2.10.09

arsitek dalam rekonstruksi pasca bencana 2


3

Ini adalah contoh pernaungan sementara (temporary shelter) desain OBRA Architects. Info lebih lengkap dapat dilihat di: http://www.archdaily.com/27744/redhousing-obra-architects/





4

Ini salah satu contoh desain rumah tanggap bencana tahan gempa desain oleh studio habitat indonesia

( www.shabitat.blogspot.com ) :

Penjelasan desain rumah tanggap bencana:

  1. Desain rumah inti 3x6m modular, struktur beton bertulang, dinding setengah bata dan bilik/anyaman bilah bambu.
  2. Sebagian material dapat menggunakan material bekas rumah lama.
  3. Rumah disiapkan dapat berkembang (rumah tumbuh). Bubungan atap sejajar sisi pendek 3m, agar lebih fleksibel dalam proses perkembangannya untuk mendapatkan rumah yang lebih besar.
  4. Proses pengembangan rumah paling murah tanpa penambahan struktur baru adalah membuat mezanin sebagai kamar tidur tambahan. Karena itu desain mengakomodasi kemungkinan tersebut.
  5. Kamar mandi dibangun terpisah.
  6. Harga rumah sekitar Rp 18 juta (sudah termasuk biaya tukang, akan lebih murah bila proses pembangunan dikerjakan secara gotong royong) belum termasuk kamar mandi. 1 kamar mandi sekitar Rp 3 juta.

atau rumah bambu plester dapat dilihat di:

http://www.bamboocentral.org/PDF_files/MODUL_PELATIHAN_MABUTER.pdf

5

Mengingat Indonesia adalah negara dengan kondisi alam dan budaya yang sangat manjemuk, maka kita perlu mengumpulkan sebanyak mungkin contoh dan desain pernaungan sementara maupun rumah tanggap bencana. Pernaungan sementara dapat diproduksi massal agar siap dikirimkan ke lokasi-lokasi bencana di masa yang akan datang. Informasi desain dan data teknis konstruksi rumah tanggap bencana perlu dikumpulkan sebanyak mungkin dan disebarkan agar menjadi pengetahuan masyarakat luas. Salah satu contoh pedoman teknis rumah tahan gempa : http://tapakbumi.com/?p=489.

6

yang sangat dibutuhkan saat ini adalah alternatif desain rumah bambu, dengan harga hanya 3 juta saja utk 1 rumah. rencananya, kira-kira 2 minggu lagi akan dipresentasikan di hadapan PMI yg akan membangun 8000 rumah bambu tsb utk korban gempa jabar bulan lalu. teman-teman yg dapat menyumbangkan alternatif desain rumah bambu tersebut, silahkan kirimkan ke yusinglim@yahoo.com.

7

untuk sementara, semua data-data atau desain yang dimiliki atau dapat dibuat oleh teman-teman, dapat dikirimkan melalui email ke: yusinglim@yahoo.com dan pengabdian.profesi@gmail.com. nanti kita akan kumpulkan dan sebarkan bersama-sama.

2 oktober 2009

salam

yu sing

26.9.09

Arsitek dalam rekonstruksi pasca bencana

td siang sy sempat ikut rapat koordinasi berbagai NGO di bdg yg sptnya dimotori oleh UN OCHA (http://www.un.or.id/content/agencies/un-ocha), dlm menangani gempa tasik kemarin, yg jumlah kerusakannya cukup besar dan menyebar di 8 kabupaten.

Arsitek dalam rekonstruksi pasca bencana.
1
dlm setiap bencana yg terjadi di indonesia, yg pasti selalu menjadi andalan utama adalah tenda dan indomie. kadang2 tenda2 tsb harus dapat bertahan mungkin selama 1 tahun-an sblm rekontruksi pasca bencana dpt selesai. bayangkan hidup dlm kondisi yg sangat terbatas spt itu? (apakah korban lapindo kemarin msh juga hidup di tenda?) belum lagi soal cuaca yg kadang2 krg ramah. di pangalengan bisa amat dingin.belum lagi kemungkinan hujan yg sebentar lagi datang.
jadi perlu kita mulai pikirkan tentang temporary shelter (pernaungan sementara) yang lebih layak dan cocok utk iklim kita. paling tidak utk menghadapi bencana2 yg sgt mungkin terjadi di masa2 akan datang. beberapa negara lain sudah lbh siap dgn temporary shelter yg dpt lgs didistribusikan ke lokasi2 bencana. salah satu cara yg bisa kita lakukan utk dapat banyak ide nyata mungkin lewat sistem sayembara. symbara prototipe pernaungan sementara.

2
selain pernaungan sementara, dlm proses berikutnya, kita para arsitek sudah sepantasnya dapat ikut membantu proses rekonstruksi pasca bencana. Pengabdian Profesi IAI bersama-sama JAIM (jaringan arsitek Indonesia merakyat) perlu mulai mempersiapkan diri dalam proses rekonstruksi yang akan segera dilaksanakan dlm beberapa minggu ke depan (kemungkinan setelah lebaran, dengar-dengar rekonstruksi situgintung juga perlu bantuan kita). Beberapa bantuan yang dapat diberikan yaitu:
- membantu proses konstruksi (gotong royong membersihkan lokasi, meladeni tukang, distribusi material, membantu pasang bata, dll) yang dapat dilakukan setiap hari sabtu-minggu. Bantuan tenaga ini sangat membantu untuk mengurangi biaya tukang. (dalam bbrp kesempatan program Global Village Habitat For Humanity Indonesia
( http://www.habitatindonesia.org/ ), donator dari luar negeri bukan hanya memberikan dana, namun juga datang ke lokasi home partner utk membantu konstruksi secara gotong royong).
- memberikan jasa konsultasi desain di lokasi dengan menyediakan semacam posko bantuan desain.
- dalam jangka panjang, perlu mempersiapkan prototipe rumah2 sederhana siap bangun.
Mari teman-teman, kita mulai mempersiapkan diri. Turun Gunung Yuk!

5 september 2009,
yu sing

Untuk Rumah Murah nan Ramah

http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/06/10/Gaya_Hidup/krn.20090610.167680.id.html
Yu Sing
Untuk Rumah Murah nan Ramah

Hari Lingkungan Sedunia yang jatuh pada 5 Juni lalu menerbitkan sebuah senyuman dari bibir Yu Sing. Ya, arsitek muda yang namanya meroket sejak meluncurkan konsep unik rumah murah mendukung lingkungan ramah ini baru saja melawat ke Makassar. "Ada tugas yang tidak jauh-jauh dari konsep merancang rumah murah berbasis lingkungan nan ramah," ujarnya tenang.

Penulis buku Mimpi Rumah Murah terbitan Trans Media, dan belakangan sangat diminati, itu mengatakan semangatnya selalu membara saat ditantang pertanyaan mengapa ingin membantu merancang rumah murah. "Jawabannya sangat dalam, tertanam di sini," ucapnya sambil mengarahkan jari telunjuk ke dada.

"Kalau mau digamblangkan, seperti menjawab pertanyaan mengapa saya hidup ke dunia," Yu Sing melanjutkan, Sabtu lalu. Ia menjelaskan, hidup berarti bila dapat mempertanggungjawabkan semua yang telah Tuhan berikan menjadi manfaat buat banyak orang.

Penampilan arsitek berusia 33 tahun yang bertubuh kurus dan gondrong ini sepintas tak ada yang istimewa. "Memang I'm not special, ha ha! Tapi semoga apa yang saya lakukan bisa memberikan makna penting bagi masyarakat dan lingkungan," ujarnya sembari tergelak kecil.

Lewat bukunya itu, membantu merancang sejuta rumah murah merupakan jawaban atas kegusaran hatinya. Terutama anggapan masyarakat umum bahwa jasa arsitek hanya dominan dan haknya orang kaya semata.

Menurut dia, orang menengah ke bawah punya hak yang sama. Namun, lantaran label tadi telanjur melekat, utamanya ongkos jasa arsitek nan selangit membuat keder masyarakat menengah ke bawah. Pria yang mengidolakan mendiang Yusuf Bilyarta Mangunwijaya ini memaknai apa yang dikerjakan Romo Mangun berpengaruh kepadanya. Terutama sebagai pendorong semangat serta tempat belajar kemanusiaan dan desain.

Keputusannya membantu desain rumah murah dengan jasa murah memang bagian dari ilmu yang dipelajarinya. Seharusnya arsitektur dikembangkan untuk kesejahteraan semua masyarakat. Bukan cuma untuk golongan tertentu saja.

Dia juga ingin berbagi pengalaman mengenai rumah tinggal inspiratif berkonsep rumah murah. Artinya, merancang rumah sederhana yang memberikan penjelasan mengenai ruang-ruang hidup yang dapat mempengaruhi cara hidup penghuninya menjadi positif dan inspiratif.

Yu Sing merancangnya menjadi rumah penuh makna, ramah lingkungan, dan hemat energi. Nilainya bisa lebih tinggi dari rumah-rumah mewah yang tidak ramah lingkungan. Cara pandang soal keindahan serta kemewahan perlu lebih luas dan jernih. Rumah dari material bekas, jika didesain dengan baik, akan jauh lebih indah dan wah daripada rumah yang terbuat dari banyak materi impor tanpa desain baik.

Saat ini biaya mendesain rumah konsep Rp 1-2 juta setiap meter persegi. Sistem struktur rumah harus efisien dan hemat sebab biaya struktur bangunan bisa mencapai 40-60 persen dari biaya keseluruhan.

Material finishing juga banyak dikurangi tanpa menggerus kualitas arsitektural ruang. Lalu yang dipakai kebanyakan material sehari-hari lazimnya rumah-rumah rakyat. Harga pembuatannya berkisar Rp 25 sampai Rp 300 juta. Bila kemampuan anggaran membangun kurang dari Rp 25 juta, jasa desainnya gratis. Hingga kini Yu Sing mengerjakan rumah-rumah murah dalam bentuk baru, renovasi atau setengah jadi, serta rumah daur ulang berbahan kayu, bambu, beton, kontainer, fiber, dan lainnya.

Anak kedua dari tiga bersaudara ini menuturkan, masa kecilnya sederhana dan sering hidup berpindah-pindah kontrakan lantaran orang tuanya tidak punya rumah. Dia pun sering menerima perlakuan rasial karena keturunan Tionghoa.

Untung orang tuanya membekali semangat kerja keras, berhati bijak, dan demokratis. "Justru kondisi itu mendidik saya menjadi orang anti-rasial. Saya memperlakukan semua orang setara tanpa melihat suku, kedudukan, dan pekerjaan. Di mata Tuhan semua orang sama. Tak ada derajat lebih tinggi atau rendah."

Sejak kecil Yu Sing tidak punya cita-cita istimewa. Dia sangat menikmati hidup serta bertipe orang suka hidup tenang, santai, dan bermalas-malasan. Namun, kini ia tak sempat bermalas-malasan karena kliennya tersebar di Tanah Air, termasuk Papua dan Kalimantan.

Salah satu alasan ia kuliah arsitektur adalah demi menghindari hafalan, dan menyukai tugas menggambar di studio. "Saya sempat stres berat di awal kuliah karena tak cukup berbakat. Setelah ketemu dosen yang dapat membimbing dengan baik, dan karena kuasa Tuhan, saya bisa belajar menikmati dan mencintai dunia arsitektur," penyuka makanan tradisional ini menambahkan.

Penggemar jalan-jalan bersama keluarga dan menikmati alam ini mengatakan keinginannya, yaitu ke depan lebih banyak arsitek yang membantu mendesain rumah murah. "Saya ingin suatu saat para arsitek memiliki misi idealis yang dekat membantu rakyat menyajikan konsep rumah murah. Secara pribadi saya ingin membantu desain sejuta rumah murah dan jalan-jalan keliling Indonesia," ujarnya. HADRIANI P

Nama: Yu Sing

Lahir: Bandung, 5 Juli 1976

Status: Menikah dan mempunyai seorang anak

Pendidikan:
# 1994-1998, Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung

Riwayat Pekerjaan:
# 1999-sekarang, Studio Arsitektur GENESIS
# 2007, Bergabung dengan Studio Habitat Indonesia, yang banyak menangani proyek desain nirlaba bersemboyan "Good design is for everyone"
# 2008-sekarang, Sukarelawan di Habitat for Humanity, Bandung
# 2009, penulis buku Mimpi Rumah Murah (Trans Media)

Beberapa Penghargaan:
# Pemenang pertama desain Gereja Kristen Indonesia Anugerah, Bandung
# Pemenang kedua desain Sekolah Internasional BPK Penabur Singgasana Pradana, Bandung
# Pemenang pertama desain TK Internasional BPK Penabur Bahureksa, Bandung
# Pemenang ketiga mendesain Taman Rakyat Cimahi
# Top 10 Fasade Rumah Ide
# Pemenang pertama desain Muka Jakarta Design Center
# Pemenang desain Sekolah Internasional BPK Penabur Banda, Bandung
# Pemenang pertama desain gedung Pelayanan Pusat Akademik Universitas Negeri Makassar
# Unggulan 12 besar desain gerbang tol dan area istirahat Tol Kanci-Pejagan.

Para Penerus Romo

13/XXXVIII 18 Mei 2009
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/05/18/ART/mbm.20090518.ART130316.id.html

Para Penerus Romo
Nama Romo Mangun masih sangat dikenal dan diidolakan para arsitek muda. Juga masih cukup banyak yang berkarya ala ”Romomangunisme”.

Judul buku itu menarik: Mimpi Rumah Murah. Penulisnya arsitek muda, baru 33 tahun, bernama Yu Sing. Sosoknya kecil dan kurus, berambut gondrong sebahu—sesekali disibakkan saat mengobrol. Namun semangatnya begitu besar. Jawabannya atas pertanyaan mengapa ingin membantu mendesain rumah murah terdengar ”dalam”. ”Itu salah satu jawaban pertanyaan untuk apa saya hidup,” katanya. Bahkan dalam penutup pengantar buku yang baru diterbitkan pada Maret lalu itu, Yu Sing menyatakan, ”Mimpi membantu desain sejuta rumah murah.”

Yu Sing adalah tipikal anak muda idealis. Dia punya kritik keras terhadap kondisi di sekitarnya, termasuk dunia arsitektur dan profesi arsitek. Lulusan Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Bandung itu gusar benar terhadap anggapan publik bahwa jasa arsitek hanyalah ”hak” orang kaya. Orang menengah ke bawah, karena khawatir ongkos jasa arsitek membengkakkan biaya pembuatan rumah, emoh menggunakan jasa itu.

Seperti banyak arsitek lainnya, Yu Sing pun mengidolakan mendiang Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, arsitek dan budayawan yang akrab dipanggil Romo Mangun itu. ”Saya mengagumi konsistensi kehidupan dia. Dia mengerjakan apa yang dia katakan,” katanya. Untuk itulah ayah satu orang anak berusia sebelas bulan ini ingin mewujudkan ”mimpi” yang dia sebut itu. Dia mulai dari mendesain dan membangun rumah mungil, murah dan ramah lingkungan untuk keluarga kecilnya dan ibunya di daerah Cimahi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Ide yang dia sebarkan melalui tulisan di sebuah majalah arsitektur, blog pribadinya, milis arsitektur dan kemudian bukunya, ternyata membuahkan banyak sambutan. Klien menengah ke bawah dari berbagai daerah di Indonesia—termasuk dari Papua dan Kalimantan—menghubunginya, baik melalui email maupun telepon. Hingga kini Yu Sing sudah memiliki 40 klien yang ingin dibuatkan desain untuk rumah sederhana, meski sebagian besar bangunannya belum jadi. ”Ada yang meminta desainnya dahulu, karena belum punya cukup uang untuk membangun rumahnya,” kata Yu Sing, yang memiliki biro arsitektur Genesis, berkantor di sebuah rumah tua kontrakan di Jalan Semar, Bandung.

Klien pertama untuk rumah murah­nya adalah paman dari kolega sekantornya. Yu Sing diminta merenovasi rumah yang tergolong tua—lebih dari 30 tahun—di kawasan Caringin, Bandung. Ternyata rumah tersebut tidak dapat sekadar direnovasi karena sudah sangat tua, sehingga harus dibongkar dan dibangun lagi. Namun 8090 persen bahannya masih bisa didaur ulang dan digunakan lagi. Rumah pun didesain sebagai rumah tumbuh, yang bisa dibangun bertahap sesuai dengan ke­tersediaan dana pemilik.

Rumah dibuat bertingkat dua, agar masih tersedia ruang terbuka hijau dan daerah resapan. Dinding dibangun dengan beton bertulang agar tahan gempa. Bahan fiber semen digunakan untuk atap, agar lebih murah. Atap pun didesain agar bisa menampung air hujan, yang melalui proses penyaringan sederhana, akan dapat digunakan lagi. Yang membuat rumah ini unik, bekas genting rumah lama dipakai untuk menutupi dinding batu bata rumah bangunan baru. Karakter warna acak pada genting menciptakan pola yang menarik.

Mendesain rumah murah—belum ada batasan yang pasti tentang rumah murah, tapi paling tidak ada kesepakatan nilainya di bawah Rp 300 juta—sebenarnya justru menjadi tantangan kreativitas para arsitek. Menurut Rudy Bachsin, 45, konsultan arsitektur, karena anggaran yang sangat terbatas, mencari bahan bangunan rumah murah itu merupakan tantangan tersendiri. ”Rumah murah bukan berarti rumah murahan,” kata pengagum arsitek Romo Mangun dan Bian Poen itu.

Makin menarik karena pembangunan rumah harus disesuaikan dengan karakter penghuninya. Menurut Rudy, tak peduli rumah tipe 35, 75, atau 900 meter persegi, intinya sama, yaitu menciptakan kenyamanan, juga bagaimana menjabarkan mimpi si pemilik rumah. ”Saya justru lebih tertantang dengan klien berbujet kecil, ketimbang yang besar,” kata arsitek yang biasa dipanggil Aseng itu.

Rudy sangat menyarankan penggunaan bambu untuk tiangtiang rumah dan kusen pengganti kayu. Bambu lebih ramah lingkungan, lebih mudah, lebih cepat tumbuh dibanding kayu. Lagi pula, si pemilik rumah bisa menanam bambu sendiri, sebagai pengganti bila yang lama rusak.

Untuk membangun rumah murah namun tak terkesan murahan, Rudy memadukan bambu untuk tiang dan kaca untuk dinding. Beton hanya diguna­kan untuk struktur dan fondasi, serta bagian tertentu rumah, seperti kamar mandi, toilet, dan dapur. Penggunaan jendela lebarlebar, selain membuat udara bebas bergerak, juga mengirit bahan bangunan. Ketika membangun studio untuk pelukis Hanafi di Depok, misalnya, untuk mengecat lantai semen, Aseng menggunakan karbon ba­terai bekas. ”Karbon kan tidak merusak kesehatan,” kata Rudy, yang kini tengah membangun Masjid Daun di kawasan wisata Gunung Salak, dengan menggunakan bambu dan atap terpal.

Soal keberpihakan pada klien ”orang kecil”, menurut beberapa arsitek yang ditemui Tempo, tidaklah terlalu sulit. Cukup banyak yang masih memiliki idealisme mendesain untuk rakyat kecil. Tapi kesempatan itu kadang sulit. Karena arsitek perlu klien dan lahan. Menurut Wakil Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Indonesia, Bambang Eryudhawan, ada temantemannya yang siap mendesain sekolah secara gratis, tapi kesempatan belum ada.

Itu semua mungkin diakibatkan oleh pandangan bahwa jasa arsitek memang mahal. Sehingga dibutuhkan gerakan seperti yang dilakukan Yu Sing, Rudy, dan yang lainnya untuk membuktikan, keberpihakan ke warga menengah ke bawah memang ada.

Yang lebih ekstrem adalah kelompok bernama Studio Habitat Indonesia. Organisasi nirlaba yang berafiliasi dengan lembaga swadaya masyarakat internasional di bidang penyediaan papan untuk kaum papa Habitat for Humanity ini sejak 2005 membantu membangun rumah murah (cost effective houses), dengan bujet di bawah Rp 40 juta, untuk rakyat. Selain memanfaatkan bahan lokal, juga tenaga kerja warga setempat, organisasi ini sudah menjalankan proyek seperti di Padalarang, Cimahi, Garut. Kini kelompok yang umumnya terdiri dari mahasiswa serta lulusan arsitek dan sipil ini akan menggelar sayembara rumah murah, akhir bulan ini.

Yang lucu, menurut Rendy Aditya, pengurus Studio Habitat, justru pandangan orangorang yang mereka bantu. ”Mereka memiliki konsep rumah seperti di sinetronsinetron televisi itu,” kata Rendy, lulusan Jurusan Arsitektur Universitas Parahyangan, Bandung. Jadi, rumah itu harus ada ruang tamu di dalam, kamar tidur meski kecil dan hanya satu. Padahal, mereka lebih butuh satu ruang multifungsi—untuk berkumpul, bekerja, belajar, memasak— lalu kamar tidur, dan untuk menerima tamu cukup di teras saja. Ratarata, klien organisasi ini tidak memahami pentingnya sanitasi dan ventilasi yang baik. Kata Rendy, ”Meyakinkan mereka sungguh tidak mudah.”

Bina Bektiati, Ahmad Taufik

16.7.09

Tren Arsitektur 2009 ?

Setiap tahun mulai berganti, biasanya orang ramai-ramai membicarakan tentang tren. Orang ingin tahu apa tren terbaru tahun ini. Paling sering kita dengar adalah tren mode pakaian, rambut, atau warna. Ketika dengung tren tersebut mulai terdengar di berbagai media, maka banyak pula orang yang manut mengubah penampilannya agar terlihat lebih gaya, lebih trendi, tidak ketinggalan zaman. Lalu bagaimana dengan tren arsitektur? Seperti apakah kira-kira tren arsitektur di tahun 2009? Sebelum jauh-jauh bicara tentang tren arsitektur 2009, barangkali ada baiknya kita evaluasi terlebih dahulu tentang tren arsitektur itu sendiri.
Ada yang aneh sebetulnya dengan tren dalam arsitektur. Tren sebenarnya memiliki sifat sementara, singkat, sesaat, sebentar saja; sedangkan arsitektur atau bangunan akan berdiri dalam jangka waktu yang lama. Jadi sebetulnya tidak tepat kalau arsitektur itu dikategorikan ke dalam tren, karena sifatnya tidak seperti pakaian yang bisa dipakai cukup selama satu tahun atau tidak usah dipakai lagi bila sudah tidak sesuai dengan tren yang terbaru. Walaupun begitu, arsitektur memang belum lepas dari ikatan tren. Entah bagaimana mulainya arsitektur bisa bersanding dengan tren. Yang jelas ini bukan seperti pepatah ayam dulu atau telur dulu. Barangkali, lagi-lagi barangkali karena belum ada penelitian mendalam, ada peran pengembang properti bersama media, yang lebih dulu melahirkan istilah tren arsitektur.
Memang dengan adanya tren arsitektur, maka pengembang properti lebih mudah dan terarah dalam menjual produknya. Asal ikut apa kata tren itu, maka propertinya pasti laku. Begitu pula dengan media arsitektur. Dengan membahas tren arsitektur itu, maka medianya akan laku karena orang ingin tahu seperti apa tren arsitektur itu. Terlepas apakah makna yang disampaikan tentang tren itu benar atau keliru. Misalnya saja tren arsitektur minimalis yang masih hangat terdengar. Betulkah properti yang dijual dengan sebutan minimalis itu benar-benar minimalis? Ternyata lebih banyak yang keliru, walaupun memang ada juga pengembang properti yang memberikan pemahaman tentang minimalis dengan benar. Apa saja dapat dengan mudahnya disebut minimalis agar laku, walaupun sebetulnya sama sekali tidak minimalis. Dan anehnya lagi, ada masanya masyarakat memang bangga dan senang membeli properti yang sesuai dengan dengung tren arsitektur minimalis agar tidak dianggap ketinggalan zaman.
Tapi jika tadi sudah dijelaskan bahwa tren itu sifatnya sementara, singkat, sesaat, sebentar saja, maka sebentar lagi akan ada ratusan ribu atau mungkin jutaan pemilik properti atau bangunan yang akan ketinggalan zaman. Padahal tujuan awal membelinya justru karena tidak mau ketinggalan zaman. Lalu, apakah bangunannya akan dirubuhkan saja atau dijual lagi? Wah, kalau dirubuhkan pasti tidak mungkin. Selain masih baru, ini bangunan lho! Bukan pakaian yang bisa dengan mudah disumbangkan. Dijual pun barangkali kurang laku karena tidak sesuai lagi dengan tren terbaru. Nah, mulai jelas bukan bahwa arsitektur dan tren itu sesungguhnya tidak dapat disandingkan.
Dan yang menjadi korban bukan hanya pemilik properti, tetapi juga arsitektur itu sendiri. Ketika tidak sesuai dengan apa kata tren terbaru, maka seolah-olah arsitektur jenis itu sudah kurang bagus lagi. Minimalis akan (atau malah sudah) dianggap jelek, usang, ketinggalan zaman. Padahal makna minimalis itu sendiri pun belum dipahami dengan benar oleh masyarakat. Jadi, apakah arsitektur minimalis itu ada waktunya menjadi jelek? Sebetulnya tidak, ‘jelek’ itu ada hanya di dalam persepsi masyarakat yang keliru akibat menjadi korban istilah tren arsitektur. Arsitektur minimalis sebenarnya merupakan salah satu arus besar dalam sejarah arsitektur yang sudah ada sejak awal tahun 1900-an, bukan hasil rekayasa para pengembang properti yang sifatnya sementara. Jadi, orang yang membeli bangunan yang betul-betul minimalis karena betul-betul menyukainya atau sesuai dengan karakter dan gaya hidupnya, tidak usah kuatir dan tidak perlu mendengar apa kata ‘tren arsitektur’. Mulai sekarang kata tren dan arsitektur bila disatukan harus diberi tanda kutip, supaya tidak rancu dan menyesatkan. Karena setahu saya, tren dan arsitektur tidak pernah menikah, selama ini cuma dijodohkan saja, dan sebetulnya sama sekali tidak berjodoh karena berbeda kodratnya.
Nah, lalu apa “tren arsitektur” 2009 ? Tidak terlalu penting lagi, bukan? Tulisan ini bisa disudahi saja sampai di sini. Tapi…, sebetulnya masih ada hal yang cukup penting untuk direnungkan bersama. “Tren arsitektur” sebaiknya tidak lagi dijadikan patokan. Tetapi yang jauh lebih penting adalah pencarian pemahaman yang lebih banyak dan lebih dalam tentang arsitektur sebagai langkah yang tepat bagi seluruh masyarakat, bukan hanya bagi para arsitek. Peran media arsitektur menjadi semakin penting untuk memberikan pemahaman yang lebih banyak, lebih mendalam, dan tentunya lebih benar tentang arsitektur yang sebetulnya memiliki cakupan sangat luas.
Dalam konteks arsitektur rumah tinggal, menerjemahkan karakteristik dan keunikan masing-masing pemilik rumah terhadap arsitektur rumahnya merupakan pilihan yang lebih tepat ketimbang sekadar mengikuti tren. Kebhinekaan karakteristik masyarakat Indonesia akan memperluas pilihan karakter arsitektur rumah tinggalnya. Kesempatan untuk menjadi diri sendiri melalui bentukan rumah masing-masing akan mendorong berkembangnya eksplorasi kekayaan arsitektur tanpa dibatasi oleh “tren arsitektur”. Kondisi lingkungan hidup global yang saat ini semakin rusak juga tentunya perlu disikapi. Hemat energi, ramah lingkungan, dan berkelanjutan, selayaknya menjadi panduan sejak awal merencanakan desain rumah tinggal. Semakin lama hal-hal tersebut sebaiknya tidak akan lagi menjadi istimewa untuk dibicarakan, tetapi menjadi syarat mendasar yang seharusnya memang ada seperti halnya pencahayaan dan ventilasi alami. Semakin murah aplikasinya, maka akan semakin berkelanjutan dan lebih besar dampaknya terhadap bumi ini. Dengan biaya yang murah, akan semakin banyak orang yang mampu mengaplikasikan arsitektur berkelanjutan, dan itu secara otomatis mempercepat proses penyembuhan bumi yang sedang sakit ini. Semakin murah biaya untuk membangun, semakin banyak uang yang bisa disisihkan untuk perbaikan lingkungan lainnya yang lebih besar atau untuk kepentingan kemanusiaan lainnya. Walaupun sebetulnya mampu, tidak ada salahnya untuk berhemat dan mengurangi sedikit saja kemewahan nilai rumah tinggal. Seandainya saja setiap rumah (mewah) dapat mengurangi dan menyisihkan 10-25% dari nilai rumahnya bagi kepentingan lingkungan atau masyarakat yang kurang mampu, tentunya lingkungan hidup sehari-hari akan menjadi semakin indah dan nilainya menjadi jauh lebih besar daripada kemewahan yang didapatkan tanpa menyisihkan sebagian biayanya. Bukankah kota tempat kita hidup akan semakin indah dan menyenangkan untuk dihidupi bila kerusakan-kerusakan lingkungan yang telah ada dapat diperbaiki sedikit demi sedikit?
Masih ada lagi harta karun terpendam yang dapat menjadi pilihan bagi kemajuan arsitektur di Indonesia. Mungkin tidak ada yang menyangkal bahwa Indonesia adalah negara yang sangat kaya yang dikelola dengan salah, sehingga rakyatnya menjadi miskin. Termasuk miskinnya penghargaan masyarakat terhadap kekayaan potensi nilai lokalitas arsitektur tradisional. Seandainya saja nilai-nilai dalam arsitektur tradisional Indonesia yang jumlahnya begitu banyak (yang mungkin paling banyak di dunia) menjadi sumber inspirasi bagi arsitektur masa kini! F.Silaban (salah satu arsitek besar di era Soekarno) pernah bilang bahwa pada arsitektur tradisional, bukan bentuknya yang diambil, tetapi pelajari jiwanya. Barangkali memang itulah sikap yang tepat untuk mengembangkannya, yaitu dengan melakukan adaptasi, bukan duplikasi atau replikasi.
Ciri-ciri fisik, makna filosofis, adaptasi terhadap iklim, material lokal, potensi alam, dan ornamen-ornamen tradisional, merupakan contoh serangkaian makna lokalitas yang masing-masing kekayaannya dapat menjadi sumber eksplorasi. Arsitektur bukanlah soal bentuk fisik semata. Bila kita kembali menggunakan mode pakaian sebagai contoh, maka proses adaptasi terhadap batik sudah sangat berhasil. Bahan batik yang tradisional dapat diaplikasikan ke dalam berbagai karya pakaian dengan mode terbaru yang begitu indah, dan batik saat ini jadi sangat dicintai oleh berbagai kalangan masyarakat. Padahal keindahan dan kekayaan batik sudah ada sejak dulu. Walaupun tidak sama sepenuhnya dengan arsitektur, namun kira-kira seperti itulah seharusnya adaptasi nilai-nilai lokal terhadap arsitektur masa kini. Tidak harus terlihat tradisional secara fisik, namun mengandung makna-makna lokal yang dapat ditelusuri asal muasalnya. Eksplorasi terhadap kekayaan nilai lokalitas Indonesia ke dalam desain arsitektur masa kini saya yakin akan dapat menghasilkan karya-karya arsitektur tingkat dunia.
27 november 2008,
yu sing

26.4.09

ARSITEKTUR MURAH untuk MASA DEPAN BUMI

apakah kita masih leluasa memilih tanpa takut apa kata orang tentang pilihan kita?
(telah dimuat di majalah RUMAHKU edisi 35 – April 2009)

ARSITEKTUR SEOLAH-OLAH
Sudah kodratnya manusia itu berlomba-lomba menampilkan kehebatan. Termasuk kemewahan harta dan materi yang dimilikinya. Arsitektur / properti / rumah juga termasuk di dalamnya. Semakin mewah dan semakin mahal arsitekturnya semakin bangga pemiliknya. Semakin tinggi juga harga diri pemiliknya. Seolah-olah demikian. Dan memang kenyataannya kita melihat demikian. Jangan jauh-jauh keliling kota besar. Datang saja ke desa-desa di pinggiran. Sudah bukan hal aneh kita melihat dinding depan rumah di desa dilapisi keramik mengkilap. Tetapi bila masuk ke dalam rumahnya, barangkali malah kamar tidurnya hanya berpintu sehelai kain (bukan karena sengaja tetapi karena dananya terpakai untuk keramik dinding depan rumah). Apa yang terlihat dari luar oleh orang lain dianggap mewakili kebanggaan atau harga diri pemiliknya. Seolah-olah demikian. Walaupun hal yang terlihat itu hanya sekedar kosmetik atau malah sekedar topeng. Di kota juga tidak jauh berbeda. Arsitektur Seolah-olah juga banyak dilakukan. Tempelan lempengan besar batu marmer impor dari negara nun jauh di sana menjadi andalan tampilan mewah yang dibanggakan. Padahal tidak jarang kualitas ruang di dalamnya sangat miskin dari pengalaman sensasi ruang. Atau malah amburadul. Tapi pemiliknya bangga dengan marmer impornya, sebagai simbol kemewahan dan kekayaannya. Seolah-olah demikian. Begitulah Arsitektur Seolah-olah.

MURAH juga merupakan KEMEWAHAN
Apakah semua yang mewah dan mahal itu termasuk arsitektur seolah-olah? Tentu saja tidak. Apakah kita harus anti mahal dan mewah? Bukan itu maksudnya. Itu hanyalah sebuah pilihan akan kemampuan pribadi masing-masing. Tapi ada juga pilihan lain yang seringkali kurang disadari. Bahwa murah juga adalah kenikmatan, keindahan, bahkan kemewahan. Makan nasi merah hangat hanya dengan lalapan dan sambal serta ikan peda bakar pada sore hari sewaktu hujan rintik-rintik adalah kenikmatan yang penuh. Kenikmatan dalam kesederhanaan. Tidak semua orang bisa menikmati kenikmatan dalam kesederhanaan. Hanya orang-orang dengan jiwa sederhana yang peka akan kekayaan anugerah kenikmatan dan keindahan yang Tuhan berikan berlimpah. Jiwa yang antusias seperti jiwa anak-anak. Sebetulnya begitu pula dengan arsitektur. Arsitektur Murah juga bisa terlihat mewah dan kaya. Mewah bukan dalam arti mahal, mengkilap, dan sejenisnya. Tetapi kemewahan dalam konteks keindahannya. Kemewahan Arsitektur Murah dinilai dari kualitas ruangnya. Bayangkan sebuah ruang keluarga tidak luas, dengan material pembentuknya yang sederhana (lantai semen, dinding bata merah ekspos atau bilik bambu, dan sejenisnya) tetapi memiliki kesatuan ruang dengan taman atau bahkan hamparan sawah yang luas, karena dindingnya bisa dibuka tutup seluruhnya. Itu adalah kemewahan dalam pengalaman hidup sehari-hari. Tidak semua arsitektur mahal memiliki kemewahan sepeti itu. Ruang-ruang yang bergantung pada penghawaan buatan /AC seringkali tertutup dan terpisah dari lingkungan alami. Hal-hal murah lain yang bisa disebut mewah yaitu hemat energi, pencahayaan alami, ventilasi alami, keberlanjutan alam, hubungan sosial antar ruang, eksplorasi material lokal, bayangan matahari melalui celah-celah dedaunan, kicauan burung-burung di pagi dan sore hari di atas pohon rindang di dalam rumah, dan sebagainya. (Lebih luas tentang kemewahan dalam kesederhanaan ini dapat dilihat pada buku “mimpi RUMAH MURAH”, penerbit Trans Media, 2009 )

WARISAN ARSITEKTUR NUSANTARA
Ternyata dalam kemurahan juga terdapat potensi eksplorasi yang sebetulnya tidak terbatas untuk menciptakan keindahan dan kemewahan yang bermakna. Kita juga seharusnya belajar soal kemewahan dalam kesederhanaan melalui warisan Arsitektur Tradisional Nusantara yang teramat kaya. Arsitektur Tradisional Nusantara menjadi bukti evolusi arsitektur yang menghormati alam. Bukti pemanfaatan kekayaan alam, menyatu dengan alam, tanpa mematikan kesempatan alam untuk beregenerasi. Nilai-nilai luhur warisan arsitektur nusantara ini merupakan sumber inspirasi dan eksplorasi yang sangat luas bagi terciptanya arsitektur masa kini yang bernilai tinggi. Indonesia merupakan negara yang memiliki warisan kekayaan budaya dan arsitektur paling besar di seluruh dunia. Apakah kita sudah memelihara, mempelajari, menggali, dan mengembangkan warisan nenek moyang kita itu dengan selayaknya?

HEMAT dan MURAH sebagai WUJUD IMAN
Masa depan Bumi serta kesanggupan Bumi menjadi sumber hidup bagi anak cucu kita terletak pada sikap hidup manusia masa kini. Nenek moyang kita memiliki sikap hidup yang sangat bijaksana karena memberikan kesempatan kepada alam untuk hidup bersama-sama. Sangat kontras dengan sikap hidup manusia masa kini yang mengeksploitasi alam, membunuh alam dengan tergesa-gesa, demi memperkaya diri sendiri. Padahal bumi dan segala isinya diciptakan Tuhan untuk memberikan manfaat bagi seluruh manusia. Padahal Tuhan pun memberikan mandat bagi seluruh manusia untuk memelihara bumi dan segala isinya. Sikap acuh, tidak peduli, egois dalam gaya hidup kita dan hal-hal kecil sehari-hari, akan menumpuk kerusakan dan kehancuran Bumi lebih cepat tanpa kita menyadarinya. Secara langsung maupun tidak langsung juga sama dengan membunuh manusia sekitarnya dengan perlahan-lahan.
Arsitektur Murah adalah salah satu cara dan pilihan untuk melestarikan Bumi. Bila setiap pemilik membangun rumah/propertinya sedikit saja lebih murah dari kemampuannya, maka sudah cukup banyak penghematan yang bisa dikumpulkan. Bila biasanya menggunakan material impor, sekarang lebih banyak menggunakan material dalam negeri, maka cukup banyak polusi CO2 berkurang. Cukup banyak pula masyarakat kita yang mendapat nafkah bagi kehidupan keluarganya. Bila rasa puas akan kesederhanaan menjadi gaya hidup, maka cukup banyak anak cucu kita yang juga akan menikmati kesederhanaan hidup. Bila kesederhanaan hidup menjadi keseharian banyak orang, maka cukup banyak kelebihan kekayaan -- yang sebetulnya adalah titipan Tuhan untuk dikelola – yang dapat bermanfaat bagi kepentingan lingkungan hidup ataupun masyarakat yang kurang mampu. Maka nilai dan makna kehidupan kita akan semakin indah. Kesadaran penuh terhadap kepemilikan kita sebagai titipan Tuhan adalah wujud kesadaran dan penyerahan diri bahwa kepandaian, kesehatan, kesempatan, potensi, bakat, dan semua identitas diri kita adalah semata-mata anugerah dari Sang Pencipta. Kepada-Nya sajalah kita selayaknya menaruh rasa takut, hormat, dan pengabdian hidup tanpa kuatir akan penilaian orang terhadap harga diri kita. Karena harga diri sebetulnya bukan terletak pada kemewahan, bukan terletak pada Arsitektur Seolah-olah, tetapi pada pengakuan diri (yang tercermin pada gaya hidup sehari-hari) sebagai hamba di hadapan Sang Pencipta dan sikap mengasihi sesama manusia yang dikasihi-NYA.

15 Februari 2009
yu sing
arsitek yang bermimpi untuk membantu desain sejuta rumah murah dengan jasa desain murah, penulis buku “mimpi RUMAH MURAH” terbitan Trans Media