak bisa menikmati perguruan tinggi. Kakak saya sendiri tidak sempat kuliah. Padahal bakat seni ayah saya yang pelukis tidak terkenal diturunkan kepadanya daripada saya.

Ya, saya suka bubur.Sampai sekarang ibu saya masih berjualan bubur. Bukan karena itu, tetapi karena saya betul-betul suka. Selain bubur buatan ibu saya, saya suka beli bubur di mana saja. Dari bubur gerobak pinggir jalan yang harganya murah, sampai bubur di restoran yang mahal. Saya bersyukur lidah saya tidak manja. Kalau bukan karena sangat tidak enak, makan apa saja biasanya cukup enak dan enak sekali.

Beberapa bulan belakangan ini, ada penjual bubur gerobak baru di kompleks perumahan tempat saya tinggal. Tidak seperti kebanyakan penjual yang keliling kompleks, gerobaknya selalu mangkal di samping lapangan voli. Setelah sering lewat sana, akhirnya saya mencobanya. Ternyata buburnya enak. Lebih enak daripada bubur yang suka lewat depan rumah. (Walaupun lebih enak, saya tetap juga suka beli bubur keliling yang lewat depan rumah. Memang punya lidah yang tidak manja sangat beruntung.)

Sejak pertama beli, saya bilang ke penjualnya, buburnya enak. "Terima kasih. Semoga jadi langganan" katanya. Penjualnya seorang pemuda yang ramah. Mungkin seumuran kakak saya ketika mulai dorong gerobak dulu. Jam 9 saja biasanya bubur ini sudah habis. Berkali-kali saya beli buburnya untuk sarapan, sampai bertemu seorang pemudi cantik berjilbab ikut membantu jualan. Mungkin pacarnya atau istrinya. Sampai akhirnya yang berjualan tinggal si pemudi saja. Tanpa sang pemuda. Ternyata si pemuda (maaf saya suka lupa menanyakan nama orang karena sering sulit mengingatnya juga) sudah buka gerobak baru di tempat lain dalam kompleks yang sama. Bahkan katanya sekarang juga buka kalau malam hari. Bubur pagi dan malam.

Wah saya ikut senang lantas bersyukur dalam hati. Dalam waktu cepat bisa berkembang. Semangat mereka cukup istimewa. Mereka terlihat pemuda pemudi berpendidikan. Tidak gengsi dorong gerobak. Ya, mereka layak disebut sebagai wirausahawan-wirausahawati, yang jumlahnya masih sangat kurang di indonesia sampai harus dibuatkan iklannya khusus untuk mendorong semakin banyak wirausaha baru. Walaupun anehnya, pedagang kaki lima seperti penjual bubur gerobak itu, sering jadi korban gusuran dan umpatan.

Karena penjual kaki lima, kakak saya 'akiong', saya bisa lulus kuliah dan jadi arsitek seperti sekarang. Karena bubur, akhirnya ibu bersama kakak juga punya rumah sendiri karya desain saya, sayangnya baru bisa 5 tahun setelah ayah meninggal di usia 53 tahun, di hari ulang tahun ibu, karena kelelahan melawan kanker hati yang baru terdeteksi setelah stadium 4. Adik perempuan saya walau tidak kuliah tetapi lulus smk farmasi dan sempat jadi asisten apoteker. Saya tidak akan lupa perjuangan ayah (alm), ibu, dan kakak saya. Tulisan ini juga sebagai doa, agar pasangan pemuda pemudi penjual bubur gerobak yang enak itu makin laku dan mensejahterakan keluarganya.

Bedugul, 31 maret 2012
yu sing

7.12.11

scaffolding/perancah



mari bermain-main dengan scaffolding.
biasanya sebagai alat bantu konstruksi.
bagaimana bila kali ini dijadikan struktur bangunan saja? cepat, praktis, modular.
pengisinya lantai, dinding, atap ringan.
misalnya: bondek+cor tipis untuk lantai, bambu untuk dinding, fiber semen untuk atap.
pada tampak luar, scaffolding bisa diperlakukan seperti lemari tanaman.
ada balkon tanaman sepanjang keliling luar bangunan.
desain ini proposal untuk sebuah perpustakaan.
tim desain: yu sing, wilfrid a.wasa, baridah mutmainah