10.8.12

vila embun, ubud bali

Vila ini terletak di ubud, bali. Tiap kali ke bali, setiap hari kita akan melihat ritual doa masyarakat bali. Doa atau sembahyang telah menjadi satu dengan semua kegiatan sehari-hari lainnya. Dalam salah satu tulisan yang saya baca (www.beritabali.com) tentang asal usul nama pulau bali disebutkan seperti demikian, ” dalam kitab Ramayana yang disusun 1.200 SM: "Ada sebuah tempat di timur Dawa Dwipa (yang dimaksud adalah pulau jawa) yang bernama Vali Dwipa, di mana di sana Tuhan diberikan kesenangan oleh penduduknya berupa bebali (sesajen)." Vali Dwipa adalah sebutan untuk Pulau Vali yang kemudian berubah fonem menjadi Pulau Bali atau pulau sesajen. Tidak salah memang interpretasi ini melihat orang Bali memang tidak bisa lepas dari sesajen dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya.”
Tiga unsur yang selalu ada dalam sesajen orang bali yaitu air, api, dan bunga harum. Air menjadi unsur penting di Bali, bukan hanya untuk kebutuhan hidup sehari-hari, tetapi juga menjadi bagian dari spiritualitasnya. Dalam mencari desain vila di ubud ini, akar budaya yang menarik untuk menjadi sumber inspirasi adalah unsur air tersebut. Menurut penjelasan Ben Sarasvati teman saya orang Bali, air dalam sesajen bali itu merupakan air suci yang telah didoakan oleh pemangku/pendeta yang disebut Tirtha. Maknanya adalah pemberkatan dan penyucian.

Di samping lokasi tanah vila ini juga terdapat air suci (yang menurut masyarakat setempat merupakan satu sumber dengan air suci Pura Tirtha Empul di Tampak Siring) yang terletak di bawah pohon beringin yang sudah besar dan terdapat pura di dekatnya. Upacara ritual Mapeed, 10 hari setelah hari raya Kuningan,  juga dilakukan di pura ini. Ritual ini merupakan perwujudan rasa syukur umat Hindu kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa (putusukmana.blogspot.com). Dalam ritual Mapeed, terlihat pemandangan yang menarik berupa iring-iringan ibu-ibu rumah tangga berseragam pakaian adat membawa sesajen di atas kepalanya.


foto: i putu sukmana ghitha
Betapa pentingnya air suci dan berbagai kegiatan upacara ritual di sekitar lokasi lahan ini, semakin mendorong kami untuk mendesain vila yang berunsur air sebagai bagian dari nilai lokal yang spesifik. Tanah ini sebetulnya milik keluarga kerajaan ubud yang semula ingin dijual karena membutuhkan biaya besar untuk memperbaiki dan merawat Puranya. Klien kami ibu stella merasa sayang kalau tanahnya hanya dijual begitu saja, apalagi kalau sampai dimiliki oleh orang asing. Karena itu diusulkan kepada pemilik untuk mengelola tanahnya bersama-sama dengan cara didesain sebagai kompleks vila, tidak hanya dijual sebagai tanah kosong. Sebagai ungkapan rasa hormat dan penghargaan, ibu stella merencanakan ada satu kavling khusus yang akan tetap menjadi pemilik tanah semula. Kemungkinan besar kavling ini akan didesain sebagai vila tipe puri yang modern.

vila embun dilihat dari kolam renang

taman terasering


menara didesain seperti Gebongan, sesajen khas Bali yang terdiri atas rangkaian buah dan sesajen.

ruang santai dengan tangga melingkar sebagai latar belakang (struktur tangga bukan yang sebenarnya, gambar hanya ilustrasi posisi tangga)

ilustrasi kamar tidur vila embun
Vila embun, kami menamakannya seperti itu, karena bentuk vilanya seperti embun atau tetesan air. Di dalam vila embun, kami menitipkan berkat dan penyucian, seperti air suci pada sesajen bali. Setiap orang (diutamakan orang indonesia) yang berkesempatan membeli vila di tempat ini telah diberkati dengan memiliki vila di tanah yang istimewa di ubud, karena itu pula sebagian dananya akan dikumpulkan untuk memberkati ubud (yang masih dicari kemungkinannya akan seperti apa). Diberkati untuk memberkati. Tidak sekedar jual beli.

Komitmen dan paradigma seperti ini membuat kami tim desain lebih yakin dalam mengerjakan desain ini. Beban bahwa tanah ini milik keluarga kerajaan ubud sudah sangat besar, dan semula saya terus ragu-ragu untuk mulai mendesain walaupun tanah dan foto-fotonya telah diperlihatkan. Saya malah mengerjakan desain lain terlebih dahulu yang diberikan klien yang sama, tanah milik rakyat biasa di ubud yang juga membutuhkan uang dan semula ingin menjual tanahnya (soal ini akan diceritakan kemudian). Apalagi kalimat bahwa klien memikirkan tanah ini perlu diusahakan agar dapat memberkati ubud. Semula saya mengusulkan agar memanfaatkan tanahnya untuk fungsi-fungsi pemberdayaan komunitas masyarakat. Namun tidak dapat dipungkiri pula bahwa dana yang cukup besar harus dihasilkan dari tanah ini. 

Dalam mendesain juga tantangannya tidak mudah. Berbagai contoh vila-vila yang dipasarkan di bali menunjukkan bahwa ‘selera pasar’ yang dianut berbagai pengembang kurang memperhatikan desain yang lebih mendalam. Vila-vilanya sangat biasa saja. Ini serupa dengan bahasa pengembang perumahan-perumahan di berbagai kota besar yang menjual rumah-rumah dengan asumsi ‘selera pasar’ yang lebih mudah dijual. Atau seperti sinetron-sinetron tidak bermutu di televisi-televisi di Indonesia yang katanya digemari penonton. Sekedar menjual apa yang disukai walaupun kualitasnya biasa saja atau bahkan tidak baik.

Saya berusaha untuk tidak terjebak dalam kondisi seperti itu. Apalagi visinya terhadap tanah ini sangat tinggi. Desain awal vila embun ini dinilai terlalu berani. Investasinya akan menjadi jauh lebih mahal daripada vila-vila lain yang sedang dipasarkan. Katanya seperti adi busana yang enak dilihat, mengagumkan tetapi sulit untuk dijual atau dipakai. Walaupun pendapat itu menurut saya kurang tepat, di luar sana kita tidak hanya bersaing dengan vila-vila yang biasa-biasa saja tetapi banyak, tetapi juga dengan vila-vila yang hebat walaupun lebih sedikit. Tetapi saya mengerti bahwa perlu banyak penyesuaian terhadap kondisi-kondisi tersebut. Saat ini vila embun akan menjadi tipe khusus, seperti menu spesial yang tidak tercantum di buku menu, yang akan ditawarkan kepada orang tertentu saja. Bukan menjadi menu utama. Entah nanti jadinya seperti apa. Mungkin juga bahkan berubah menjadi fungsi spa dan restoran yang memang disediakan di kompleks vilanya. Tipe-tipe lainnya sedang didesain kembali. Memang ada perubahan skenario pada perencanaan luas masing-masing kavlingnya. Tetapi visi tanah ini dan sistem sumbangsih calon pembeli pada ubud tetap akan bertahan. Semoga visinya akan terus berbuah. Proses ini akan terus berlanjut. Peran arsitek memang tidak mudah. Kadang perlu hati-hati kadang perlu berani.

bandung, 15 april 2012.

Maka desain perlu segera diperbaiki. Desain vila embun perlu disesuaikan menjadi desain vila yang biaya konstruksinya bisa lebih kecil. Kemudian kami mengingat padi. Bali juga salah satu lumbung padi. Sistem pengairan subak sekarang telah diakui unesco sebagai warisan dunia yang penting. Tapi kenyataan lain, sawah-sawah di bali terus berkurang oleh kepentingan pariwisata dan berbagai fasilitas yang mengikutinya. Beruntung lahan vila ini bukan berupa sawah.

Desain vila embun berubah bentuk menjadi lumbung. Tetapi unsur air masih menjadi sumber inspirasi yang tidak kami tinggalkan. Tetesan air masih menjadi bagian yang disederhanakan pada bentuk denah vilanya. Lumbung mengingatkan bahwa sawah di bali juga perlu dilestarikan. Lumbung masih diperlukan. Dan tidak bisa dipisahkan dari air. Kemudian lahirlah 3 tipe vila: purity (120m2 + kolam 30m3), harmony (180 m2 + kolam 40m2), serenity (250 m2 + kolam 50m2). Gambar-gambar lainnya dapat diihat di: www.royaltirtaubud.com

cimahi, 10 agustus 2012


tipe purity denah lantai 1

tipe purity denah lantai 2


tipe harmony denah lantai 1



tipe harmony denah lantai 2




tipe serenity denah lantai 1

tipe serenity denah lantai 2



15.6.12

about yu sing


Yu Sing-architect|Indonesia




Yu Sing was born in Bandung, West Java, Indonesia in 1976. He graduated from Institut Teknologi Bandung in 1999, majoring Architecture Engineering. On that same year he began his career as an Architect by, along with a coleague, establishing Studio Genesis. Then, in 2008, he establish his own independent Architecture Studio called Akanoma (abbreviation of akar anomali; translated as “root of anomaly”). Akar anomali emphasize the studio’s commitment to constantly rooted in Indonesian context of cultures, potentials, and issues.  Yu Sing believes that Architecture is not a priviledge of the rich, instead Architecture should be able to immensely serve all social layers. Therefore, Sudio Akanoma commenced design for affordable houses, with a relatively lower design fee, so that the middle and lower income people may benefit a well-designed house.

While being a dinamic architect, Yu Sing actively writes in blogs and prints. And, in 2009, he published the book “Mimpi Rumah Murah”. He has also given many workshops and seminars in many Indonesian cities (s.a. Bandung, Yogyakarta, Pontianak, Banjarmasin, Lampung, Aceh), engaging students and young architects to cater architecture for all. Moreover, Yu Sing is open for public discussion through his blog, email and other social media accounts. In 2012, working with Prima Rusdi and Mandy Marahimin, via wujudkan.com crowdfunding, he initiated a phylantropic project “Papan untuk Semua” which works in people’s housing and public spaces reaching out to low income society.

Presented Architecture Workshops:

1.       Affordable Houses Design Workshop and Guest Lecture on Socializing Architecture, Universitas Sebelas Maret Surakarta, 21-22 October 2009

2.       Architecture Course: Public Space Development in Urban Village (West Pamulang), Institut Teknologi Indonesia, 3-5 June 2011

3.       MAAN Mentok Tin Mining City: ‘Exile’ City as a Process Towards Unique and Specific Ecotourism, Mentok, Bangka Island, 20-28 July 2011

4.       Joint Design Studi Indonesia-Japan 2011, Design Intervetion for Sensible High Density Urban Kampung of Megacities, Department of Architecture Faculty of Engineering University of Indonesia, Research Institute of Humanity and Nature (RIHN) Kyoto, Chiba University, The University of Tokyo, Tokyo University of Science, 08-18 September 2011.

As member of Architecture Competition’s board of jury:

1.       Sayembara Rumah Rakyat 2009, Studio Habitat Indonesia, 2009.

2.   Sayembara Penataan Kampung Pinggir Kali Brantas, Malang, East Java area Architecture Students, 2010.

3.     Sayembara Rumah Murah Sehat, Rumah Ide Series and Gramedia Pustaka Utama, 2010.

4.      Sayembara Desain Rumah Tinggal di Kampung Kota, “Housing Solution for a Better Living at Pademangan”, Universitas Trisakti, 2010.

5.      Sayembara Balai Pekumpulan Warga Kampung Layur, Semarang, Universitas Katolik Soegiyapranata, Semarang, 2011.

6.     Sayembara Rumah Tropis Nusantara di Kampung Kota, Universitas Brawijaya, Malang, 2011.

7.       Laras Award 2011 (in absentia).

8.     Sayembara Penataan Pedagang Kaki Lima di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, Bandung, Universitas Parahyangan, 2015.

Awards:
2016.

  • Green Leadership Award from BCI Asia; work: Environmental Center Ocean Of Life Indonesia, Watu Kodok, Gunung Kidul, Yogyakarta.
2015.
  • 3rd Place, Citation Of Excellent Architectural Design Reflecting East Asian Identity; work: Wikasatrian (Wika Leadership Center)
  • Winner,  Holcim Awards Indonesia 2015 for Sustainable Construction; work: Ocean Of Life Indonesia, Watu Kodok, Gunung Kidul, Yogyakarta.
  • 2nd Place, Propan Desa Wisata Nusantara Competition; work: strategy concept for Desa Wisata Sembalun Lawang, Lombok, NTB.
  • Tempo Property Award (Hunian Ramah Lingkungan) 2015; works: Taman Tengah Griya Mitra Insani 2 Complex, Cibubur; Puzzle House, West Jakarta; Stilts House, Kelapa Gading, North Jakarta.
2012
  • Winner, Closed Competition (invitee) Wikasatrian (Wika Leadership Center), Pasir Angin, Gadog, Bogor.

2011.
  •  4th Place, Orangutan Research Station Design Competition, West Kalimantan


2010. 
  • 3rd Place, FuturArc Prize 2010 International Competition (A Prototype for Ecological Living): Oasis Social Housing.


2009.
  • Winner, Holcim Award Indonesia 2009 for sustainable Construction; work: Caringin Family ‘Village’ Improvement.
  • Winner, Center of Academic Building Design Competition, Universitas Negeri Makassar; work: Menara Phinisi.
  • Winner, no-reward competition (www.rujak.org); work: co-Housing: 1 house for 4 middle class families.

2008.
  • 5th Place, Universitas Gajahmada Academic Hospital Design Competition, Yogyakarta.
  • 3rd Place, Indogress Façade and Interior Design Competition, Tangerang.

2007.
  • Finalist, closed competition of BPK Penabur International School, Banda, Bandung.
  • 6th Place, Borobudur Park Design Competition, Jakarta; team: Oky Kusprianto
  • Winner, Jakarta Design Center Façade Design Competition.
  • Top 10, Rumah Ide façade Competition.

2006.
  • 3rd Place, Taman Rakyat Cimahi Design Competition

2004.
  • Winner, closed competition BPK Penabur International School, Bahureksa, Bandung.
  • 2nd Place, competition BPK Penabur International School, Singgasana Pradana, Bandung.

1999.
  • Winner, closed competition Gereja Kristen Indonesia Anugerah, Bandung; team: Yohan Tirtawijaya, Herjagus Kurnia, Anton Jo.




3.6.12

Gotong royong untuk dan bersama kampung kita, Indonesia.


Gotong royong merajut bambu (di desa wanurejo dan tegal arum, borobudur) telah usai. Saya ikut mengucapkan rasa haru, penghargaan yang besar, dan terima kasih kepada semua relawan, sekitar 300 orang yang kebanyakan mahasiswa arsitektur, atas jerih lelah semangat keterlibatan teman-teman semua. Apa yang kita lakukan, seperti kata pak anies baswedan yang sempat berkunjung, mungkin saja titik yang penting bagi hidup kita kelak (saya gunakan kata ‘titik yang penting’ untuk mengganti kata ‘sejarah’ yang dipakai pak anies. Kata sejarah tidak akan terjadi bila merajut bambu berhenti sampai di sini saja). Saya yakin bahwa ini adalah awal mula mimpi besar dan tekad yang selama ini dibangun bersama.

Saya kira semua kita setuju betapa besar potensi desa yang kita kunjungi (begitu juga desa-desa lain yang pernah kita singgahi). Namun hampir selalu setiap kali berkunjung ke desa, kita melihat kemiskinan hadir sangat nyata di sana. Semangat masyarakat seperti terusik ketika kita hadir, dengan optimisme, karya dan upaya, berpikir, apa dan kenapa. Kenapa desa-desa penuh potensi alam, budaya, dan keramahan masyarakatnya terperangkap kemiskinan. Apa yang bisa kita pikirkan dan lakukan?

Berpikir saja untuk mereka, sebetulnya adalah tanggung jawab kita bersama. Semua kita adalah satu keluarga besar yang bhinneka. Sangat jarang kita (mahasiswa arsitektur, arsitek, dan dosen kampus arsitektur) terjun bersama bagi masyarakat. Pada saat itu kita telah tunggal ika! Tanpa sikap meninggikan diri. Atribut kita tanggalkan. Walaupun sulit mengukur isi hati, namun saya melihat kepentingan masyarakat menjadi yang utama dalam semua upaya yang bersama kita lakukan.

Bila saja ini menjadi titik awal yang terus menyebar, semua relawan membawa berita dan semangat ini ke tempat masing-masing, mengajak teman-teman lain berpikir dan berkarya apa dan kenapa, saya yakin perangkap kemiskinan itu bisa dibongkar. Masyarakat berbinar penuh semangat ketika berinteraksi dengan kita. Penuh harap. Namun kita sangat kurang berpikir dan berkarya apa dan kenapa itu tadi untuk mereka. Kampus-kampus yang penuh dengan orang-orang beruntung dapat menikmati pendidikan sampai tinggi, perlu kembali menjadi bhinneka tunggal ika. Bukan hanya menerima kebhinnekaan saja. Tapi berkarya bersama, tunggal ika, bagi keluarga besar bersama, masyarakat indonesia di mana saja.

Kegagalan upaya selama ini, saya melihat karena seringkali peran kita hanya sedikit, sesaat, sementara, lalu kita tinggalkan kembali. Kuliah kerja nyata misalnya. Belum bisa membongkar perangkap kemiskinan itu. Persinggungan kampus dengan masyarakat miskin lebih banyak berhenti di tulisan berjudul penelitian. Kita lebih suka berpikir tinggi-tinggi sampai langit, namun lupa bumi tanah kita berpijak penuh persoalan mendasar hidup sehari-hari.
Merajut bambu seribu candi ini, mudah-mudahan baru saja awal mula kebangkitan! Bangun dari tidur! Membuka mata kepedulian untuk merajut bambu-bambu masyarakat, demi membangun candi-candi kemandirian dan kekuatan membongkar perangkap kemiskinan. Ini adalah ujian kita! Konsistensi! Mendampingi masyarakat adalah tanggung jawab kita atas ilmu dan kesempatan pengalaman duduk di bangku kuliah. Ilmu yang hanya berguna untuk diri sendiri bukanlah ilmu. Upaya hidup hanya untuk diri sendiri bukanlah kodrat mahluk hidup.

Saya mengabarkan bahwa bapak-bapak penggagas merajut bambu seribu candi ini tidak mau berhenti sampai di sini. Upaya ini sedang dan harus diteruskan. Seringkali godaan untuk berbuat sedikit hal di banyak tempat berdatangan. Tetapi tantangan kita sesungguhnya adalah berbuat banyak hal di sedikit tempat saja dulu. Borobudur telah menyatukan bhinneka kita menjadi tunggal ika. Di sana kita perlu terus berupaya sampai meraih kemandirian dan kekuatan masyarakat. Upaya-upaya lain di tempat lain memang perlu juga ditebarkan benihnya atau siapkan tanahnya dulu sebelum ditanami. Tapi memelihara benih yang telah ditanam tidak boleh dilupakan. Pohon itu harus tumbuh sehat dan kuat.

Ingat saja ‘kampung kita’. Jaringan antar kampus dan komunitas yang telah dideklarasikan bersama untuk mendampingi kampung-kampung agar bisa memperoleh kelestarian dalam berbagai hal kehidupan. Ke kampung atau desa mana saja yang kita lalui atau singgahi, itu adalah kampung kita. Apa dan kenapa kita. Keluarga kita bersama. Kampung kita. Asal kita mau saja, lain-lain akan melengkapi mampu kita. Kembalinya teman-teman relawan ke kampus masing-masing,membawa virus-virus mau ini. Tularkan saja. Sebarkan. Mari kembali ke kampung kita. Dengan cara gotong royong seperti yang sering kita ucapkan. Sekarang mari sering-sering kita lakukan. Gotong royong! Untuk dan bersama kampung kita! Indonesia.

bandung, 5 mei 2012
yu sing
kepompong terbang

kemewahan dari kesederhanaan dan ketulusan


Kemarin dan hari ini saya mengalami saat sangat istimewa. Di depan candi pawon, dekat candi borobudur, mata saya tertuju kepada rangka atap rumah dusun yang terbuat dari bilah-bilah bambu petung yang dipasang berdiri. Segera saja saya berkenalan dengan mas dhamar pemilik rumahnya. Bambu-bambu itu telah 20 tahun di sana, mas dhamar ikut merangkainya dan memasang bersama-sama warga satu rt. Gotong royong. Saya sama sekali tak menyangka, mas dhamar yang terlihat sangat muda, sudah berusia banyak kata istrinya, 40 tahun lebih.

Baru saja berkenalan, bersama pak paulus mintarga dan mas adi purnomo yang juga ikut kagum pada kaso bambu-bambu dan cara pemasangannya itu, mas dhamar bercerita lebih banyak tentang rumahnya dan mengajak kami masuk ke halaman lebih dalam. Di sana masih ada sumur senggot, sumur tua yang masih dipertahankan. Istimewanya sumur ini adalah tali timbanya tidak pakai tali, tapi pakai batang bambu yang sangat panjang sampai kira-kira 8 meter! Malah mungkin sampai 10 meter, engsel di ketinggian sekitar 4 meter dari tanah membuat keseimbangan timba bambu panjang itu menjadi ringan. Panjangnya bilah bambu itu menggantikan tali untuk menggantung ember seng sampai ke muka air sumur yang cukup dalam.

Air yang telah ditimba, diguyurkan ke dalam pipa bambu yang satu sisinya menempel tanah. Bambu itu jenis bambu ampel. Asal ujung bambu itu menyentuh tanah, bukan tertanam, maka bambu ampel masih terus hidup. Terlihat dari tunas-tunasnya yang tumbuh di batang pipa bambu itu. Luar biasa! Pipa bambu menjadi awet karena masih hidup, tidak mengering. Walaupun tiap hari diterpa sinar matahari dan dipakai untuk mengalirkan air yang dipakai untuk cuci kaki-tangan atau muka. Seperti hampir sama dengan pohon bambu yang masih hidup.

Di depan rumah ada 2 pohon kelapa seperti gerbang. Ternyata keluarga mas dhamar satu-satunya keluarga di dusun itu yang masih membuat gula kelapa. Kami dipersilakan mencicipi sambil disuguhi teh panas. Sambil masuk ke ruang makan melalui pawon/dapur. Pawonnya sangat sederhana. Seperti pawon rumah-rumah di dusun umumnya yang tidak genit ingin seperti kota. Lantai masih semen berdinding gedek bambu dan tungku-tungku tempat masak berjejer. Tungku-tungku tanah liat yang menggunakan kayu bakar itu sebagai tempat membuat gula jawa kelapa dan masakan-masakan lainnya.

Walaupun baru kenal, kami dipersilakan duduk di ruang makan di samping pawon itu. Teh panas gula kelapa ditemani cemilan rangginang, emping, dan gorengan. Kami dilayani seperti tamu terhormat di hotel mewah. Sambil bertanya-tanya, terungkaplah bahwa rumah dusun mas dhamar ini memang hotel mewah sangat mahal. Bukan hotel sesungguhnya. Tetapi menjadi tempat wisata tamu-tamu hotel amanjiwo yang harga kamarnya sebelas jutaan rupiah. Dan pawon sederhana itulah tempat romantic dinner nya! Berbagai tamu wisatawan asing telah menikmati makan malam romantis di pawon sederhana yang istimewa ini.

Entah bagaimana, begitu masuk ke sana, dengan keramah tamahan mas dhamar yang sangat luar biasa, kami langsung betah berlama-lama di sana. Diskusi penting kelanjutan kegiatan merajut bambu seribu candi, upaya kemanusiaan bersama relawan mahasiswa dan arsitek untuk berinisiatif mencari peluang membantu masyarakat dusun berkehidupan lebih baik, segera saja berlangsung di sana. Kesederhanaan yang sangat mewah. Dari pawon, menuju impian-harapan-tekad bagi kelestarian dan kesejahteraan dusun (-dusun di indonesia). Saat istimewa bersama pak josef prijotomo, pak eko prawoto dan ibu, pak galih widjil pangarsa, pak paulus mintarga, mas adi purnomo.

Borobudur, 29 april 2012
yu sing
pawon yang juga tempat romantic dinner

diskusi pawon

bekal bertukang

hari minggu kemarin kami gotong royong bersama warga untuk membangun instalasi media ruang balai ajar tegal arum (lihat catatan sebelumnya 'balai ajar tegal arum, panggilan borobudur'). Sejak pagi hari gotong royong dimulai dengan membersihkan lokasi dari pepohonan salak yang sudah tidak produktif. Halaman kebun milik salah seorang tokoh warga akan digunakan untuk manfaat yang lebih banyak. Balai ajar multifungsi untuk warga desa tegal arum borobudur. 

Setelah lahan siap lebih bersih, saya dan teman2 relawan arsitek dan kebanyakan mahasiswa arsitektur mulai proses membangun. Sebagian bambu-bambu di lokasi ternyata belum diawetkan sama sekali. Maka harus mengambil bambu-bambu terlebih dahulu di posko di desa wanurejo yang telah diawetkan secara sederhana dengan memberi campuran premium dan solar lalu dipanaskan. 

Warga ikut membantu. Relawan mahasiswa yang kebanyakan dari malang lebih banyak berperan dalam proses konstruksinya. Semula saya tidak yakin dan kurang puas karena tidak ada tukang yang mendampingi. Peran utama justru dilakukan oleh para mahasiswa. Saya terpaksa jadi mandor dadakan karena tidak bisa bertukang. 

Setelah diskusi, mengukur, memecahkan beberapa batang bambu, mencari sistem konstruksi lain, memilih bambu, mengikat, memotong, naik pohon, dan lain-lain, perlahan-lahan saya mulai terkagum. Teman-teman mahasiswa ini cukup hebat bertukang. Juga hebat berpikir mencari jalan keluar lagi ketika cara sebelumnya gagal dan alat-alat perlengkapan sangat kurang dan belum tersedia. 

Akhirnya kami sampai lembur melanjutkan konstruksi setelah beristirahat sejenak dan mempersiapkan perlengkapan yang diperlukan. Tanpa mengeluh, bahkan lebih gesit dari siang hari, kami melanjutkan konstruksi sampai jam 1 dini hari tadi. Sebagian relawan mahasiswi juga ikut membantu mengawetkan bambu-bambu yang akan digunakan hari-hari selanjutnya. 

Bekal bertukang untuk mahasiswa arsitektur (juga mungkin sipil atau bahkan jurusan lainnya) saya rasakan sangat penting. Bila memang ingin memberikan banyak sumbangsih karya dan tenaga bagi masyarakat yang masih sangat membutuhkan bantuan, pendampingan, juga perhatian. Satu hal yang juga tidak terpikirkan, rumah-rumah warga di borobudur, situs penting salah satu warisan dunia, kebanyakan belum punya kamar mandi di rumahnya. Seorang warga yang punya kamar mandipun, rumahnya masih berlantai tanah yang tidak rata. Ini saya ketahui ketika menumpang buang air kecil di sana. 

Bekal bertukang ternyata didapat sebagian besar mahasiswa dari malang itu ketika ospek selama setahun (satu semester?) bekerja bakti di desa-desa. Arsitek bukan hanya bisa membuat karya besar, tetapi juga bisa membuat kehidupan yang lebih baik. Mahasiswa tidak hanya berdemo, tapi juga bergotong royong. Masyarakat kecil masih teramat banyak. Bantuan masih akan terus diperlukan. 

Terima kasih untuk teman-teman relawan yang kemarin ikut membantu. Mohon maaf kalau saya sempat menjadi mandor yang galak, berkali-kali salah sehingga sebagian proses konstruksi harus berulang-ulang, serta minta teman-teman untuk terus bekerja daripada bersantai sejenak menikmati kebersamaan di kebun. Suguhan pecel, gorengan, dan kelapa baru petik dari warga kemarin siang memberikan kesegaran dan menurunkan ketegangan saya sebelumnya. 

yogyakarta, 23 april 2012 
yu sing 

23.4.12

balai ajar tegal arum, panggilan borobudur


Dalam perjalanan ke borobudur sabtu kemarin, setelah memberikan seminar singkat di universitas negeri semarang tentang mengupayakan arsitektur untuk kelestarian alam, budaya, lingkungan, sambil terkantuk-kantuk setengah tertidur setengah bangun tersuguhi pemandangan luar biasa indah persawahan terasering dengan latar belakang perbukitan antara salatiga dan magelang, tiba-tiba saja saya terigat balai ajar tegal arum. Salah satu program untuk ‘merajut bambu seribu candi untuk kemanusiaan’ di desa-desa sekitar borobudur.

Sebelumnya saya tidak pernah ke tegal arum, tidak tahu lokasi seperti apa, hanya membaca laporan2 estafet dari yang bertugas di lokasi tentang proses perlunya balai ajar ini, yang desainnya belum juga diputuskan secara pasti. Dalam waktu sesaat antara sadar dan tidak itu (karena kurang tidur), tergambar di benak tentang instalasi balai ajar yang mengelilingi sebuah pohon.



sketsa potongan instalasi media ruang stupa payung

Bentuknya seperti stupa, tetapi stupa yang telah terbuka, sebagian dindingnya terangkat ke atas menjadi atap. Pohon di tengah sebagai puncak stupa. Juga seperti payung, sebagian payungnya menukik sampai ke tanah. Stupa sebagai payung untuk warga yang akan beraktivitas di bawahnya.

Sesampai di lokasi, berbagai kemungkinan masih belum pasti berhubungan dengan lokasi lahan balai ajar. Tapi sepintas saya sudah melihat ternyata memang di dua alternatif kemungkinan lokasi itu ada pohon besar. Setelah diputuskan oleh warga tegal arum malam sabtu, minggu pagi kami langsung ke lokasi. Sabtu malam teman-teman relawan dipimpin chairil, arsitek lulusan malang, telah membuat maketnya, setelah berkonsultasi lewat telepon dengan pak paulus mintarga tentang desain instalasi balai ajar ini. Minggu pagi itu saya hanya memperbaikinya sedikit saja.



maket stupa payung

Maket dibawa dan ditunjukkan kepada warga yang sedang kerja bakti mempersiapkan lokasi balai ajar ini, saya menyusul kemudian. Sampai di sana, lokasi sudah mulai bersih, lalu terpampanglah di hadapan saya halaman berupa kebun yang cukup luas dengan pepohonan di dalamnya. Satu pohon agak di tepi tempat masuk. Lahannya persis sesuai ukuran stupa payung yang telah dibuat sebelumnya, walaupun lahan ini sebetulnya bukan yang kami ukur sabtu sore kemarin itu.

Saya dan teman2 relawan, arsitek dan kebanyakan mahasiswa, sangat dibantu beberapa orang warga. Mereka melihat maket pertama kalinya dan langsung merespon, tidak menolak, tetapi memberikan usulan lain. Stupa payung tidak bisa atau tidak cukup untuk balai ajar. Pak priyatno (prayitno?) bilang bahwa warga akan bingung, ini apa? Tidak seperti bangunan. Sebaiknya ada satu lagi. Ini difungsikan saja seperti panggung. Di sekelilingnya ada bangunan lain tempat warga beraktivitas, menghadap panggung. Selain untuk belajar, ini juga bisa difungsikan untuk aktivitas seni budaya warga yang telah lama tidak berjalan.

Secara luar biasa, pak priyatno memberikan arahan2 yang memperbaiki inisiatif saya ketika itu, tentang sudut pandang dan posisi stupa payung. Saya terkejut karena arahan-arahannya sangat tepat, sesuai konteks lahan dan hubungannya dengan kondisi lingkungan sekitar, sampai saya berujar: ‘bapak arsitek ya?”. Semua arahannya detail, posisi stupa payung diposisikan agak miring terhadap lahan, sudut lahan sebagai tempat masuk disambut stupa payung yang bagian payungnya akan menjadi gerbang penyambut. Aksisnya dari pohon sebagai pusat stupa payung ke sudut bangunan di samping mushola, agak ke timur di seberang lahan ini yang sebelumnya akan dipakai untuk lokasi balai ajar ini.

Dan kemudian ide bangunan lain, secara spontan akan berupa bangunan atap agak melingkar menghadap ke stupa payung. Sudut barat daya akan terbuka sesuai arahan pak prayitno agar rumah di sana dan jalan di selatan lahan bisa menjadi tempat untuk warga juga menikmati kegiatan di panggung stupa payung ini. Saya, chairil (yang sangat terampil dan banyak membantu untuk memimpin dan memikirkan teknis konstruksinya), teman-teman relawan lain, ada samuel, rojin, robani, rozali, juan, malik, yopie, suryo, dika, dan lain-lain yang tidak semua saya ingat (kemudian yudi , najib, dan kawan-kawan juga menyusul malamnya membantu konstruksi) membuat corat-coret panduan di tanah untuk ukuran stupa payung. Setelah selesai, segera ditentukan posisi balai ajarnya dan sambil makan kelapa yang baru dipetik saya berdikusi dengan malik, mahasiswa dari itenas, tentang penjor usulan atau pertanyaan malik kepada saya sebagai dinding balai ajar. Desain atap balai ajar segera saya ubah, dindingnya menyatu dengan atapnya akan berupa deretan penjor melengkung. Pohon pusat stupa payung sebagai pusat lingkaran ruang balai ajar. Dan secara mengejutkan, di lokasi telah ada sekitar 6 pohon yang posisinya persis sesuai dengan lingkaran yang dibuat di tanah.


sketsa  rencana tapak dan potongan balai ajar


hasil kerja tanpa tukang seharian, malamnya dilanjutkan kembali. pohon nangka di sudut kanan depan sebagai titik pusat stupa payung (2 kolom telah terpasang) dan balai ajar (satu penjor sebagai dinding atap telah terpasang, dengan balok-balok bambu ganda yang terikat pada pohon-pohon di bagian bawahnya

Pohon-pohon itu seperti telah sengaja ditanam di sana bertahun-tahun dan puluhan tahun sebelumnya untuk menjadi kolom kolom  balai ajar dengan stupa payungnya yang akan dibuat spontan hari ini. Mungkin, ketika setengah sadar di perjalanan itu, borobudur telah memanggil, mengirimkan inspirasi, mempersiapkan agar instalasi media ruang balai ajar tegal arum dapat segera dibangun esok harinya.

borobudur, 23 april 2012
yu sing


setelah 29 april…
masih tetap berjalan proses pembangunan baleajar di dusun tegalwangi, tegalarum. desain partisipatif yang dilakukan bersama-sama disempurnakan seiring berjalan waktu dan setelah 29 april, pelaksanaan didampingi mas hairil. berikut foto-foto proses baleajar. berikut apa yang disampaikan mas hairil:
"Balai Ajar Tegal Arum per kamis 10 Mei 2012
ada sedikit perubahan pada detail, misalnya seperti yang terlihat pada foto nomor 8, itu kan awalnya langsung diikatkan pada pohon, saya ubah seperti itu dengan alasan teknis saja, meratakan bambu agar nantinya mempermudah pemasangan reng atau bilah…
penjor pada payung bagian depan saya tambahkan lagi agar kesan pembentukan bidang atap lebih terasa…
lalu rencananya payung bagian belakang dijadikan ruang tertutup untuk menggantikan dome yang sebelumnya dibongkar…
lincak yang pada awalnya agak melengkung di bagian belakang diratakan, ini atas saran dari warga, agar duduknya lebih nyaman saja…"

dalam proses konstruksi, memang ada banyak perbaikan desain atas partisipasi dari pak eko prawoto, pak paulus mintarga, pak josef prijotomo, warga desa tegal arum, dan terutama peran luar biasa m.hairil juna putra yang terus mendampingi dan melakukan proses konstruksi serta memperbaiki dan melengkapi desain di lapangan bersama 1 orang tukang dan beberapa orang warga. foto-foto berikutnya dikirimkan ke email saya 30 mei 2012 oleh m. hairil juna putra. penjelasan foto oleh pak galih w pangarsa.



Siapa yang paling berhak atas nama? Pencantuman nama adalah untuk tanggungan-jawab arsitek, bukan popularitas

Pernaungan telah diberikan alam, manusia hanya perlu menambah sesuai kebutuhannya. Berlebihankah kita?

Yang canggih atau yang sahaja, intinya bagai rajutan. Ber-arsitektur, mesti merajut potensi, bergotong-royong

Arsitektur tidak akan bermanfaat, bila tak diiringi pengelolaan/pembinaan yg ketat 

Indahnya arsitektur juga ada pada energi-otot pelaku konstruksi, bukan hanya pada jejak energi-kreatif arsitek 

Pohon, bukan hanya unsur lansekap pada bahan bangunan. Tapi juga bisa berfungsi sebagai “living” kolom

Dalam keputusan desain, terkadang pertimbangan estetik mesti berdamai dengan keterbatasan waktu & biaya

Manusia tinggal “menindak-lanjuti” keindahan alam dengan bijak. Jika sudah ada kanopi pohon; tinggal memperkuat saja

Di hadapan sifat bahan konstruksi yg ringkih. Patutkah mns menyombongkan teknologi logikanya? 

Dengan arsitekturnya, manusia seperti menulis 1 rangkaian huruf pada “buku” yg sudah ada, yaitu alam. Bisa serasikah?

Garis2 bambu: bisakah serasi dg pepohonan yg tumbuh alami? Serasi bukan serupa, tapi juga bisa kontras

Ritme yg manusia susun hanya dapat mirip alam. Arsitek bukan “Pencipta”, tapi perajut unsur alam 

Bambu yg disusun terbalik. Secara visual OK. Sebaiknya, tata-energi meta-fisikanya diteliti lanjut 

Semoga anak Indonesia makin berpeluang untuk belajar (yang benar-baik-indah), pengajar muda mempelopori

Arsitek dituntut memikirkan kemudahan perawatan, bukan hanya kejar estetika 

Arsitek akhirnya merajut ruang dengan menetapkan batas2 yang disusun oleh berbagai unsur fisik  

Arsitek mesti kenali semua unsur fisik yg ditatanya. Misal, seberapa banyak pohon gerak bila kena angin? 

Arsitek juga mesti jeli antisipasi pepohonan. Misal, bagaimana resiko buah dan daun kelapa menimpa atap? 

Arsitek juga mesti “berdamai” dg pepohonan. Misal, bagaimana resiko sampah rontokan daun? 

Di Nusantara 2 musim, cukuplah buat pernaungan, bukan perlindungan seperti di daerah 4 musim 
Arsitektur Nusantara = ruang luar. Tak perlu “AC-tektur”. AC hanya solusi darurat 


Kepentingan perawatan adalah bagian dari mendedikasikan arsitektur untuk kemanusiaan, untuk warga 

Komposisi arsitektur yang baik adalah yang bisa merespon dinamika pandangan & gerakan dari berbagai skala 

Arsitek berkarya untuk diri sndiri atau untuk masyarakat? Tergantung arah hidup: manfaatkah ia untuk manusia & alam?