23.4.11

rumah perkumpulan agama

Lihat sekelilingmu
Gereja masjid dll bertebaran
Lihat sekelilingmu
Bila kehadirannya tidak memberkati lingkungan sekitar,
Maka itu semua tidaklah layak disebut rumah ibadah.

konon, di rumah2 itu diajarkan kalau ibadah yg sejati bukan hanya soal ritual,
bukan hanya soal sakral vertikal,
Tapi semua ucap laku yang membawa kebaikan bagi sesama.

Maka bila di pusatnya saja tidak membuktikannya,
Itu bukan rumah ibadah,
Tapi sekedar rumah perkumpulan agama saja.

dan bila rumah perkumpulan itu menjelek-jelekkan perkumpulan lainnya, makin terbuktilah itu sekedar perkumpulan.
Lebih nista dari perkumpulan non agama yg tidak saling cakar.

Lebih nista lagi karena banyak perkumpulan yang menanamkan akar kebencian pada anggotanya.
Jadilah indonesia saat ini.
Penuh rumah perkumpulan agama.tak memberkati lingkungan sekitarnya.
persoalan agama tak kunjung tuntas.
Persoalan kurang gizi saja tetap merongrong.
Indonesia yang tak kunjung sehat sejahtera.
Karena bertebaran rumah perkumpulan agama.
Ibadah hanyalah iba pada diri sendiri.

berkabung
10 maret 2011,
yu sing

tuhan [saja] diam

Ketika tuhan diam
Pedang dihunus manusia
Membela tuhan
Membunuh manusia lain
Mengklaim tuhan
Menghancurkan kehidupan damai

Kenapa tuhan diam?
Kenapa tuhan harus dibela?
Kenapa pedang jadi simbol tuhan?
Tuhan apaan?
Untuk apa tuhan dipedangkan?

sejarah kekelaman dunia (agama) di berbagai belahan bumi masih terus saja diulangi.

Fundamentalisme mengakar dalam pikiran sempit
Bukan hanya pada penghunus pedang
Pluralisme terkikis tipis
manusia tak mampu mengenal penciptanya
Tuhan yang diam

Wahai manusia bengis
Tuhan diam saja
Mengapa engkau bengis?
lebih berkuasa dari tuhan?
Bunuh saja tuhan
Hunus pedangmu
Bunuh tuhan yang diam
Mampukah kau buat tuhan terdengar?

7 februari 2011
yu sing

hilang

Sebatang pohon
Setenun indah sarang (telur) burung
Gergaji meraung2
Burung bercicit berteriak panik
Sang pohon tumbang
'duamm...'
Sarang burung terpental hancur
Ruang bermain hilang
Ruang cinta keluarga burung hilang

Sejuta pohon
Semilyar kehidupan
Gergaji mesin
Serakus manusia
'duamm.....duammm...duammmmmm'
Semilyar kehidupan hilang ruang hidup
Manusia tersenyum licik
Berhitung milyaran uang

Satu hutan
Dua hutan
Puluh hutan
Ratus hutan
Gergaji mesin
Senyum rakus
Kehidupan hilang

14 april 2011
yu sing

18 Kebohongan, 18 Instruksi Presiden, 7 Pernyataan Tokoh Agama

Para tokoh lintas agama berkumpul pada Senin (10/1) di kantor Dakwah PP Muhammadiyah, Jakarta. Mereka adalah Syafii Maarif, Andreas A Yewangoe, Din Syamsuddin, Pendeta D Situmorang, Bikkhu Pannyavaro, Shalahuddin Wahid, I Nyoman Udayana Sangging, Franz Magnis Suzeno, dan Romo Benny Susetyo.

Ke-9 tokoh agama ini mengungkapkan kebohongan pemerintah yang tertuang dalam 'Pernyataan Publik Tokoh Lintas Agama Pencanangan Tahun Perlawanan Terhadap Kebohongan'. Berikut 9 kebohongan lama pemerintah:

1. Pemerintah mengklaim bahwa pengurangan kemiskinan mencapai 31,02 juta jiwa. Padahal, data penerimaan beras rakyat miskin pada 2010 mencapai 70 juta jiwa dan penerima layanan kesehatan bagi orang miskin (Jamkesmas) mencapai 76,4 juta jiwa.

2. Presiden SBY pernah mencanangkan program 100 hari untuk swasembada pangan. Namun, pada awal 2011 kesulitan ekonomi justru terjadi secara masif.

3. SBY mendorong terobosan ketahanan pangan dan energi berupa pengembangan varietas Supertoy HL-2 dan program Blue Energi. Program ini mengalami gagal total.

4. Presiden SBY melakukan konferensi pers terkait tragedi pengeboman Hotel JW Marriot. Ia mengaku mendapatkan data intelijen bahwa fotonya menjadi sasaran tembak teroris. Ternyata, foto tersebut merupakan data lama yang pernah diperlihatkan dalam rapat dengan Komisi I DPR pada 2004.

5. Presiden SBY berjanji menuntaskan kasus pembunuhan aktivis HAM Munir sebagai a test of our history. Kasus ini tidak pernah tuntas hingga kini.

6. UU Sistem Pendidikan Nasional menuliskan anggaran pendidikan harus mencapai 20% dari alokasi APBN. Alokasi ini harus dari luar gaji guru dan dosen. Hingga kini anggaran gaji guru dan dosen masih termasuk dalam alokasi 20% APBN tersebut.

7. Presiden SBY menjanjikan penyelesaian kasus lumpur Lapindo dalam Debat Calon Presiden 2009. Penuntasan kasus lumpur Lapindo tidak mengalami titik temu hingga saat ini.

8. Presiden SBY meminta semua negara di dunia untuk melindungi dan menyelamatkan laut. Di sisi lain Presiden SBY melakukan pembiaran pembuangan limbah di Laut Senunu, NTB, sebanyak 1.200 ton oleh PT Newmont dan pembuangan 200.000 ton limbah PT Freeport ke sungai di Papua.

9. Tim audit pemerintah terhadap PT Freeport mengusulkan renegosiasi. Upaya renegosiasi ini tidak ditindaklanjuti pemerintah hingga kini.

Dan 9 kebohongan baru pemerintah SBY:

1. Dalam Pidato Kenegaraan 17 Agustus 2010 Presiden SBY menyebutkan bahwa Indonesia harus mendukung kerukunan antarperadaban atau harmony among civilization. Faktanya, catatan The Wahid Institute menyebutkan sepanjang 2010 terdapat 33 penyerangan fisik dan properti atas nama agama dan Kapolri Bambang Hendarso Danuri menyebutkan 49 kasus kekerasan ormas agama pada 2010.

2. Dalam pidato yang sama Presiden SBY menginstruksikan polisi untuk menindak kasus kekerasan yang menimpa pers. Instruksi ini bertolak belakang dengan catatan LBH Pers yang menunjukkan terdapat 66 kekerasan fisik dan nonfisik terhadap pers pada 2010.

3. Presiden SBY menyatakan akan membekali Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dengan telepon genggam untuk mengantisipasi permasalahan kekerasan. Aksi ini tidak efektif karena di sepanjang 2010 Migrant Care mencatat kekerasan terhadap TKI mencapai 1.075 orang.

4. Presiden mengakui menerima surat dari Robert Zoelick (Bank Dunia) pada pertengahan 2010 untuk meminta agar Sri Mulyani diizinkan bekerja di Bank Dunia. Tetapi, faktanya, pengumuman tersebut terbuka di situs Bank Dunia. Presiden SBY diduga memaksa Sri Mulyani mundur sebagai Menteri Keuangan agar menjadi kambing hitam kasus Bank Century.

5. SBY berkali-kali menjanjikan sebagai pemimpin pemberantasan korupsi terdepan. Faktanya, riset ICW menunjukkan bahwa dukungan pemberantasan korupsi oleh Presiden dalam kurun September 2009 hingga September 2010, hanya 24% yang mengalami keberhasilan.

6. Presiden SBY meminta penuntasan rekening gendut perwira tinggi kepolisian. Bahkan, ucapan ini terungkap sewaktu dirinya menjenguk aktivis ICW yang menjadi korban kekerasan, Tama S Langkun. Dua Kapolri, Jenderal Bambang Hendarso Danuri dan Jenderal Timur Pradopo, menyatakan kasus ini telah ditutup.

7. Presiden SBY selalu mencitrakan partai politiknya menjalankan politik bersih, santun, dan beretika. Faktanya, anggota KPU Andi Nurpati mengundurkan diri dari KPU, dan secara tidak beretika bergabung ke Partai Demokrat. Bahkan, Ketua Dewan Kehomatan KPU Jimly Asshiddiqie menilai Andi Nurpati melakukan pelanggaran kode etik dalam Pemilu Kada Toli-Toli.

8. Kapolri Timur Pradopo berjanji akan menyelesaikan kasus pelesiran tahanan Gayus Tambunan ke Bali selama 10 hari. Namun, hingga kini, kasus ini tidak mengalami kejelasan dalam penanganannya. Malah, Gayus diketahui telah sempat juga melakukan perjalanan ke luar negeri selama dalam tahanan.

9. Presiden SBY akan menindaklanjuti kasus tiga anggota KKP yang mendapatkan perlakuan tidak baik oleh kepolisian Diraja Malaysia pada September 2010. Ketiganya memperingatkan nelayan Malaysia yang memasuki perairan Indonesia. Namun, ketiganya malah ditangkap oleh polisi Diraja Malaysia. Sampai saat ini tidak terdapat aksi apa pun dari pemerintah untuk nmenuntaskan kasus ini dan memperbaiki masalah perbatasan dengan Malaysia.

Merespons pernyataan para tokoh agama, SBY menggelar kabinet terbatas di Istana Presiden, Jakarta, Senin (17/1). Sidang dihadiri lembaga penegak hukum seperti Polri dan Kejaksaan dan sejumlah menteri seperti Menteri Keuangan dan Menteri Hukum Hak Asasi Manusia. Usai menggelar rapat, SBY menyampaikan 12 instruksi presiden, berikut isinya:

1. Presiden meminta kepolisian Negara Republik Indonesia, Kejaksaan, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Hukum dan HAM untuk mempercepat dan menuntaskan kasus hukum Gayus Tambunan.

2. Agar lebih meningkatkan sinergi diantara penegak hukum dengan melibatkan PPATK dan Satgas pemberantasan mafia hukum. "KPK lebih dilibatkan dan tetap didorong untuk melakukan langkah-langkah pemeriksaan yang belum ditangani oleh Polri," kata Presiden SBY.

3. Akan dilakukan audit kinerja dan audit keuangan terhadap lembaga penegak hukum yang memiliki kaitan dengan kasus Gayus Tambunan, yang ditandai dengan terjadinya penyimpangan di sejumlah simpul beberapa lembaga tersebut. "Mulai hari ini, di Kepolisian, Kejaksaan, dan Direktorak Jenderal pajak. Saya berharap hal yang sama juga dilakukan terhadap lembaga-lembaga penegak hukum yang tidak di bawah kemimpinan dan kendali presiden," SBY menjelaskan.

4. Penegakan hukum agar dijalankan secara adil dan tidak pandang bulu.. Sejumlah 149 perusahaan yang disebut-sebut dalam kasus Gayus Tambunan bisa saja ada kaitannya dengan masalah perpajakan, jika hasil penyelidikan menunjukkan bukti cukup.

5. Guna meningkatkan efektivitas penegakan hukum, Presiden berpendapat, pembuktian terbalik dapat dilakukan sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku di negara kita.

6. Presiden menginstruksikan untuk mengamankan dan mengembalikan uang dan aset-aset Negara, termasuk perlunya dilakukan perampasan uang yang diduga hasil korupsi dalam kasus Gayus Tambunan.

7. Memberikan tindakan administrasi dan disiplin, disamping sanksi hokum, kepada semua pejabat yang dinyatakan bersalah. Dalam hal ini termasuk mutasi dan pencopotan. Presiden berharap poin ketujuh ini dapat dilakukan dalam satu pecan ke depan.

8. Presiden memberikan waktu satu bulan untuk organisasi atau lembaga yang sejumlah pejabatnya melakukan penyimpangan agar menata ulang supaya unsur-unsur yang bisa melakukan hal yang serupa di masa depan dapat dibersihkan.

9. Presiden akan melakukan peninjauan dan perbaikan secara serius terhadap sistem kerja dan semua aturan yang memiliki celah atau lubang hukum untuk mencegah terjadinya penyimpangan dan kejahatan serupa di masa yang akan datang.

10. Presiden ingin mendapatkan laporan secara berkala terhadap kemajuan penuntasan kasus Gayus Tambunanan. "Termasuk pelaksanaan Instruksi Presiden yang secara tertulis akan segera kita keluarkan, setiap dua minggu," SBY menjelaskan.

11. Pejabat terkait diminta menjelaskan kepada masyarakat tentang apa yang telah, sedang, dan akan dilakukan dalam proses penangan kasus Gayus.

12. Wakil Presiden ditugasi untuk memimpin kegiatan pengawasan, pemantauan, dan penilaian, pelaksanaan Inpres ini dengan dibantu oleh Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum.

Selain memberikan 12 instruksi terkait penuntasan kasus Gayus Tambunan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga mengeluarkan enam Instruksi Presiden sebagai tindak lanjut penuntasan kasus Bank Century. Hal tersebut diutarakan Presiden usai rapat kabinet terbatas bidang Polhukam di Kantor Presiden, Senin (17/1) Sore.

1. Penuntasan semua kegiatan guna merespon hasil Panitia Angket DPR RI tentang Bank Century.

2. Tuntaskan pembenahan regulasi dan mekanisme kerja di jajaran pemerintah, utamanya di jajaran Kementerian Keuangan, sesuai rekomendasi DPR RI. "Hal sama saya berharap juga dilakukan di jajaran Bank Indonesia," kata Presiden.

3. Terus mengupayakan dan menuntaskan pengembalian aset Bank Century yang diduga dibawa ke negara-negara tertentu. "ika diperlukan, saya minta untuk disiapkan surat presiden kepada kepala pemerintahan negara-negara itu agar terwujud kerjasama yang baik sesuai dengan konvensi Perserikatan Bangsa Bangsa," ujar Presiden.

SBY juga meminta kepada tim pengembalian aset Bank Century diperkuat. Contohnya, jika perlu diperkuat oleh konsultan yang mengerti seluk beluk di negara yang bersangkutan dengan tujuan agar pengembalian aset benar-benar berhasil.

4. Presiden berharap agar dijelaskan secara berkala dan efektif kepada publik tentang apa saja yang dilakukan oleh pejabat terkait di dalam menindaklanjuti rekomonedasi dari Panitia Angket DPR RI.

5. Mengenai sisi korupsi yang disebut di dalam rekomendasi Panitia Angket Bank Century, Presiden berharap KPK menjelaskan secara gamblang dugaan bila korupsi ditemukan maupun tidak. "Jangan biarkan masyarakat bertanya-tanya apa yang dilakukan oleh negara," Presiden menegaskan.

6. Menyangkut isu deponeering kasus Bibit-Chandra, Presiden mendukung rencana Kejaksaan Agung sesuai dengan kewenangannya dan undang-undang yang berlaku. "Yang penting, segara dilakukan langkah-langkah yang pasti dalam waktu dekat ini agar memberikan kepastian kepada masyarakat luas, termasuk efektivtas penegakan hukum, baik yang dilakukan oleh KPK maupun jajaran penegak hukum lainnya," kata SBY.

Instruksi Presiden ini ditujukan kepada jajaran penegak hukum di bawah wewenangnya. Namun SBY berharap penegak hukum dari unsur non pemerintah juga melakukan hal yang sejalan agar tugas bersama dapat dilaksanakan dengan berhasil.

Sebagai upaya untuk melakukan komunikasi dan silaturahmi, terkait dengan isu-isu yang menghangat seminggu terakhir, SBY mengundang para tokoh agama ke Istana Negara pada Senin (17/1) malam. Sebelum bertemu dengan presiden, para tokoh lintas agama telah menyiapkan pernyataan terbuka yang akan disampaikan ke Presiden SBY. Berikut tujuh pernyataan tokoh lintas agama:

1. Sebagai negara kepulauan terbesar di muka bumi dengan keragaman etnis, budaya dan agama yang tinggi, sungguh layak kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Adil karena masih bisa bertahan utuh dalam sebuah negara bangsa. 66 tahun sudah bangsa menyatakan kemerdekaan namun belum semua warganya menikmati kemerdekaan yang utuh.

2. Dalam Pembukaan dan batang tubuh UUD 1945, cita-cita para pendiri bangsa telah sangat jelas tersurat, kemerdekaan sejati yang mewujudkan keadilan dan kemakmuran bagi segenap anak bangsa. Namun, hingga kini, masih merebak kekerasan atas nama agama dan kelompok terhadap umat beragama dan berkeyakinan, terhadap kebebasan berpendapat, dan insan pers; yang masih tampak dibiarkan oleh negara (negara tidak hadir). Impunitas terhadap pelanggaran HAM masih sangat jelas.

3. Sampai hari ini, kantong-kantong kemiskinan masih mudah kita temukan di banyak tempat tanah air kita. Kebijakan ekonomi pemerintah memang menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,8% dan meningkatkan pendapatan per kapita menjadi USD 3.000 pada 2011, tetapi gagal dalam pemerataan kesejahteraan. Masih banyak warga Indonesia yang menderita gizi buruk dan tidak mendapatkan pelayanan kesehatan seperti seharusnya sehingga meninggal dunia dan harus putus sekolah. Jutaan petani masih belum mempunyai tanah yang memenuhi syarat minimum sebagai alat produksi.

4. Kami menggarisbawahi pendapat banyak ahli ekonomi yang menyatakan bahwa kebijakan ekonomi Indonesia saat ini bertentangan dengan amanat Pembukaan dan batang tubuh UUD. Sumber daya alam belum dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Bahkan, perusakan terhadap lingkungan hidup dapat terus disaksikan dengan nyata.

5. Amandemen UUD 1945 yang menyatakan bahwa Indonesia adalah Negara Hukum, tidak sesuai dengan kenyataan. Hukum ternyata bukanlah kekuasaan tertinggi, masih kalah oleh kekuasaan dan uang. Janji Pemerintah memerangi korupsi hanya akan ada dalam kenyataan, kalau prinsip pembuktian terbalik diterapkan secara penuh.

6. Pemerintah tidak memberi perhatian memadai terhadap korban pelanggaran HAM yang berat. Pemerintah tidak mampu dan tidak menunjukkan niat untuk membela begitu banyak buruh migran yang mendapat perlakuan buruk di berbagai negara. Berarti Pemerintah tidak melindungi segenap bangsa Indonesia, sesuai amanat Pembukaan UUD 1945.

7. Bagi kami, sejumlah kenyataan diatas adalah bentuk pengingkaran terhadap UUD 1945. Kita harus mendesak Pemerintah untuk segera mengakhiri pengingkaran itu, jika Pemerintah menolak atau mengabaikan desakan tersaebut, berarti Pemerintah melakukan kebohongan publik (dalam pengertian adaa kesenjangan anatara ucapan dan tindakan atau antara pernyataan dan kenyataan). (Media Indonesia)

http://indonesian.irib.ir/index.php?option=com_content&view=article&id=28770:18-kebohongan-18-instruksi-presiden-7-pernyataan-tokoh-agama&catid=16:cakrawala-indonesia&Itemid=59

mungkin sekali kita sendiri juga maling

Oleh Taufiq Ismail



Kita hampir paripurna menjadi bangsa porak-poranda, terbungkuk dibebani hutang dan merayap melata sengsara di dunia.

Penganggur 40 juta orang, anak-anak tak bisa bersekolah 11 juta murid, pecandu narkoba 6 juta anak muda, pengungsi perang saudara 1 juta orang, VCD koitus beredar 20 juta keping, kriminalitas merebat disetiap tikungan jalan
... dan beban hutang di bahu 1600 trilyun rupiah.

Pergelangan tangan dan kaki Indonesia diborgol diruang tamu Kantor Pegadaian Jagat Raya, ... dan dipunggung kita dicap sablon besar-besar: Tahanan IMF dan Penunggak Bank Dunia.

Kita sudah jadi bangsa kuli dan babu, menjual tenaga dengan upah paling
murah sejagat raya.

Ketika TKW-TKI itu pergi lihatlah mereka bersukacita antri penuh harapan dan angan-angan di pelabuhan dan bandara, ketika pulang lihat mereka berdukacita
karena majikan mungkir tidak membayar gaji, banyak yang disiksa malah diperkosa dan pada jam pertama mendarat di negeri sendiri diperas pula.

Negeri kita tidak merdeka lagi, kita sudah jadi negeri jajahan kembali.

Selamat datang dalam zaman kolonialisme baru, saudaraku.

Dulu penjajah kita satu negara, kini penjajah multi kolonialis banyak
bangsa. Mereka berdasi sutra, ramah-tamah luar biasa dan banyak senyumnya.

Makin banyak kita meminjam uang, makin gembira karena leher kita makin mudah dipatahkannya.

Di negeri kita ini, prospek industri bagus sekali.Berbagai format
perindustrian, sangat menjanjikan, begitu laporan penelitian.

Nomor satu paling wahid, sangat tinggi dalam evaluasi, dari depannya penuh janji, adalah industri korupsi.

Apalagi di negeri kita lama sudah tidak jelas batas halal dan haram, ibarat membentang benang hitam di hutan kelam jam satu malam.

Bergerak ke kiri ketabrak copet, bergerak ke kanan kesenggol jambret, jalan di depan dikuasai maling, jalan di belakang penuh tukang peras, yang diatas tukang tindas.

Untuk bisa bertahan berakal waras saja di Indonesia, sudah untung. Lihatlah para maling itu kini mencuri secara berjamaah.

Mereka bersaf-saf berdiri rapat, teratur berdisiplin dan betapa khusyu'.

Begitu rapatnya mereka berdiri susah engkau menembusnya.

Begitu sistematiknya prosedurnya tak mungkin engkau menyabotnya.

Begitu khusyu'nya, engkau kira mereka beribadah.

Kemudian kita bertanya, mungkinkah ada maling yang istiqamah?

Lihatlah jumlah mereka, berpuluh tahun lamanya, membentang dari depan sampai ke belakang, melimpah dari atas sampai ke bawah, tambah merambah panjang deretan saf jamaah.

Jamaah ini lintas agama, lintas suku dan lintas jenis kelamin.

Bagaimana melawan maling yang mencuri secara berjamaah?

Bagaimana menangkap maling yang prosedur pencuriannya malah dilindungi dari atas sampai ke bawah?

Dan yang melindungi mereka, ternyata, bagian juga dari yang pegang senjata dan yang memerintah.

Bagaimana ini ? .......

Tangan kiri jamaah ini menandatangani disposisi MOU dan MUO (Mark Up Operation), tangan kanannya membuat yayasan beasiswa, asrama yatim piatu dan
sekolahan.

Kaki kiri jamaah ini mengais-ngais upeti ke sana kemari, kaki kanannya
bersedekah, pergi umrah dan naik haji.

Otak kirinya merancang prosentasi komisi dan pemotongan anggaran, otak kanannya berzakat harta, bertaubat nasuha dan memohon ampunan Tuhan.

Bagaimana caranya melawan maling begini yang mencuri secara berjamaah?

Jamaahnya kukuh seperti dinding keraton, tak mempan dihantam gempa dan banjir bandang, malahan mereka juru tafsir peraturan dan merancang undang-undang, penegak hukum sekaligus penggoyang hukum, berfungsi bergantian.

Bagaimana caranya memroses hukum maling-maling yang jumlahnya ratusan ribu, barangkali sekitar satu juta orang ini, cukup jadi sebuah negara mini, meliputi mereka yang pegang kendali perintah, eksekutif, legislatif, yudikatif dan dunia bisnis, yang pegang pestol dan mengendalikan meriam, yang berjas dan berdasi.

Bagaimana caranya mau diperiksa dan diusut secara hukum ?

Mau didudukkan di kursi tertuduh sidang pengadilan?

Mau didatangkan saksi-saksi yang bebas dari ancaman?

Hakim dan jaksa yang bersih dari penyuapan ?

Percuma

Seratus tahun pengadilan, setiap hari 8 jam dijadwalkan Insya Allah tak akan terselesaikan.

Jadi, saudaraku, bagaimana caranya?

Bagaimana caranya supaya mereka mau dibujuk, dibujuk, dibujuk agar bersedia mengembalikan jarahan yang berpuluh tahun dan turun-temurun sudah mereka kumpulkan.

Kita doakan Allah membuka hati mereka, terutama karena terbanyak dari mereka orang yang shalat juga, orang yang berpuasa juga, orang yang berhaji juga.

Kita bujuk baik-baik dan kita doakan
mereka.

Celakanya, jika di antara jamaah maling itu ada keluarga kita, ada hubungan darah atau teman sekolah, maka kita cenderung tutup mata, tak sampai hati menegurnya.

Celakanya, bila di antara jamaah maling itu ada orang partai kita, orang seagama atau sedaerah, Kita cenderung menutup-nutupi fakta, lalu
dimakruh-makruhkan dan diam-diam berharap semoga kita mendapatkan cipratan harta tanpa ketahuan.

Maling-maling ini adalah kawanan anai-anai dan rayap sejati.

Dan lihat kini jendela dan pintu Rumah Indonesia dimakan rayap.

Kayu kosen, tiang, kasau, jeriau rumah Indonesia dimakan anai-anai.

Dinding dan langit-langit, lantai rumah Indonesia digerogoti rayap. Tempat tidur dan lemari, meja kursi dan sofa, televisi rumah Indonesia dijarah anai-anai.

Pagar pekarangan, bahkan fondasi dan atap rumah Indonesia sudah mulai habis dikunyah-kunyah rayap. Rumah Indonesia menunggu waktu, masa rubuhnya yang sempurna.

Aku berdiri di pekarangan, terpana menyaksikannya.

Tiba-tiba datang serombongan anak muda dari kampung sekitar.

"Ini dia rayapnya! Ini dia Anai-anainya!" teriak mereka.

"Bukan. Saya bukan Rayap, bukan!" bantahku.

Mereka berteriak dan mendekatiku dengan sikap mengancam.

Aku melarikan diri kencang-kencang.

Mereka mengejarkan lebih kencang lagi

Mereka menangkapku.

"Ambil bensin!" teriak seseorang.

"Bakar Rayap," teriak mereka bersama.

Bensin berserakan dituangkan ke kepala dan badanku.

Seseorang memantik korek api.

Aku dibakar.

Bau kawanan rayap hangus.

Membubung Ke udara.

Inikah akhir kehidupan rayap ? Semoga !

http://doa-bagirajatega.blogspot.com/2011/02/fwmungkin-sekali-kita-sendiri-juga.html

menjadi kawan, membangun persaudaraan

Oleh I Suharyo

Atmabrata. Kata ini saya lihat tertulis pada sekeping papan sederhana, tergantung di dinding depan sebuah bangunan sederhana di daerah Cilincing, Jakarta Utara.

Atma berarti ’jiwa’, brata punya berbagai macam arti, seperti ’janji’, ’sumpah’, ’laku utama’, ’pandangan’, dan ’keteguhan hati’. Namun, bagi yang bertanggung jawab atas rumah itu, atmabrata berarti ’jiwa yang hening’.

Apa pun arti kata itu, di rumah sederhana itu berpusat bermacam pelayanan, seperti rumah pendidikan, rumah kesehatan, rumah koperasi, dan rumah pangan. Semua dalam wujud yang amat sederhana, diperuntukkan bagi warga yang lemah, miskin, dan tersingkir, dilaksanakan oleh sekian banyak relawan yang dengan tulus ingin berbagi kehidupan.

Ketika saya bertamu, di rumah itu ada berbagai kegiatan: sekelompok warga mencuci sampah plastik yang akan didaur ulang, sejumlah ibu menerima penjelasan mengenai koperasi, dan dari dalam rumah itu berembus angin berbau masakan sedap karena ada tiga wanita yang sedang memasak. Untuk siapa? Mereka memasak dan mengantarkan masakan itu ke rumah 86 warga lanjut usia di wilayah itu, yang setiap hari menantikan kedatangan pembawa berkat berupa makan siang. Sama sekali tidak ada sekat-sekat di antara sekian banyak warga yang berkumpul di rumah itu.

Di wajah mereka terbaca suatu harapan untuk kehidupan yang lebih baik, lebih bersaudara, dan kegembiraan karena dapat saling membantu. Suatu pemandangan yang menyentuh hati. Sumbernya adalah atmabrata, jiwa yang teguh, jiwa yang hening, jiwa yang menjadi sumber laku utama. Amat berbeda dibandingkan dengan hiruk-pikuk kehidupan yang pada hari-hari ini sering terdengar, seperti berita tentang korupsi, teror bom, pembangunan gedung wakil rakyat, konflik, dan tawuran antarwarga.

Pimpinan rumah dan pendukung pelayanan di Atmabrata mengatakan, baik rumah maupun berbagai pelayanan itu diselenggarakan dengan amat sederhana agar tidak ada orang yang merasa takut masuk ke dalam lingkaran pelayanan ini. Mereka tampil sebagai kawan, bukan sebagai yang mempunyai kuasa atau memiliki lebih. Dalam kacamata Kristiani, komunitas Atmabrata adalah komunitas Paskah.

Persaudaraan

Dalam salah satu kisah Paskah yang berisi kisah penampakan kepada dua murid dari Emmaus (Luk 24:13-35), Yesus yang bangkit juga ditampilkan sebagai teman yang membangun persaudaraan. Menurut kisah itu, kematian Yesus jelas membuat kedua murid dari Emmaus ini sangat kecewa. Yesus yang mereka harapkan akan mengubah kehidupan mereka menjadi lebih baik mati dengan cara yang amat hina, seperti penjahat. Kepada kedua murid yang kecewa dan hatinya pahit ini, Yesus yang bangkit datang dan hadir sebagai kawan, ”berjalan bersama-sama dengan mereka” (Luk 24:15). Ia tidak menebak sok tahu perasaan hati mereka, tetapi bertanya, ”Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?” Ketika pertanyaan itu dijawab dengan nada yang merendahkan dan memusuhi, Yesus tetap membawakan diri sebagai kawan yang amat memahami suasana hati murid-murid yang gundah dan kecewa, yang tecermin dalam muka mereka yang muram (Ayat 17). Ia bertanya merendah, Apakah itu” (Ayat 19). Menyusullah suatu muntahan kekecewaan dari lubuk hati kedua murid itu, yang hanya dapat didengarkan dan dimengerti oleh seorang kawan (Ayat 19-24).

Rupanya muntahan kekecewaan yang didengarkan dengan terbuka itu mengubah pandangan kedua murid itu terhadap Yesus. Yang semula dianggap orang asing, mencurigakan, atau bahkan mungkin mengancam diterima sebagai kawan seperjalanan. Ketika Yesus sudah diterima sebagai kawan seperjalanan, kata-kata-Nya yang keras tidak lagi ditangkap sebagai penghinaan yang menyakitkan, tetapi sabda yang membuka mata (Ayat 31) dan membuat hati berkobar-kobar (Ayat 32).

Kedua murid itu mengalami Paskah sejati: semula muka mereka muram (Ayat 17), penuh kekecewaan yang menceraiberaikan. Perjumpaan dengan Sang Kawan ini membuat hati mereka berkobar-kobar (Ayat 32), penuh pengharapan. Selanjutnya, mereka kembali berkumpul dengan kawan-kawan mereka (Ayat 33) dan terbangunlah komunitas Paskah yang baru.

Mewujud

Paskah bukan sekadar upacara, juga bukan peristiwa masa lampau saja. Lilin Paskah yang dinyalakan setiap perayaan Paskah selalu diberi tanda tahun ketika Paskah itu dirayakan. Harapannya, agar warta Paskah diwujudkan dalam realitas sosial.

Dalam berbagai kesempatan, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) mengajak umat untuk selalu hadir bersahabat, terlibat dalam usaha membangun persaudaraan dan kesejahteraan bersama di tengah-tengah realitas masyarakat yang kompleks. Surat yang ditulis oleh para uskup dalam Sidang KWI, 12 November 2010, mengajak umat untuk melihat realitas kemiskinan yang, antara lain, disebabkan oleh belum tampaknya kebijakan politik dan ekonomi yang secara kasatmata berpihak pada orang kecil. Surat yang sama mengajak umat untuk menyadari bahwa sikap intoleransi yang dirasa semakin mencemaskan dan korupsi yang semakin berbau busuk dapat merusak kehidupan bersama dan persaudaraan di tengah masyarakat.

Kemiskinan, intoleransi, dan korupsi itu membuat hidup menjadi sangat kurang manusiawi. Di tengah-tengah realitas semacam itu umat Kristiani yang merayakan Paskah, baik secara pribadi maupun bersama-sama, ditantang untuk menjawab pertanyaan ini, ”Apa yang harus saya atau kita lakukan agar kehidupan bersama di lingkungan kita menjadi semakin manusiawi?” Menjawab pertanyaan ini berarti menghayati pesan Paskah. Bekerja sama menanggapi tantangan itu berarti membangun komunitas Paskah. Selamat Paskah!

I Suharyo Uskup Keuskupan Agung Jakarta
http://cetak.kompas.com/read/2011/04/23/04574316/menjadi.kawan.membangun.persaudaraan

28.3.11

ocean village












BACKGROUND
The Limited Land Area
The total area of Indonesia consists of 70% water area, with only 30% land area. This ratio is approximately the same of that within the earth scale. Thus it can be said that the ratio of water to land area of Indonesia represent the ratio of those of earth. Most of people now live on the land, which occupies only the 30% part of the earth area. In Indonesia, most of them live in big cities, such as Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Medan, Makassar, and so forth. As for the further details, 60% among Indonesian citizen live in Java Island of which the total area is only 1% of the total area of Indonesia.
On the island, a lot of inhabitants occupy the mainland. Along with the rising demand of land, while the area had never been increased, forests are becoming threatened to diminish by land conversion. Not only the conversion for housing and settlement, but also for other facilities and functions such as plantation, farmlands, road infrastructure, and so forth. These have led to large scale deforestation because of the limited land, and we must start giving attention to this matter.
Maritime ­­­­History of Indonesia
Below is one of Indonesian folk songs:
“Nenek moyangku orang pelaut
Gemar mengarung luas samudera
Menerjang ombak tiada takut
Menempuh badai sudah biasa”
That is translated as:
“My ancestors were sailors
Like to wade vast ocean
No fear of crashing waves
Familiar of sailing through storm”
The song lyric tells that Indonesia, long-ago, were known as nation of sailors. With a fleet of large ships, kingdoms of Indonesia were able to unite tribes scattered throughout the archipelago. As with the society, Indonesian in antiquity were so close and intimate with the ocean that many of their housing and settlements were built on waters, reflected on so many remaining of the floating villages found on the coastal islands of Indonesia. But those villages are now being abandoned as the majority of Indonesian community were started to centered on the mainland and began to forget the ocean.
PROJECT SITE
‘Ocean Village’ site is located on Banten Bay, at the Northwestern of Java, near the Karangantu old harbor and Banten old town. The site has so many potentials such as a mangrove forest at the sea shore and fish embankment next to it. A part of the site is also an existing eco-village owned by Muqoddas Albantani. The place is really beautiful and tranquil, different to the surrounding of the near old harbor that is highly dense with occupants. The project site consists of water/sea area, mangrove forest, and land area of which most of it are existing fish/crab/shrimp embankment. It is the potential of the site which will be improved and conserved on this project.
PROJECT PURPOSE
The purpose of this project is to create a prototype of eco-village, with the housing designed to be floating above the sea level instead of being built above the land. Through this project we will be reminded not to forget that we still have a large water area in this country, and not only focus with the land area, which is getting dense and full day by day. The area is expected to become as independent village that is able to meet its own needs, ranging from the energy, natural resources, food, and so forth.
There are three major concerns of environmental sustainability for this area:
1. Sustainable housing system
2. Sustainable ecological environment system
3. Eco-tourism system that supports community economic sustainability
Sustainable housing system is a system which provides floating housing for the fishermen so that they can get closer to the sea and no longer jostling in a highly dense slum area as they are today. The system of floating houses is made with environmentally friendly sanitation and energy systems, also with an intimate atmosphere of the life of the fishermen, the atmosphere of floating housing.
Sustainable ecological system is tried to be applied both on regional scale to housing units scale, started from utilizing the windmills to generate electrical energy and replanting mangrove forests, to using biogas for shared kitchens.
Meanwhile, to support the sustainability of the community economic system in order to continue its chain of life other than through fisheries, this settlement is also taking advantages of the potential beauty of Banten Bay with its quiet atmosphere, as well as the historical sites potential of Banten Old City, to be offered as a historical and eco-tourism project.
Finally, while the first line from original lyric of the folk song above said:
“Nenek moyangku orang pelaut...”, or translated as “My ancestors were sailors...”,
this project, then, will change it to be:
“Bangsaku orang pelaut...”, or translated as “My nation is sailor...”
FLOATING ECO-VILLAGE
The housing block of this settlement uses the analogy of the ‘floating leaves’. The leaves represents ‘green and sustainability’ symbol of this village. Moreover, leaves also represent an independency. With that form of block, this village also has a purpose to be an independent settlement, which is capable to suffice its needs of energy, natural resource, food, and so forth.
The housing unit will have a multifunction room (dining/kitchen/working room) and two bed rooms in the mezzanine level. There is also an open sky bathroom and terrace. Toilets are put together as a shared toilet so that the black water waste can through an integrated processed into biogas and compost, while gray waste water can be used again for flushing of closets and watering the plants. The buildings are made in leaves shaped platform stage, so that room under the bottom floor can be used as a place to cultivate fishes or put things.
Resource of Material
The housing units use bamboo as material for the structure, wall and floor. Coconut tree leaves will be used as material for the roof. These two materials are of the local natural resources those abundantly found at the site.
The building walls are entirely made of bamboo so that the air can circulate smoothly. As for the walls are all pivot doors those can be opened, so that the room will become very widely sensed when the pivot doors are opened, while it can also be very effective both as a working room during the day and as a family room at night.
Prototype Design for Multipurpose Building
The building shape with an open layout system allows it as a prototype of various existing functions such as school classes, restaurants, hotel rooms and shops. Thus the residential clusters can be easily turned into a cluster of school, hotel, restaurants or stores without need to change the cluster’s system and shape.
One housing cluster consists of five residential housing, a homestay, a shared kitchen and a shared toilet. On the edge of the deck/connecting alley there are small rows for the community farming. Those rows of plants can be utilized by residents to grow vegetables for their daily needs. Residential clusters are incorporated into a residential block, which consists of seven residential clusters, a boat parking circle, also a cluster of public facilities including school, multipurpose room, health clinic and so forth. In addition to three blocks comprising of residential, there is also a block contains public buildings, such as floating market, resort hotel, restaurant and stores/retails. All of them are floating above the sea level.
GREEN STRATEGIES
This project uses wind turbines and solar panels to produce electrical energy. The generated sources of electricity can be used as a source for lighting the area and other needs. Beside the large-scale wind turbines placed in a certain field, there are also small-scale windmills made of aluminum drum those can be used in each of the dwelling unit. In addition to wind power sources, electricity sources can also be generated from biogas produced from waste black water of the shared toilet.
Rainwater is something that must be managed and utilized to reduce the use of ground water. Rainwater management by receiving and using it for several purposes can reduce the use of groundwater which is now decreasing in amount. This project included rainwater management in two scales. The first one is the large scale rainwater harvesting, by utilizing water storage towers along the ridges on fish-embankment. These big-hexagonal-umbrella shaped towers are also function as a shade and create positive spaces under those can be used to perform various activities of the residents. Water collected from this harvesting process can be used by residents to water the plants, fish-embankment and also as a freshwater reserve for dwelling needs. Meanwhile, the small-scale harvesting is done by flowing the rainwater fallen from roof into wooden vats in each house, which can be used for bathing, washing and watering the plants.
Black water is a waste, which, if treated correctly will be able to produce a variety of renewable environment friendly energy and reduce the exploitation of petroleum energy sources those are now getting depleted. Management of black water can produce gas for cooking which can reduce the use of natural gas energy sources. In addition, the biogas also can produce electrical energy sources those can meet the needs of lighting at home. In this project, a management system of processing black water into biogas is planned in an integrated manner by collecting all residents’ toilets to become a shared toilet, so that the pipelines installation to produce biogas can be more simple and easy. Residual waste processing of biogas can be used as compost to fertilize plants in residents’ garden.
Wastewater from sink, washbasin and bathroom can be reused after going through a gravel filter that uses anaerobic process. Water from the filtration result can be reused for flushing the closet and watering the plants.
Organic waste of this region will entirely be composted. The use of plastic waste is, as much as might be, reduced, while if there is still some plastic garbages, then it must be, as much as possible, recycled into the craft of plastic waste.
To meet part of the food needs, residents are provided with small gardens along the connecting alleys of the housing clusters. Growing plants are including vegetables for residents’ daily use, such as tomato, water spinach, chilli, basil, mint, eggplant, cucumber, cai xin, lettuce and so forth. Meanwhile, for other food ingredients, there are also ponds of fish, crab and shrimp on the land area. Those food ingredients, in addition to meet the daily needs of the residents, can also become a selling commodity if the production excesses. Aside the food crops there are also planted crops for sources of local building materials such as bamboo and coconut trees. With these bamboo and coconut plantations, it is expected that the supplies of local building materials can be provided by this village on its own.
The existing mangrove forests found on the site are conserved and maintained to keep the ecological balance in the area. Meanwhile, the parts of the bare mangrove forest will be planted back.
HISTORICAL & ECO-TOURISM PROJECT
The potentials of natural resources and beauty, historical heritage of the past and an environmental friendly housing project can be attractive tourism packages, especially for urban residents exhausted with the noisy and overly crowded urban areas. This area provides tourism facilities those utilize the potentials of nature, history and sustainable system of the region. Aside from a homestay on each residential cluster provided for tourists who want to experience the sensation of living with the community in the floating village, there is also provided a cluster of hotel resort. Other tourist facilities, beside the inn, are restaurant, floating market, water tourism, biking lane in mangrove forest, and so forth. In the inn that blends with the community’s floating settlement, tourists can experience a different experience of staying in an eco-village with all its systems.
Historical tourism is becoming one of the potential use of the site, by making a single lane of tourism tracks on the historical old city of Banten, connecting the dots of past historical heritages ranging from the Great Mosque of Banten, Surosowan Palace, Kaibon Palace, Fort Spelwijk, Vihara Avalokitesvara, the Old Port of Karangantu, to the marine tourism on the Tunda Island, at the Northern of Banten Gulf. The historical and eco-tourism project is expected to support the sustainability of community economic system as well as of the settlements area.
REPLICABILITY
As long as having the tranquility character of water, such as those at Banten Bay, a simple building shape and a tree-branch-like form of clusters and blocks will be easily replicated elsewhere. The successful floating housing is expected to inspire other regions to help developing their area by utilizing its potentials, also with awareness of our increasingly limited land, and that we still have really large ocean areas those are not yet optimally used.
Let's become a nation of sailors.
maret 2011,
yu sing, reza prima, mohamad habibi