26.10.13

perencanaan kawasan Universitas Negeri Makassar kampus pettarani

masterplan kampus barat-timur UNM jalan pettarani
asistensi ke-2, 14-15 desember 2010.

setelah kami, tim akanoma memenangkan sayembara gedung pusat akademik 17 lantai, menara pinisi,
rektor UNM memanggil saya. Bakal ada beberapa gedung yang akan dibangun kemudian setelah menara pinisi. Dalam beberapa kali pertemuan, akhirnya saya menyarankan agar sebaiknya UNM punya masterplan/perencanaan kawasan terlebih dahulu sebelum memulai pembangunan gedung berikutnya.
Perencanaan kawasan akan menjadi panduan pembangunan berikutnya agar tidak keliru menempatkan bangunan dan juga sesuai dengan rencana jangka panjang prediksi pengembangan UNM.
Di banyak kasus di Indonesia, banyak fasilitas pemerintah seperti kampus yang terbangun tanpa perencanaan kawasan sehingga sering bangunan dibongkar pasang tanpa panduan yang jelas. Rektor setuju, dan mempercayakan akanoma untuk mengerjakan perencanaan kawasan kampus barat dan timur pettarani.

 tapak eksisting UNM pettarani, bagian putih adalah lahan menara pinisi yang waktu itu sedang dibangun.
 Beberapa bangunan eksisting dipertahankan, tetapi sebagian terpaksa dibongkar. Luas lahan kampus yang ada di tengah kota ini memang tidak cukup luas. Beberapa gedung yang sudah lama akan diganti oleh bangunan yang lebih tinggi agar pemanfaatan lahan lebih efektif.

area parkir diupayakan saling bersambung antara 1 gedung dengan gedung lainnya. sebagian bangunan area parkir masuk ke bawah tanah (basement).
ruang terbuka merupakan hal yang penting untuk berbagai aktivitas sosial penghuni kampus, juga membuat iklim mikro kampus menjadi lebih nyaman. bangunan juga direncanakan tipis agar semua ruangan mendapatkan pencahayaan dan ventilasi alami.


ilustrasi perspektif kawasan kampus timur


 ilustrasi gedung pasca sarjana di kampus barat
ilustrasi perspektif kampus barat dan timur
ilustrasi jalan di dalam kampus dan kolam penampungan air hujan

tampak kampus barat
dialog antara gedung pasca sarjana 12 lantai di kampus barat dan menara pinisi 17 lantai di kampus timur
tampak kampus barat dan timur


tim desain: yu sing, reza prima, benyamin narkan, iwan gunawan
makassar, 26 oktober 2013
yu sing


11.10.13

rumah

Indonesia itu kaya. Katanya. Konon. Dan rakyatnya miskin. Ini pasti.

Tercatat 96 juta rakyat Indonesia harusnya menerima jaminan kesehatan masyarakat dan baru terpenuhi 86 juta orang. Biro Pusat Statistik punya hitungan lain. Hanya 29 jutaan orang yang miskin dengan patokan biaya hidup < Rp 212.000,- per bulan. Itu sih bukan miskin. Tapi sangat miskin! Bahkan yang sangat miskin itupun jumlah sedikit lebih banyak dari seluruh warga negara Malaysia tetangga kita!

Rumah. Kebutuhan dasar. Yang sekarang digadang2 sebagai barang (mewah) investasi. semakin dijual sebagai investasi, harga semakin naik tidak karuan. Pembeli rumah kebanyakan yang sebelumnya sudah punya rumah, tapi ingin investasi. Yang belum punya rumah makin sulit punya rumah. Tidak terjangkau. Rakyat miskin mana bisa investasi? Rumah bukan barang investasi. Rumah itu kebutuhan dasar. Papan. Masih ingat sandang, pangan, papan? Itu loh, 3 kebutuhan primer atau dasar manusia yang lewat buku sekolah keluaran pemerintah kita waktu kecil disuruh menghafal. Tapi apa kita memang bodoh? Negara apakah boleh kita sebut yang sampai hari ini tidak bisa menyediakan kebutuhan dasar bagi rakyatnya?

Dulu, bahkan mungkin sebelum ada negara resmi Republik Indonesia, rakyat yang tinggal di tanah nusantara sudah punya rumah. Ya mereka tidak miskin. Kalau ukurannya kebutuhan dasar. Papan. Rumah-rumah mereka bisa bangun sendiri. Material diambil dari hutan atau lingkungan sekitar mereka. Tidak sedikit kita lihat dan dengar berbagai ritual masyarakat adat ketika mengambil sesuatu dari alam. Mereka bersyukur pada alam yang menyediakan. Mereka memelihara alam. Mengambil seperlunya. Sekarang kita kenal rumah-rumah tradisional yang ingin semuanya kita lestarikan. Beragam.  Indah. Nyaman. Vernakular. Sangat ramah lingkungan. Lestari.

Demikian pula sandang. Mereka bisa membuatnya sendiri. Pakai sesuai yang mereka perlukan. Termasuk juga kain-kain tenun. Sekarang pun kita masih bisa melihat karya2 tangan mereka yang luar biasa indah. Pangan. Mereka menanam. Memelihara. Bekerja. Berburu. Dan menikmati hasilnya. Tanpa pupuk-pupuk kimiawi perusak tanah dan pembuat penyakit bagi tubuh manusia.

Dulu, rakyat nusantara sudah bisa memenuhi kebutuhan dasarnya. Ya, mereka tidak miskin. Kaya. Sekarang. Mereka miskin.. atau dimiskinkan? Sengaja disebut bodoh dan miskin? Dan ditipu pula. Rumah adalah tembok (bata). Kayu bukan rumah. Bambu bukan rumah. Itu sementara. SEMENTARA! Mau punya rumah? Beli! Lantai pakai keramik. Jangan tanah. Rumah jangan panggung. Urug saja rawa-rawa dan lahan-lahan basah. Dirikan rumah di atas tanah. Tapi pakai keramik. Beli semen. Beli atap. Kayu? Bambu? Jangan...awas rayap. Awas, potong kayu itu salah!...Hutan milik negara. Milik pemerintah tepatnya. Tergantung siapa yang memerintah. Yang suka makan kayu, maka kayu habis. Yang suka makan emas, maka emas habis. Yang suka makan air, maka air habis dijual. Rakyat tak dapat air bersih. Beli! Air harus beli. Pakai kemasan steril. Diambil dari mata air terbersih. Yang sudah negara jual. Dan sekarang rakyat harus beli.

Terjadilah. Rumah-rumah seragam di seluruh indonesia. Rumah tembok berlapis semen. Berlapis keramik pula. Dan jendela pakai engsel pabrikan. Dari aceh sampai papua. Dari sabang sampai merauke. Dari miangas sampai pulau rote. Tak peduli pabrik semen ada di mana. Tak peduli pabrik keramik ada di mana. Milik siapa. Tak peduli dibeli dari negeri mana. Beli! Maka kau punya rumah.

Tak punya rumah? Kalian emang miskin! Tak mampu beli rumah. Rakyat dimiskinkan. Tak mampu beli rumah. Ketika membangun rumah sudah lupa dan tak sanggup. Ketika alam sudah tidak dipelihara. Kayu-kayu sudah dimakan penguasa. Bambu hanya alat membangun sementara. Daun...ah, bakarlah itu. Itu bukan atap. Rakyat mulai makan semen. Makan keramik. Makan engsel.

Mulailah ketergantungan. Bukan narkotika....bukan...tapi semen, keramik, engsel. Kadang seng. Kadang paku. Kadang baja. Tak mampu beli semen dan baja, tapi sakau ingin rumah tembok bata. Lupakan sejenak kolom beton, kayu sudah lupa, bangunlah rumah tembok bata. Datanglah gempa. Hancurlah rumah. Gemparlah dunia. Orang miskin harus dibantu. Negara miskin harus dibantu. Ini, beli baja ringan. Beli dinding GRC. Beli gypsum. Beli kusen seolah-olah kayu. BELI!

Apa kata pemerintah? Kayu dan bambu bukan rumah. Tidak permanen. Sementara. Ini kami kasih rumah sementara. Rumah bambu. Nanti rusak, lalu belilah rumah! Beli! Tuh lihat dari luar negeri. Hebat bukan? Anti rayap. Anti karat. Beli! Kalau bangun rumah bukan pakai semen dan tembok, kalian gak bisa dapat kredit dari bank. Maka, lupakanlah yang dulu-dulu. Pakai, beli yang sekarang. Hutan itu milik pemerintah. Tergantung siapa yang memerintah. Sekarang rakyat tahu. Pemerintah suka makan kayu. Dan pakai kayu itu salah.

Tapi sebentar. Lupakan pemerintah. Ingat masa indah dulu. Kita tidak miskin bukan? Dulu kita tak peduli ada pabrik semen, pabrik keramik, baja, engsel, dan segalanya itu. Kita tak pernah dengar kata industri. Memang dulu tak ada pabrik ini itu. Sekarang kita tahu. Industri kita sebetulnya alam kita. Milik Sang Pencipta. Yang menitipkannya untuk kita pelihara, pergunakan, dan lestarikan. Pemerintah kita adalah Sang Pencipta pemberi hidup dan kehidupan. Ya kita TIDAK MISKIN! Kita kaya! Tak pernah kekurangan.
Tanah kita tanah surga. Bukan milik kita. Tapi harus kita kelola untuk semua mahluk. Dan kita bisa punya rumah. Dulu kita juga punya rumah. Orang ambon punya banyak sekali pohon sagu. Yang ditanam lalu tumbuh terus beranak pinak seperti pohon pisang. 1 pohon sagu cukup untuk makan 3 bulan 1 keluarga. Kayu, pelepah daun, & daunnya bisa untuk lantai dinding dan atap. Malah ada masjid wapauwe di maluku yang dibangun tahun 1414 pakai kayu sagu. Jembatan di sangihe, sulawesi utara pakai kayu sagu untuk tulangan betonnya. Sekarang, orang ambon mau makan sagu harus pergi ke restoran di ambon. Pohon sagu ditebang-tebang.

Miskin. Ya kita miskin. Karena kita pembeli. Alam kita lupakan. Menanam kita ga sempat. Kita ingin seragam. Alam indonesia yang menyimpan potensi sangat beragam sudah terlupakan. Rumah kita tak punya. Beli pun susah. Kita menonton. Kita lupa, Sang Pencipta menitipkan alam. Kita dan alam saling bergantung, atas kuasa Sang Pencipta. Mari kembali pelihara. Tanam. Pakai. Temukan. Belajar kembali. Kalau kita perlu alam, yang memberi kenikmatan, kita akan memeliharanya. Sesuai potensi masing-masing. Alam rumah kita. Tak perlu dibuat sama.

Sebentar, dimanakah arsitek?

studio akanoma, padalarang, 11 oktober 2013

yu sing

16.7.13

rusun penjaringan, jakarta vertical kampung


ini merupakan usulan perbaikan rusun penjaringan.
telah ada 13 blok rusun 4-5 lantai yang formal.
penghuni rusun sebagian besar memang tinggal di kampung penjaringan ini, yang terbakar pada tahun 1984 lalu dibangun rusun dan selesai sekitar tahun 1986.

bangunan rusun yang formal telah digunakan dan disesuaikan dengan pola hidup kampung dari warganya, dan sangat mengejutkan di beberapa tempat di kompleks rusun ini telah betul-betul berubah menjadi seperti kampung kembali.

setelah 25 tahun digunakan, ternyata bangunan formal dapat digunakan dengan cara hidup kampung yang informal. masih ada banyak kelebihan lainnya, juga beberapa kekurangan.

desain ini menyikapi kondisi tersebut sekaligus meningkatkan kemungkinan penambahan kepadatan warganya dengan unit2 hunian baru selain unit2 untuk usaha.












































28.6.13

rumah terjangkau untuk semua, kompas 22 mei 2013


Yu Sing
Rumah Terjangkau untuk Semua
KOMPAS/CORNELIUS HELMY HERLAMBANG

Yu Sing

Oleh Cornelius Helmy

Puluhan juta rakyat Indonesia masih hidup dalam kemiskinan. Tak ada waktu dan biaya bagi mereka untuk memikirkan seperti apa hunian yang layak dan nyaman. Lewat proyek filantropis Papan untuk Semua, Prima Rusdi, Mandy Marahimin, dan Yu Sing bersama biro arsitek Akanoma Bandung coba mengubahnya. Rumah berlantai dua dengan konstruksi kayu milik Uay, tukang ojek asal Dago Giri, Bandung, yang baru selesai dibangun membuat perasaan Yu Sing bercampur aduk. Pada satu sisi, ia terharu sekaligus bangga melihat Uay bersama istri dan anaknya bisa hidup lebih layak.

Namun, di sisi lain, ia kembali diingatkan, masih banyak orang Indonesia yang tak punya pilihan. Mereka terpaksa tinggal di rumah reyot karena keterbatasan dana.

Perasaan campur aduk itulah yang memantapkan Yu Sing menekuni proyek filantropis tersebut. Seperti rumah Uay, tujuan mereka adalah membangun rumah yang layak huni dengan dasar arsitektur yang baik. Keterbatasan dana untuk itu berusaha dipenuhi lewat sumbangan masyarakat melalui internet.

”Kami tengah membantu pembangunan rumah milik keluarga Supartono, warga Padalarang, Bandung Barat. Dananya sekitar Rp 30 juta, semoga bisa terlaksana dengan baik,” kata Yu Sing.

Yu Sing bercerita, dia sempat stres serta merasa terjebak rutinitas tugas dan perkuliahan saat menjadi mahasiswa Jurusan Arsitektur, Institut Teknologi Bandung (ITB), beberapa tahun lalu.

Kekhawatirannya memuncak ketika ia menyadari rutinitas itu bisa berujung hanya demi memuaskan masyarakat berkantong tebal. Padahal, sejak awal dia yakin arsitektur ada untuk semua kalangan.

Baru tahun 2008 atau sembilan tahun setelah lulus perguruan tinggi, jawaban pertanyaannya itu mulai tampak. Bermula dari membangun rumahnya di Pharmindo, Cimahi, ia bereksperimen membangun rumah murah dengan perawatan minim.

Lantai rumah seluas sekitar 100 meter persegi hanya disemen dan menggunakan lantai pecahan marmer sisa pabrik. Untuk memudahkan perawatan, kusen jendela menggunakan aluminium. Pintu pun dipasang tanpa kusen. Sementara tangga beton dilapisi kayu pinus bekas peti kemas. Pelat beton itu dibiarkan telanjang tanpa proses akhir. Hanya bagian dinding tertentu yang dicat.

”Untuk luas bangunan 1 meter persegi dibutuhkan biaya Rp 1.500.000. Hasilnya memuaskan walau masih banyak kekurangan ketimbang tinggal di rumah yang sudah disediakan begitu saja oleh pengembang,” katanya.

Pengalaman bahagia itu, menurut Yu Sing, ingin dibagikan dan membawanya pada banyak kerja dengan penerapan pola serupa. Mayoritas desain rumah berbiaya murah, tetapi berkualitas.

Sampai pada 2009 ada penerbit yang tertarik membukukan delapan desain rumah yang pernah dibuatnya. Buku itu berjudul Mimpi Rumah Murah. Biaya pembangunan untuk desain rumah karya Yu Sing itu sebesar Rp 50 juta-Rp 250 juta per unit. Tak lama setelah diterbitkan, setidaknya 40 orang minta dibuatkan desain rumah seperti itu.

Kewalahan dengan permintaan tersebut, Yu Sing lalu meminta bantuan dari rekan arsitek lain yang peduli pada masalah yang sama. Ternyata cukup banyak arsitek yang sejalan dengan pemikirannya. Namun, itu tak berarti semuanya berjalan mulus.

Yu Sing pernah dianggap menyebabkan desain arsitektur tak lagi eksklusif. Biaya murah pembangunan rumah pun berisiko dianggap sebagai desain murahan.

Bahkan, dia sempat berpikir ulang, apakah pilihannya ini bisa digunakan untuk membiayai kehidupan keluarga. Alasannya, ia hanya mendapat penghasilan 3 persen untuk bangunan yang dibuat dengan biaya di bawah Rp 200 juta.

”Namun saya yakin, tujuan baik, jika dijalankan dengan serius akan menghasilkan akhir yang baik juga,” kata pengagum Romo Mangun, pemuka agama sekaligus tokoh arsitek Indonesia itu.

Berciri khas

Karya Romo Mangun, bagi Yu Sing, menjadi semangat setia di jalur ini. Rumah Uay yang menghabiskan dana pembangunan Rp 27 juta, misalnya, dibangun di atas umpak batu dengan konstruksi kayu.

Hal sama diterapkan pada bangunan Gedung Pusat Pelayanan Akademik Universitas Negeri Makassar yang bernilai miliaran rupiah. Ia memasukkan konsep perahu pinisi dan filosofi sulapa eppa dalam bangunan tinggi di Indonesia yang mengadaptasi fasade hiperbolic paraboloid.

”Karakter lokal juga diterapkan di balai ajar berbahan bambu di Desa Tegal Arum, dekat Candi Borobudur. Tempat ini yang dikerjakan dalam gerakan merajut bambu bersama banyak teman arsitek, dosen, dan mahasiswa,” katanya.

Menyebarkan virus

Menemukan satu per satu jawaban dari kegelisahannya tak membuat Yu Sing berpuas diri. Ia berharap bisa menyebarkan virus yang sama kepada rekan sejawat.

Penekanan untuk berpihak pada kebutuhan hunian masyarakat Indonesia menjadi yang utama. Sekitar 96 juta warga menggantungkan hidup pada jaminan kesehatan masyarakat. Artinya, 40 persen warga masih hidup seadanya. Mereka kesulitan mendapatkan akses kebutuhan dasar atas hunian yang sehat dan nyaman.

”Arsitek punya tanggung jawab besar menjawab tantangan ini. Asal mau serius dan berkomitmen, banyak arsitek bisa melakukannya,” katanya.

Yu Sing • Lahir: Bandung, 5 Juli 1976 • Istri: Jane Tanggalung (34) • Anak: Arga Kaleb Prabhaswara (5) • Pendidikan:- SDK 3 BPK Bandung, lulus 1988- SMPK 5 BPK Bandung, 1991- SMAK 1 BPK Bandung, 1994- Jurusan Arsitektur Institut - Teknologi Bandung, 1999

http://cetak.kompas.com/read/2013/05/22/02411262/rumah.terjangkau.untuk.semua